Sama-sama

Kebiasaan kita kalau diucapkan terima kasih, kita menjawab “sama-sama.” Itu artinya kita juga mengucapkan terima kasih. Kadang dijawab pula dengan lebih lugas, “terima kasih juga.” Jawaban ini terkesan aneh, sebab kalau kita memang bersedia membantu orang lain, untuk apa kita berterima kasih?

Ada jawaban lain dari ucapan terima kasih, yaitu  “oke” atau “tidak perlu sungkan.” Jawaban ini adalah ekspresi non formal, biasa diucapkan kepada orang yang sangat kita kenal. Ekspresi ini juga sepertinya cocok disampaikan oleh atasan kepada bawahannya. Namun untuk ekspresi yang formal atau memperlihat kesan unggah-ungguh, “sama-sama” adalah jawaban pakemnya.

Karena kesan yang aneh itu, dulu saya enggan menjawab ucapan terima kasih dari seseorang dengan jawaban “sama-sama.” Untuk apa, lah wong saya memang membantu kok, kenapa saya mengucapkan terima kasih juga? Untuk ragam non formal, saya selalu menjawab dengan “oke” atau “tidak perlu sungkan” itu. Untuk ragam formal, saya berusaha menjawab dengan “dengan senang hati.” Yang terakhir ini adalah gaya orang berbahasa Inggris, mereka biasa menjawab “my pleasure,” pas sekali diterjemahkan menjadi “dengan senang hati.”

Kebiasaan menjawab “sama-sama” itu tampaknya adalah khas orang Indonesia semata. Orang di wilayah kebudayaan lain sepertinya tidak pernah menjawab seperti itu. Orang berbahasa Inggris, selain my pleasure, kadang menjawab dengan you’re welcome, no problem, I’m happy to help, no bother, it’s ok, anytime, atau lain-lain. Semua jawaban itu tidak ada yang memberi kesan menyampaikan terima kasih juga, seperti jawaban orang Indonesia di atas.

Orang Arab punya budaya yang tidak kalah unik. Untuk menjawab ucapan terima kasih mereka biasa menjawab ‘afwan atau al-‘afwu. Kata ini secara harfiah berarti “maaf”, namun maksudnya mirip “tidak perlu sungkan” dalam bahasa Indonesia atau mirip no problem serta no bother dalam Bahasa Inggris.

Jawaban orang Arab ini unik sebab seolah mereka menjawab begini: “Maaf, Anda tidak perlu repot-repot berterima kasih.” Kalimat itu hanya disingkat menjadi ‘afwan atau al-‘afwu. Keren juga.

Hanya saja, perlu diingatkan kembali di sini, mereka tidak mengucapkan balasan terima kasih seperti kebiasaan orang Indonesia. Jika kita mencari di Google jawaban ucapan terima kasih dalam bahasa Arab ini, semuanya menerjemahkannya jadi “sama-sama”. Jadi terjemahannya tidak harfiah, melainkan diterjemahkan sesuai dengan kebudayaan orang Indonesia. Nah, itu wajar, sebab ada kaidah, “menerjemah adalah tindakan memindah budaya.” Itu contoh yang pas sekali.

Sejauh ini hanya dua bahasa ini yang bisa saya sebutkan. Mungkin ada di dunia sana yang menjawab ucapan terima kasih dengan cara yang mirip orang Indonesia: “sama-sama”. Mungkin saja, sebab saya tidak tahu semua bahasa dan kebiasaan mereka. Namun satu hal yang jelas, jawaban seperti itu terkesan aneh.

Terakhir, jika dulu saya enggan menjawab ucapan terima kasih dengan jawaban “sama-sama”, kini saya bersedia melakukannya. Saya sudah berubah.

Alasan saya sederhana. Jawaban seperti itu memang terkesan aneh, namun karena itu adalah konvensi kebudayaan Indonesia maka tidak ada salahnya meskipun aneh. Di antara semua kebudayaan atau adat kebiasaan di bahwa kolong langit ini, mana ada yang sama sekali bebas dari keanehan. Tidak terkecuali kebiasaan orang berbahasa Inggris atau Arab. Dengan cara ini, semoga saya bisa lebih menghargai kebudayaan dan adat kebiasaan sendiri. Semoga.[]

Sumber gambar: pinterest

Gemar Istilah Baru

Seiring adanya borang baru untuk akreditasi perguruan tinggi, ternyata di situ masih terbawa juga watak umum masyarakat kita yang gemar akan istilah baru. Ada beberapa hal yang sebetulnya “masih itu-itu saja” tapi dikemas dengan istilah baru.

Begitulah yang sekilas terlihat di Istrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) yang baru, yakni versi 4.0.  Dulu namanya “fakultas”, kini diganti menjadi UPPS (Unit Pengelola Program Studi). Dulu Program Studi disingkat menjadi prodi, kini tiba-tiba disingkat menjadi PS. Jika dulu bernama Renstra (rencana strategis) dan Renop (Rencana Operasional), kini diganti menjadi Strategi Pengembangan dan Program Keberlanjutan.

Tidak jelas juga apa alasan pencantuman istilah baru itu. Apakah pergantian nama itu berarti perbaikan makna? Apakah ada konsep baru yang hendak diwakili dalam nama baru itu? Tidak jelas. BAN-PT tidak melakukan sosialisasi mengenai alasan di balik pergantian nama-nama itu di webnya. Di Panduan Penyusunan Laporan Evaluasi Diri pun tidak disebutkan alasan-alasannya.

Pihak perguruan tinggi yang harus menyetorkan laporan ke Ban-PT dituntut untuk menafsirkan sendiri kenapa perubahan nama itu dilakukan. Dengan demikian, tidak berlebihan kiranya jika hal itu ditafsirkan sebagai sekadar kegemaran umum di masyarakat kita terhadap istilah baru.

Kegemaran akan istilah asing di masyarakat kita sering terlihat di kehidupan sehari-hari. Misalnya, akhiran “sasi” lebih digemari ketimbang padanan bahasa Indonesianya, sehingga frase program tamanisasi desa dianggap lebih keren daripada program perluasan taman di desa. Di lain waktu, muncul juga frase kriminalisasi ulama yang dianggap lebih elok daripada pemidanaan ulama.

Fenomena itu kemudian menjadi terkesan lucu berkat perkataan Vicky Prasetyo yang dulu sempat heboh di media sosial. Vicky melontarkan ucapan-ucapan “keren”dengan serampangan tanpa keterpautan makna satu sama lain. Dia memunculkan frase mendeklarasikah hati, kontroversi hati, konspirasi kemakmuran, statusisasi kemakmuran, labil ekonomi, dan beberapa kata bahasa Inggris yang kacau. Dia ingin terlihat keren dengan melakukannya. Masalah kata-katanya keliru atau kurang tepat, itu urusan belakangan.

Vicky Prasetyo pada dasarnya  adalah cerminan ekstrem dari kecenderungan umum di masyarakat kita. Sebenarnya, secara umum kita terjangkit oleh penyakit yang sama, ingin terlihat keren dengan istilah asing. Kalaupun tidak murni asing, serapan bahasa asing pun jadilah. Karena itulah serapan bahasa asing dianggap lebih keren digunakan meskipun sebenarnya sudah ada padanannya dalam Bahasa Indonesia.

Hal itu dilakukan tidak lain untuk unjuk kehebatan semata. Tidak ada yang substansial dari kemunculan kata asing itu, misal penyempurnaan makna, ketak-terwakilan padanan, atau problem kebahasaan lainnya. Cara unjuk kehebatan itu hanya dengan menganggap kata yang sudah ada sebagai sudah kuno dan memunculkan kata baru.

Yang saya khawatirkan, alasan dari munculnya istilah-istilah baru dari instrumen akreditasi versi baru itu tidak lebih dari sekadar gagah-gagahan seperti itu, tanpa kebutuhan substansial akan perubahan istilah. Gagah-gagahan berbahasa semacam itu hanya akan memunculkan masalah di belakang hari, sebab perubahan istilah baru hanya akan memperumit kerja perguruan tinggi yang akan menyusun laporan akreditasinya. Itu tentu sangat disayangkan.

Namun ada beberapa hal yang patut dihargai dari instrument akreditasi yang baru itu. Misalnya terjemahan bahasa Indonesia terhadap beberapa kata asing. Output, umpamanya,diganti menjadi bahasa kita, luaran. Online diganti menjadi daring. Penerjemahan semacam ini memang baik adanya. Itu menunjukkan bahwa bahasa Indonesia semakin dihargai oleh para pemegang kebijakan kita.

Penghargaan akan bahasa nasional ini kiranya sudah lama dilakukan, terbukti dengan penggunaan istilah “borang” sebagai ganti dari bahasa asing yang lebih kita kenal, template. Dengan semakin banyaknya bahasa nasional digunakan dalam proses akreditasi perguruan tinggi ini, kita jadi mengerti bahwa proses penghargaan itu semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Hal lain yang patut dihargai dari instrumen versi baru adalah orientasinya akan peningkatan mutu. Perguruan tinggi diminta melaporkan peningkatan mutunya, berdasarkan parameter dan standar yang ditetapkan secara nasional. Hal ini, tidak bisa dimungkiri, akan mendorong perguruan tinggi untuk meningkatkan mutunya.[]

Sumber gambar: unitri.ac.id

Rocky Gerung Dan Bahasa Indonesia

Dulu saya membuat tulisan tentang Pidato Ahok dan Bahasa Indonesia. Tulisan itu muncul karena ramai-ramai di internet soal penistaan agama atau bukan. Orang-orang meributkannya, saya menganggapnya sebagai kesempatan belajar Bahasa Indonesia.

Kini ada kejadian mirip. Rocky Gerung membuat pernyataan bahwa kitab suci adalah fiksi. Pernyataan itu sudah lama diucapkannya, yakni 10 April 2018 lalu. Namun belakangan ramai lagi karena ada orang yang melaporkannya ke polisi dengan delik penistaan agama (Pasal 156 KUHP).

Gonjang-ganjing dan goro-goro itu tidak menarik ditulis di sini. Saya lebih tertarik membahas argumen Rocky Gerung soal kata “fiksi”, sebab di situlah  pembahasannya menjadi bersinggungan dengan Bahasa Indonesia.

Rocky Gerung mengatakan bahwa ada perbedaan tipis antara “fiksi” dengan “fiktif”. Keduanya mirip, tapi tidak bisa disamakan begitu saja. “Fiksi” adalah energi yang membangkitkan imajinasi, sedangkan “fiktif” tidak begitu. “Fiktif” adalah suatu rekaan, kebohongan, atau tidak nyata.

Banyak orang salah paham bahwa kata “fiksi” kita serap dari Bahasa Inggris, fiction. Tidak, kata itu sebenarnya diserap dari Bahasa Belanda, fictie. Begitu juga kata bentukannya, “fiktif” adalah serapan dari Belanda, fictief.

Kamus daring dict.com mengartikan fictie sebagai “khayalan, rekaan, fiksi”. Arti ini mirip dengan yang diberikan oleh KBBI V: (1) cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya), (2) rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan, (3) pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran.

Begitu juga dengan fictief, yang kita serap menjadi “fiktif.” Kamus daring dict.com mengartikannya menjadi “khayalan, samaran, fiktif.” Arti ini kurang lebih sama pula dengan KBBI V: bersifat fiksi; hanya terdapat dalam khayalan.

Dengan demikian, dalam kamus Bahasa Belanda dan Bahasa Indonesia, kedua kata itu, “fiksi” dan “fiktif”, artinya kurang lebih sama. Bedanya, yang satu adalah kata benda, sedang yang satunya lagi adalah kata sifat derivatifnya.

Lalu, bagaimana Rocky Gerung bisa membedakan kedua kata itu? Tampaknya dia membaca dimensi makna fiksi dalam khazanah Bahasa Inggris, sehingga ujaran-ujarannya akan lebih mudah dipahami jika dirujuk dalam refrensi-referensi berbahasa Inggris.

Bahasa Indonesia hanya memiliki dua kata saja, yakni “fiksi” dan “fiktif”. Keduanya memiliki arti yang cenderung sama. Adapun bahasa Inggris memiliki kata yang lebih banyak, yaitu fiction, fictitious, fictional, fictive, dan factitious. Keempatnya tidak bisa disamakan begitu saja, sebab memang arti dan penggunaannya berbeda-beda.

Fiction dan fictitious cenderung sama artinya. Fiction bisa dipadankan dengan “fiksi”, begitu juga fictitious bisa dipadankan dengan “fiktif”. Fictional kurang lebih sepadan dengan “fiktif”, namun penggunaan biasanya digunakan pada sastra, film atau teater.

Adapun fictive tidak bisa dipadankan dengan “fiktif”, karena kata ini mengandung pengertian “memiliki kapasitas kreasi imajinatif.” Kata terakhir ini memiliki “energi kreatif”, sebagaimana dikatakan oleh Rocky Gerung untuk kata “fiksi” di atas.

Jika benar pengertian Bahasa Inggris ini yang dimaksud oleh Rocky Gerung, maka penggunaannya terbalik. Apa yang dimaksud dengan “fiksi” oleh Rocky Gerung sebenarnya adalah fictive, sedangkan yang dimaksudnya sebagai “fiktif” sebenarnya cocok dengan fiction, fictional, atau fictitious.

Tapi sudahlah, Rocky Gerung ini pembicara yang menjengkelkan. Dia mahir berkelit. Jika dikatakan bahwa perkataan terbalik, saya yakin dia masih  punya banyak strategi untuk berkelit dan membenarkan perkataannya, dengan bahasa yang seolah-olah canggih.

Sebenarnya, daya tarik Rocky Gerung ada pada gaya bicaranya yang penuh akrobat. Kebanyakan orang Indonesia memang lebih tertarik pada kemasan, bukan substansi pembicaraannya. Mungkin inilah salah satu alasan kenapa ustaz-ustaz Youtube banyak penontonnya.

Rocky Gerung tampaknya sadar akan kemampuannya berakrobat dan membuat penontonnya terpesona. Sehingga sekali dia masuk televisi nasional, dia langsung beraksi dan sialnya dianggap menarik oleh banyak penontonnya.

Sebenarnya, jika kita mau masuk pada substansi pembicaraannya, kita tidak akan terlalu terkesima padanya. Apa yang dikatakannya akan tampak terlalu banyak akrobatnya ketimbang kebenarannya.

Kembali ke soal fiksi-fiktif di atas, ada satu hal yang menurut saya patut diterima dari perkataan Rokcy Gerung. Dia berkata bahwa lawan kata “fiksi” bukanlah “kebenaran”. Saya setuju dengan itu. Apa yang disebut fiksi memang bukanlah fakta, namun bukan berarti itu serta-merta jadi bohong atau tidak benar. Fiksi adalah kebenaran dalam dunianya, yang berbeda dengan kebenaran fakta.

Ketika dikatakannya bahwa “kitab suci adalah fiksi”, apakah itu berarti bahwa kitab suci tidak berbicara tentang fakta? Atau bahwa kitab suci bukan sesuatu yang faktual? Nah, di sini kita boleh berdebat. Tapi perdebatan itu tidak lagi perdebatan kebahasaan, melainkan sudah jadi perdebatan teologis.[]

Sumber gambar: di sini.

Mari Berbahasa Indonesia, Sid

sumpah_pemuda
sumber: di sini

Datoek Kajo memilih tetap menggunakan Bahasa Melayu dalam sidang-sidang Volklsraad. Karena tindakannya ini, dia dibenci oleh Belanda. Bagi orang-orang Belanda, tindakan Datoek Kajo itu adalah pembangkangan dan kekurang-ajaran. Bagi Datoek Kajo, tindakannya adalah perlawanan dan resistensi.

Nah Mursid Caesar, inilah salah satu alasan kenapa saat kita ngopi bareng waktu itu saya bilang bahwa studi bahasa itu menarik, termasuk dan terutama studi Bahasa Indonesia. Dalam beberapa babak perjalanannya, Bahasa Indonesia berkali-kali jadi alat perlawanan, juga alat penindasan.

Kenapa butir ketiga dari Sumpah Pemuda 1928 memuat sumpah berbahasa? Sebab mereka sadar bahwa politik perjuangan mereka tidak bisa dilepaskan dari politik berbahasa (atau berbahasa politik).

Kenapa Ejaan van Ophujsen lantas diganti menjadi Ejaan Suwandi setelah kemerdekaan RI? Sebab ada kesadaran bahwa lepas dari Belanda berarti harus lepas juga dari ejaan yang diwarisinya. Ini efeknya besar.

Kenapa Ejaan Suwandi kemudian diganti lagi menjadi EYD di zaman Soeharto? Sebab Orde Baru ingin agar anak yang lahir di generasi 70-an melupakan era Soekarno. Ini efeknya juga tidak main-main. Generasi kita masih menggunakan ejaan ini. Dan lihatlah betapa butanya kita akan sejarah sebelum Orde Baru.

Perkembangan ejaan terkini sudah menghilangkan “YD” (Yang Disempurnakan) sebagai langkah keluar dari kungkungan Orde Baru. Tapi bagi Joss Wibisono, orang kelahiran Malang yang kini tinggal di Belanda, itu sama saja masih menggunakan EYD warisan Orde Baru. Jadi perkembangan itu sebetulnya tidak beranjak ke mana-mana baginya. Oleh karena itu, dia masih tetap menggunakan Ejaan Suwandi, sebagai bentuk perlawanan terhadap Orbaisme. Ini juga perdebatan yang asyik diikuti.

Pengertian-pengertian semacam itu sungguh harus kita pelajari, Sid. Dan sialnya saya harus mempelajarinya melalui studi Bahasa, meskipun saya bukan “orang jurusan bahasa”. Tapi tidak jadi soal, sebab saya tetap menikmatinya.

Waktu itu kamu menyebutkan suatu alasan kenapa Bahasa Indonesia terasa tidak menarik bagimu. Menurutmu, bahasa Indonesia itu kecil nilainya karena hanya berurusan dengan khayalan semata.

Nah, itulah yang saya khawatirkan, Sid. Saya khawatir kau tidak tertarik pada Bahasa Indonesia karena kesan semata, bukan karena fakta. kenyataannya, bahasa tidak hanya berurusan dengan khayalan, namun juga dengan fakta. Jika kamu sedikit saja memasuki hubungan ilmu dengan bahasa, atau filsafat dengan bahasa, akan kaulihat betapa fakta dan bahasa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Kalaupun bahasa berurusan semata dengan khayalan, itu seharusnya membuatmu tidak mengecilkannya dan tetap menghargainya tinggi-tinggi. Jika kau menganggapnya kecil karena dia hanya berurusan dengan khayalan, itu sama saja artinya kamu mengecilkan nilai khayalan. Saya harap tidak, Sid. Jangan sekali-kali mengecilkan nilai khayalan, sebab kita bukan manusia jika tidak punya khayalan, sama halnya kita bukan manusia kalau tidak punya akal-pikiran.

Ada banyak hal besar di dunia ini dimulai dari khayalan. Semakin kita memaksimalkan kemampuan berbahasa, semakin kuat daya khayal kita, maka semakin sempurnalah kita sebagai manusia.

Saya rasa tulisan ini sudah terlalu panjang. Menurutku, kau sudah tepat memilih jurusan studi bahasa. Salah besar jika kau berkecil hati. Mestinya dirayakan, sama seperti kau merayakan kelulusanmu kemarin.[]

Pidato Ahok dan Bahasa Indonesia

language

Berkat gonjang-ganjing dan hiruk-pikuk yang kini sedang memenuhi media sosial kita, saya jadi makin bersemangat belajar Bahasa Indonesia yang baik. Situasi ini ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba. Pentingnya Bahasa Indonesia sedang mendapatkan konteksnya yang paling terang-benderan.

Apa pasal? Pasalnya adalah pidato Ahok di Kepulauan Seribu itu, yang ternyata bikin ramai. Kondisi makin ramai lagi setelah pemilik akun Twitter @BuniYani menayangkan kembali video pidato itu, berikut transkrip yang tidak memuat 1 kata. Kondisi jadi makin runyam, khalayak ramai jadi heboh. Banyak orang yang melaporkan Ahok ke polisi dengan dugaan telah menista Islam. Efeknya adalah demonstrasi 4 November 2016 kemarin itu.

Timbul perdebatan di jagat maya, betulkah Ahok menista agama? Masyarakat terbelah menjadi 2 kelompok. Bagi kelompok yang satu, Ahok jelas-jelas menista agama Islam dengan penyataannya. Bagi kelompok lainnya, tidak ada penistaan dalam pernyataan Ahok. Media sosial gaduh sekali sama perdebatan ini.

Saya mah tertarik sama perdebatan soal bahasa Indonesia saja. Apa efek dari hadir dan absennya kata “pake” dalam pernyataan Ahok itu terhadap pengertian kita? Inilah inti perdebatan itu. Bagi kelompok yang satu, Ahok telah menista Islam, entah menggunakan kata “pake” maupun tidak. Argumennya bermacam-macam. Adapun kelompok sebelahnya mengatakan ada perbedaan semantis antara kalimat yang menggunakan kata “pake” dengan yang tidak. Sejauh kata “pake” hadir, tidak ada pengertian penistaan ataupun penghinaan terhadap Alquran.

Tapi yang lebih penting dari itu, ahli bahasa jadi kondang sekali kini. Kedua kelompok itu mendadak jadi pakar bahasa yang memaksakan kehendaknya. Padahal, pakar bahasa yang benar-benar pakar akan menggunakan keahliannya di pengadilan, sementara mereka di media sosial itu hanyalah jangkrik yang terlalu bising untuk didengar.

Kabarnya, pengadilan itu akan diselenggarakan secara terbuka. Semoga nanti proses pengadilannya ditayangkan dengan lengkap, saya ingin menontonnya. Saya ingin menonton videonya di Youtube juga. Dan yang terpenting, kesadaran akan pentingnya bahasa Indonesia semakin meningkat di negeri ini.

Harapan ini mengingatkan saya pada cerita mengenai persoalan kebahasaan yang dulu pernah dihadapi kaum Muslim dan mendorong peristiwa besar. Peristiwa itu adalah membubuhkan harakat dalam Alquran. Dalam sejarah Alquran, peristiwa itu adalah salah satu peristiwa penting yang menjadikan mushaf Alquran berbentuk seperti sekarang ini.

Alkisah, wilayah Muslim sudah mencapai banyak negara. Ia sudah luas sekali, hampir mencapai per tiga daratan bumi. Jadi wilayahnya mencapai ke negeri-negeri yang tidak berbahasa ibu Arab. Hal ini menimbulkan persoalan, yakni banyak sekali orang membaca Alquran secara keliru. Tidak hanya keliru, salah baca itu menyebabkan perubahan makna yang fatal juga.

Salah satu kesalahan fatal dalam membaca itu adalah ketika membaca surat At-Taubah ayat 3. Kata rasûluh (berharakat dlommah) secara keliru dibaca rasûlih (berharakat kasrah). Secara linguistika Arab (Nahwu), dua bacaan itu absah dilakukan, namun secara semantis maknanya jadi aneh dan problematis, sebab berbenturan dengan teologi Islam.

Seorang pembesar Dinasti Abbasiyah mendengar bacaan keliru ini, dan kemudian disepakati untuk menuliskan mushaf Alquran dengan harakat sesuai dengan standar yang dibuat oleh Khalîl ibn Ahmad al-Farahidî (718-786 M). Dengan demikian, hingga kini kita yang pengguna bukan bahasa Arab bisa membacanya dengan lebih mudah sebab inisiatif tersebut.

Inilah contoh kecil betapa problem kebahasaan bisa menghasilkan peristiwa besar dalam sejarah Islam. Nah, semoga peristiwa “pake” ini bisa menghasilkan peristiwa besar dalam Islam di Indonesia yang akan diwarisi dan dinikmati oleh generasi selanjutnya. Semoga.[]

sumber gambar: di sini

Kata-kata Baku Terkait Ramadan

544477432_9b86d22e43_o

Bahasa Indonesia adalah bahasa utama di blog KURUSETRA ini. Meski begitu, itu tidak berarti saya seorang xenophobic (omong-omong, apa bahasa Indonesianya kata ini?) yang serba anti asing. Pada kesempatan tertentu, bisa jadi saya akan gunakan di blog ini bahasa asing yang saya kuasai. Bukan tidak mungkin pula, blog ini juga akan memuat bahasa daerah yang saya kuasai. Bisa jadi.

Tak terkecuali juga di bulan Ramadan ini, Bahasa Indonesia akan tetap saya gunakan. Untuk itu, saya akan mendaftar beberapa kata terkait Ramadan yang sering ditulis secara tidak baku, dan oleh karena itu, melanggar tata baku Bahasa Indonesia. Saya akan daftar kata-kata itu sejauh bisa saya temui di KBBI.

Namun, harap diingat baik-baik, oleh karena kata-kata berikut ini baku tidak berarti ia adalah yang paling benar. Terkait kata-kata baku ini, para pembaca yang budiman berhak menganut pendapat pribadinya jika kata-kata itu dianggap kurang cocok. Misal lema Insya Allah, beberapa kalangan umat Muslim merasa keberatan dengan kata itu sebab dianggap mengubah makna dari kata aslinya dalam bahasa Arab, bahkan secara harfiah memberi pengertian yang mencederai keagungan Tuhan. Menurut mereka, lema itu seharusnya diganti menjadi in sya Allah (meski cuma berbeda spasi, dalam bahasa Arab implikasi makna harfiahnya tidaklah sama). Nah, jika pembaca memiliki alasan semisal di atas ini, silakan mendobrak kata baku dan bikinlah sesuai pengetahuan yang Anda miliki.

Di dunia ini, memang ada beberapa orang yang sengaja memilih tidak menggunakan kata baku ketika menulis dalam Bahasa Indonesia. Ada banyak alasan kenapa mereka melakukannya. Dan itu absah-absah saja. Di kesempatan lain, mungkin akan saya ceritakan.

1. Ramadan.

Kekeliruan yang sering terjadi adalah penulisannya menjadi Ramadlan atau Ramadhan. Ini tentu karena kebingungan bagaimana penulisan huruf dlâ’ (aksara Arab ke-15) dalam Bahasa Indonesia. Kebiasaan masyarakat kita menuliskannya menjadi dl (mis. qodli), adapun bahasa Inggris biasa menuliskannya menjadi dh.

Bahasa Indonesia baku yang berdasarkan EYD tampaknya menetapkan huruf ke-15 itu ditulis menjadi d. Dengan demikian, beberapa kata serapan dari bahasa Arab yang menyertakan huruf dlâ’ ditulis begini: rida (bukan ridla atau ridha), wudu (bukan wudlu atau wudhu), kadi (bukan kadli atau kadhi), iduladha (bukan iduladlha atau iduladhha) dan juga Ramadan (bukan Ramadlan atau Ramadhan). Kata yang lain silakan temukan sendiri.

2. Idulfitri dan Iduladha.

Kekeliruan yang sering terjadi adalah menuliskan dua kata itu dipisah dengan spasi. Biasanya ditulis begini: Idul Fitri dan Idul Adha. Kekeliruan ini bisa dimaklumi sebab dalam bahasa Arab, keduanya memang terdiri dari dua kata: ‘îd al-fithr dan ‘îd al-adlhâ.

Dalam bahasa Indonesia, penyerapan kata dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata atau lebih ditulis bersambung menjadi satu. Contoh yang sangat gamblang adalah Idulfitri dan Iduladha ini. Contoh lainnya adalah kata di bawah ini.

3. Halalbihalal

Kesalahan yang sering terjadi adalah menuliskannya secara terpisah, halal bi halal atau halal bihalal, sebagaimana contoh sebelumnya. Kekeliruan ini terjadi karena alasan seperti di atas, yakni karena di bahasa asalnya kata ini terdiri lebih dari satu kata: halâl + bi + halâl. Berdasarkan tata aturan kebahasaan yang sama pula, ketiga kata itu digabung menjadi satu ketika diserap ke dalam Bahasa Indonesia: halalbihalal.

Dengan alasan itulah kita bisa mengerti kenapa kata insya Allah ditulis demikian dalam Bahasa Indonesia (tidak ditulis in sya’ Allah), padahal jika dicocokkan dengan bahasa aslinya terjadi penyelewengan makna yang krusial. Namun, menurut saya, konsistensi kebahasaan lebih penting. Kita tidak bisa mengukur Bahasa Indonesia dengan logika bahasa Arab yang tata aturan dan kaidah kebahasaannya sangat berbeda.

Atas alasan itu, saya tidak keberatan menuliskannya berdasar kata baku: insya Allah.

4. Silaturahmi

Kata lain yang juga memiliki alasan kekeliruan penulisan adalah silaturahmi. Kata ini memiliki dua bentuk kekeliruan tulisan karena dua alasan berbeda.

Pertama, sama seperti kekeliruan di atas, kata ini sering secara keliru ditulis terpisah, silatur rahmi, karena memang di bahasa asalnya ia terdiri dari dua kata: shilah + rahim. Padahal, sesuai dengan kaidah di atas, kata ini seharusnya ditulis bergabung meskipun dalam bahasa asalnya terdiri dari dua kata: silaturahmi.

Kedua, di samping kekeliruan di atas, kata ini sering ditulis tidak baku menjadi silaturahim (terjadi pergeseran huruf i). Hal ini pun bisa dimaklumi karena memang dalam bahasa Arab pelafalannya adalah silaturahim, bukan silaturahmi.

Pertanyaannya, kenapa Bahasa Indonesia membuat kata yang melenceng dari pelafalan asli menjadi kata yang baku? Jawaban yang paling mungkin, menurut saya, adalah karena Bahasa Indonesia menyerapnya berdasarkan kebiasaan tutur di masyarakat. Masyarakat Indonesia sering mengucapkannya silaturahmi, berbeda dari tuturan asli orang Arab melafalkannya silaturahim. Dengan demikian, dasar dari penyerapan kata ini adalah kebiasaan penuturan masyarakat Indonesia, bukan berdasarkan pelafalan asli orang Arab.

Di sinilah terjadi dilema penyerapan kata yang kadang dihadapi oleh Bahasa Indonesia. Menetapkan bahwa kata silaturahmi sebagai kata baku membuat pengertian kata itu berbeda dari bahasa aslinya. Dalam bahasa Arab, arti rahmi jelas berbeda dengan rahim. Yang pertama berarti uterus, sedangkan yang kedua bermakna dua: (1) uterus, dan (2) kerabat. Oleh karena itu, ketika dikatakan dalam bahasa Arab shilah ar-rahim, maka jelas maksudnya arti kata rahim yang kedua, yakni “kerabat”, tidak mungkin akan dimaksudkan arti pertama, sebab artinya akan “menyambung uterus”. Orang Arab tidak akan melafalkannya menjadi shilah ar-rahm, sebab kemungkinan maknanya hanya satu, yakni “menyambung uterus”, dan tidak ada kemungkinan makna yang lain.

Berdasarkan pemahaman akan perbedaan makna antara rahim dan rahm inilah kemudian beberapa kalangan umat Muslim enggan menggunakan kata baku, dan kukuh menggunakan kata asli dalam Bahasa Arab: silaturahim. Kekukuhan ini jauh lebih beralasan ketimbang keengganan mereka menggunakan kata insya Allah yang merupakan konsekuensi dari konsistensi kaidah penyerapan kata dari Bahasa Arab.

Dan atas pertimbangan ini pula, saya juga enggan menggunakan kata baku silaturahmi. Sebab pembakuannya berdasarkan salah kaprah. Saya lebih suka menuturkannya dengan silaturahim.[]

Sumber Gambar:
maria zerihoun

Referensi Baru Belajar Bahasa Indonesia

Di blog ini saya beberapa kali menulis dengan tema Bahasa Indonesia. Pernah ada judul Bukan Shalat Atau Solat, Kata-kata Berakhiran Bunyi “am”, dan Penyakit Menular Sok Inggris Dalam Bahasa Indonesia (Tulisan Remy Sylado). Semuanya bertema Bahasa Indonesia.

Memang belum lama ini, Bahasa Indonesia menjadi menarik dipelajari. Dulu, saya pernah belajar Bahasa Arab (karena saya anak pesantren) dan Bahasa Inggris (karena saya anak kuliahan) dengan antusias. Selama masa itu, mempelajari Bahasa Indonesia tidak menarik minat saya. Cuma baru-baru ini saja saya jadi tergugah belajar Bahasa Indonesia.

Bersamaan dengan ketertarikan itu, saya bertekad agar blog saya patuh pada tata aturan Bahasa Indonesia. Pernah saya ceritakan itikad itu di sebuah tulisan, judulnya Blog: Bahasa Indonesia.

Belajar Bahasa Indonesia itu susah-susah gampang. Ia membutuhkan referensi juga, sama seperti mempelajari bahasa lain. Untungnya, di jagat maya ada banyak orang yang menyediakan refrensi itu. Dulu saya pernah menyebut beberapa, yakni Rubrik Bahasa, Badan Bahasa, Forum Bahasa Media Massa, dan Lidah Ibu. Empat refrensi ini sangat bermanfaat sekali.

Sekarang, refrensi saya resmi bertambah satu biji: Rubrik Tabik di http://www.Beritagar.id. Rubrik ini diampu oleh Ivan Lanin yang sangat berdedikasi terhadap Bahasa Indonesia. Biar lebih enak belajarnya, perlu juga mengikut akun twitternya: @ivanlanin.

Di luar sana, tentu masih banyak lagi refrensi untuk belajar Bahasa Indonesia. Rekan-rekan barangkali punya usulan?[]