Di sini perlu disampaikan dulu apa itu Jumlah (جملة). Jumlah adalah serangkaian kata yang membentuk makna. Istilah ini serupa dengan ‘kalimat’ dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, ‘jumlah’ dan ‘kalām’ adalah sinonim.

Ada sebagian pendapat bahwa ‘Jumlah’ dan ‘Kalām’ tidaklah sinonim. Keduanya punya pengertian berbeda. Menurut pendapat ini, Jumlah memiliki pengertian yang lebih luas daripada Kalām, sebab bahkan beberapa frase juga masuk dalam Jumlah. Namun, di sini kita ambil pandangan bahwa keduanya sinonim saja. Biar tidak ribet.

Para Nahwiyyun (ahli ilmu Nahwu) sudah melakukan penyelidikan mengenai tema ini. Mereka menghitung berapa ‘Jumlah’ yang tanpa kedudukan i’rāb. Penyelidikan itu bahkan menjadi seru sebab mengundang perdebatan yang cukup sengit, terutama para peneliti di Kota Kufah dan Bashrah. Namun agar tulisan ini tidak terlalu panjang, mari kita abaikan saja perbedaan pendapat itu. Kita fokus pada daftar ‘Jumlah’ yang oleh peneliti belakangan dianggap paling tepat.

Hasil penyelidikan itu menyatakan ada tujuh ‘Jumlah’ yang tanpa posisi i’rāb. Namun agar tulisan ini tidak terlalu panjang, maka biar saya sebutkan empat di antaranya saja. Kempat Jumlah ini akan diurai satu per satu, berikut contoh masing-masing.

1. Jumlah Ibtidā’iyah atau Isti’nāfiyah (Kalimat Permulaan)

‘Jumlah’ ini ada dua macam. (a) ‘Jumlah’ yang menjadi pembuka suatu pembicaraan. Contohnya adalah ketika Anda membuka pembicaraan dengan:

قام زيد

maka ‘Jumlah’ itu adalah Jumlah Ibtidā’iyah yang tidak memiliki kedudukan i’rab.

Contoh lain dari ‘Jumlah’ semacam ini ada di setiap pembuka surat dalam Alquran. Seperti

إنا أنزلناه في ليلة القدر

Atau

إنا فتحنا لك

(b) ‘Jumlah’ yang tidak memiliki hubungan apapun dengan ‘Jumlah sebelumnya. Oleh karena ia terputus, maka ia tanpa kedudukan i’rab dan menjadi Jumlah Ibtidā’iyah.

Misal,

مات فلان رحمه الله

Contoh lainnya ada dalam Surat Al-Kahfī, ayat 83-84:

 قُلْ سَأَتْلُوْ عليكم منه ذكرا إنّا مكنا له في الأرض

Jumlah (رحمه الله) dan Jumlah (إنا مكنا له في الأرض) adalah Jumlah Ibtidā’iyah yang tidak memiliki hubungan i’rāb dengan Jumlah sebelumnya. Hal ini menjadikannya tidak memilili kedudukan i’rab.

2. Jumlah Yang Ma’tūf kepada Jumlah sebelumnya

‘Jumlah’ kedua ini mirip seperti Kalimat Majemuk, yakni dua buah kalimat yang dihubungkan oleh preposisi. Jika dinyatakan dalam istilah Ilmu Nahwu, Kalimat Majemuk sebenarnya terdiri dari dua ‘Jumlah’ yang dihubungkan oleh Huruf ‘Atf; yang pertama disebut Ma’tūf Alaih, yang kedua disebut Ma’tūf.

Yang dimaksud dalam ‘Jumlah’ jenis kedua ini adalah Jumlah yang menjadi Ma’tūf, dengan catatan bahwa Jumlah yang menjadi Ma’tūf Alaih tidak memiliki kedudukan i’rāb. Sebuah contoh bisa memperjelas penjelasan di atas.

قام زيد وقعد عمرو

Jumlah (قعد عمرو) adalah ma’tūf kepada Jumlah sebelumnya, yakni (قام زيد) yang merupakan Jumlah Ibtidā’iyah dan tidak memiliki kedudukan i’rāb. Dengan demikian, Jumlah yang jatuh setelah Huruf ‘Atf pun tidak memiliki kedudukan i’rāb.

3. Jumlah yang berupa ‘āmil, namun ‘amalnya dibatalkan karena berposisi di akhir sebuah Jumlah

Agar penjelasan lebih lanjut bisa diteruskan, istilah ‘āmil (dan ‘amal) perlu dijelaskan terlebih dahulu di sini. Penjelasannya akan diusahakan sesingkat mungkin.

‘Āmil adalah istilah teknis dalam Ilmu Nahwu yang merupakan penyebab (‘illat) suatu lafaz mendapat i’rāb tertentu. Jadi misalnya ditanya, “kenapa sebuah lafaz ber-i’rāb demikian?”, maka ‘āmillah jawabannya.

‘Āmil ada dua macam, yakni lafdzī dan ma’nawī. Yang pertama adalah ‘āmil yang berupa lafaz, sedangkan yang kedua adalah ‘āmil yang tidak berupa lafaz namun keberadaannya dihipotesiskan agar sebuah i’rāb yang tidak memiliki ‘āmil lafdzī tetap masuk akal dan tidak problematis.

Contoh ‘āmil jenis pertama adalah Mubtada’, jika ada yang bertanya “Apa ‘āmil dari harakat Khabar?” Sedangkan contoh dari ‘āmil jenis kedua adalah ‘āmil ibtidā’ sebagai penyebab dari harakatnya Mubtada’.

Oke, masalah ‘āmil ini memang abstrak dan sepertinya terasa kurang penting untuk kebutuhan komunikasi verbal dari bahasa Arab. Namun jika Anda mempelajari Bahasa Arab hingga ke cabang I’rāb, yakni analisis struktural terhadap Bahasa Arab, maka pembahasan ‘āmil ini tidak boleh terlewatkan.

Kembali ke pembahasan tentang Jumlah ketiga di atas, kiranya sudah jelas bahwa ‘āmil di sini adalah ‘āmil lafdzī yang berupa jumlah. ‘Āmil ini posisinya ada di akhir (seharusnya ada di depan), sehingga ia kehilangan fungsinya sebagai ‘āmil dan tidak mendapat kedudukan dalam i’rāb.

Sebuah contoh harus dicantumkan di sini.

زيد قائم أظنّ

Lafaz (أظنّ) pada dasarnya adalah ‘āmil bagi dua lafaz yang lain. ‘Amal-nya adalah menasabkan isim dan khabar (تنصب الاسم والخبر) namun pada kasus contoh di atas ‘amal-nya tidak berlaku karena posisinya ada di belakang. Karena ‘amal-nya tidak berlaku maka harakatnya lafaz (زيد قائم) tidak lagi nasab, melainkan kembali ke harakat semula, yakni rafa’ sebagai mubtada dan khabar.

4. Jumlah Mu’taridlah

Yakni Jumlah yang berada di sela-sela suatu ucapan. Tujuan Jumlah semacam ini adalah mengukuhkan suatu uacapan atau memperindah semata. Ada banyak contoh yang bisa disebutkan di sini. Misal, jumlah yang terdapat di antara fi‘l dan fā‘il:

وقد أدركتنى والحوادث جمة # أسنّة قوم لاضعاف ولاعزل

Jumlah (والحوادث جمة) adalah Jumlah Mu’taridlah yang jatuh setelah fi‘l (أدركتنى) dan fā‘il (أسنّة قوم). Demikian pula bisa jatuh di antara Mubtada’ dan Khabar:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول

Jumlah (صلى الله عليه وسلم) adalah Jumlah Mu’taridlah yang jatuh di sela-sela ucapan. Jumlah semacam ini tidak memiliki kedudukan i‘rāb sama sekali.[]


Disarikan dari kitab Kifāyah al-Ashāb dengan beberapa tambahan dari saya. Sumber gambar: stories.vassar.edu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s