Esai / Ulasan Film

Thanos

thanos_avengers_infinity_war

sumber: di sini.

Avengers: Infinity War, menurut saya, adalah film Marvel terbaik sejauh ini. Saya bilang sejauh ini, sebab kita tidak tahu bagaimana film-film Marvel selanjutnya nanti. Sudah ada berderet film Marvel yang sedang proses dibuat.

Bahkan Ant Man and the Wasp-pun, yang rilis setelah Infinity War, tidak ada apa-apanya dari berbagai segi. Dari segi cerita, karakter, plot, dialog, bahkan humor, Avengers: Infinity War unggul jauh.

Dan tahukah Anda apa yang paling menarik dari Avengers: Infinity War? Tentu saja, Thanos.

Thanos mengingatkan saya pada Joker dalam film Batman The Dark Knight. Keduanya sama-sama menjadi magnet dalam film masing-masing. Yang membuat Batman The Dark Knight menarik adalah si Joker. Demikian pula Thanos, dialah alasan Avengers: Infinity War jadi menarik.

Joker dalam Batman The Dark Knight adalah sosok antagonis yang aneh (sekaligus menarik). Dia melakukan kejahatan bukan karena suatu ambisi atau tujuan tertentu. Dia melakukannya hanya karena ingin bersenang-senang. Sesederhana itu. Why so serious, katanya.

Kejahatan dengan ambisi tertentu, misal mencari kekayaan atau memperkuat kekuasaan, adalah kejahatan kaum awam. Itu jenis kejahatan tukang jambret di trotoar atau tukang palak uang keamanan di pasar. Tidak keren blas.

Joker memilih dasar yang lebih eksistensial atas kejahatannya: bersenang-senang atau bermain-main. Merencanakan kejahatan dengan rapi, menyebarkan ketakutan, lalu menjadikan Batman sebagai objek permainannya, semua itulah puncak kebahagiaannya. Itulah alasan Joker bisa terus tertawa terbahak-bahak.

Di film Batman The Dark Knight, Joker digambarkan sebagai sosok psikopat yang berbahaya. Dan si psikopat cerdas ini sungguh merepotkan bagi Batman.

Berbeda dengan Joker, Thanos adalah tipikal penjahat yang berbeda. Namun tak kalah menarik daripada Joker.

Thanos adalah sosok antagonis dengan tujuan yang amat jelas. Setiap penonton tahu betul tanpa harus berpikir keras apa sebenarnya tujuan Thanos dalam setiap aksinya: menyelesaikan masalah overpopulasi.

Alam semesta ini sudah terlalu banyak penghuninya, sementara sumber daya alam yang tersedia amat terbatas. Kenyataan ini akan mengakibatkan kehancuran bagi sebagian kalangan, terutama bagi mereka yang tidak punya akses terhadap sumber daya alam.

Itu terbukti di planet Thanos sendiri, Planet Titan. Kini planet itu berantakan tidak berpenghuni karena sumber daya alamnya habis. Semua penghuninya hanya tersisa Thanos sendiri. Nah, Thanos ingin mencegah masalah itu berakibat lebih jauh.

Bagaimana cara mencegah masalah overpopulasi ini? Bagi Thanos, caranya adalah menjadikan penghuni alam semesta berjumlah separuh dari yang ada sekarang.

Tapi bagaimana cara melakukannya? Caranya adalah dengan alat bernama Sarung Tangan Infinity (Infinity Gauntlet). Jika sarung tangan ini dilengkapi dengan enam Batu Infinity, niscaya semua keinginan penggunanya akan terpenuhi, hanya dengan menjentikkan jari.

Dengan demikian, cerita utama film Avengers: Infinity War adalah cerita aksi Thanos mendapatkan keenam Batu Infinity itu. Dan itulah yang membuatnya bagus.

Yang membuat sosok Thanos makin menarik adalah ketika kita menyelami masalah overpopulasi itu. Overpopulasi memang betul-betul masalah, termasuk di bumi kita ini.

Dalam dialog antara dirinya dengan Dr. Strange di planet Titan yang berantakan, Thanos mengemukan suatu alasan sehingga aksinya itu bukanlah aksi serampangan. Apa yang akan dilakukan Thanos, yakni memusnahkan separuh penghuni alam semesta, berbeda dengan tindakan genosida sebagaimana disangka oleh Dr. Strange. Genosida adalah tindakan pemusnahan yang tebang pilih. Ia dilakukan kepada suku tertentu, ras tertentu, atau penganut agama tertentu. Pemusnahan yang dilakukan oleh Thanos berbeda, sebab ia tidak memilih siapa yang akan musnah nanti, melainkan secara acak dan tanpa tebang pilih.

Thanos dengan enteng menyebut pemusnahan massal itu sebagai mercy alias rahmat. Ia adalah rahmat sebab mereka mengalami kemusnahan agar yang bertahan hidup bisa menikmati kesejahteraan dan kehidupan seimbang. Seimbang antara jumlah penghuni semesta dan sumber daya alam yang tersedia. Demikianlah pandangan Thanos mengenai tindakannya itu.

Thanos juga sosok visioner yang sadar bahwa cita-citanya itu mahal harganya. Kata-katanya yang terkenal: The hardest choices require the strongest wills. Tidak diragukan lagi, Thanos memang mati-matian memperjuangkan cita-citanya itu, dengan harga apapun. Bahkan anak tiri tersayangnya, Gamora, dia bunuh sendiri untuk mendapatkan salah satu batu Infinity.

Semua itu membuatnya menjadi sosok antagonis yang tidak kacangan.

Novel Inferno karya Dan Brown, yang kemudian diangkat ke layar lebar, juga mengangkat masalah ini. Alkisah, seorang ilmuwan menggelisahkan masalah overpopulasi ini. Solusi yang dia tawarkan juga mirip dengan Thanos, yakni memusnahkan separuh penduduk bumi. Hanya saja, jika Thanos melakukannya dengan Sapu Tangan Infinity, ilmuwan itu mau melakukannya dengan menyebarkan wabah penyakit di bumi.

Majalah Basis, sebuah majalah yang memuat artikel-artikel berat karangan intelektual Indonesia, pernah mengangkat tema Kapitalisme. Nomor dan tahun berapa saya lupa. Yang jelas, F. Magnis Suseso menulis di situ bahwa ada sekelompok penganut kapitalisme garis keras yang menganggap bahwa jumlah penduduk bumi sekarang tidak menjamin kesejahteraan. Penduduk bumi sekarang berjumlah 7 milyar. Menurut mereka, manusia akan mengalami kesejahteraan merata jika jumlah hanya 4 milyar saja. Suatu sudut pandang mengerikan, bukan?

Faktanya, di bawah kolong langit ini ada orang yang beranggapan begitu. Ketika saya menonton Thanos, saya langsung teringat artikel di majalah Basis itu. Saya membayangkan Thanos adalah seorang kapitalis garis keras. Sedangkan para Avengers adalah kaum sosialis yang mati-matian mau mencegah rencana Thanos. Ah, imajinasi konyol sekali.

Saat tampil di acara The Late Show with Stephen Colbert, Josh Brolin, si pemeran Thanos, ditanya dengan tiba-tiba dan mengejutkan: kenapa Thanos memilih memusnahkan separuh penghuni alam semesta, bukannya menambah jumlah sumber daya alam saja? Bukankah dia bisa melakukannya hanya dengan menjentikkan jari saja? Pertanyaan ini sangat masuk akal.

Dengan elegan, Josh Brolin menjawab begini. Itu karena Thanos adalah sosok yang callous, tidak berperasaan. Pertanyaan itu diajukan oleh orang dengan perasaan dan sentimen. Thanos tidaklah begitu. Bagi Thanos, kemusnahan sebagian makhluk hidup tidak berati apa-apa baginya. Dan di dalam sejarah manusia, tidak sulit mencari sosok yang mirip dengan Thanos ini, yakni sosok yang callous.[]

2 thoughts on “Thanos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s