Esai / filsafat

Heidegger, Mulla Sadra dan Jalan Pulang

martin heidegger

Martin Heidegger. Sumber di sini.

Martin Heidegger, filsuf besar Jerman abad ke-20, punya pandangan yang cenderung gelap tentang peradaban modern. Dia melihat modernitas sebagai suatu penyimpangan, dan mengkritiknya sebagai terlalu materialistis, pragmatis, dan serba-profit. Dalam “Surat mengenai Humanisme”-nya yang terkenal, dia membincang keterasingan sebagai suatu malapetaka yang dihasilkan oleh mesin-mesin modern. Teknologi, tulisnya, telah membuat manusia menciptakan benda-benda dan membangun sistem rumit. Namun manusia yang bangga karena bisa menciptakan benda-benda itu kehilangan kendali atasnya. Frankenstein telah tumbuh melampaui tuannya dan malah berbalik melawannya.

Pada intinya, setiap pemikir agung memiliki satu pikiran besar. Pikiran besar Heidegger adalah pandangannya bahwa tanpa menjawab pertanyaan “apa itu,” kita tidak bisa mengerti dunia, dan tidak bisa menentukan mesti seperti apakah jadinya kita. Pertanyaan utamanya bukanlah benda-benda macam apakah yang berwujud, melainkan terlebih dahulu apa makna berwujud. Alasan kenapa sebuah kursi berwujud adalah pertanyaan lebih penting daripada pertanyaan ciri-ciri fisik apa, bentuk apa, warna apa, berat apa, dan lain-lain, yang dimilikinya.

Tugas intelektual Heidegger adalah membawa pertanyaan tentang Wujud ini kembali ke pusat pemikiran filosofis. Baginya, pemikiran Barat telah hidup dalam suatu ilusi sejak zaman Plato ketika dia melupakan pertanyaan tentang Wujud (Dasein), dan berusaha menukarnya dengan pertanyaan-pertanyan palsu. Sekali fondasinya diatur secara keliru, maka segalanya jadi bengkok berantakan.

Heidegger sendiri punya andil terhadap “kayu kemanusiaan yang bengkok”—untuk menggunakan istilahnya Kant—ketika dia bermesraan dengan Nazisme pada tahun 1930-an. Dia mendukung Nazi dengan keyakinan bahwa mereka akan mengalahkan Komunisme Soviet dan Kapitalisme Amerika, dan akan memprakarsai jalan ketiga untuk bangsa Jerman. Dia menganggap bahwa Eropa terjepit antara Rusia dan Amerika, yang sama-sama berdasarkan pada “hiruk pikuk teknologi yang suram, organisasi orang awam yang tidak terbatas.”

Jerman diharapkan menawarkan sesuatu yang baru. Tapi segala sesuatunya tidak berbuah sebagaimana yang Heidegger harapkan. Holocaust mengejutkan dunia. Alih-alih memperkuat bangsa Jerman, Nazi hampir menghancurkannya. Heidegger menolak ide untuk memperlakukan Wujud sebagai “benda,” dan menggantinya menjadi “entitas.” Pandangan demikian (memperlakukan Wujud sebagai “benda”—penj.) mengarah pada komodifikasi Wujud, dan mereduksi hakikat benda-benda pada nilai-gunanya. Kita harus menerima benda-benda sebagaimana adanya sebelum kita menggunakannya.

Misal, Seorang tukang kayu harus mengerjakan kayu, bahan dasar si tukang kayu, dengan suatu pengetahuan, kompetensi dan ketelitian yang dibutuhkan untuk memahat sesuatu dengan bentuk, keindahan dan fungsi. Pelukis harus memberikan pada warna, cahaya, kertas, kuas, dan lain-lain, hak mereka dalam rangka melukis sesuatu yang bermakna dan indah. Kita pun harus memperlakukan Wujud dengan sikap yang serupa. Memperbudak Wujud untuk memenuhi keinginan kita adalah karcis untuk menghancurkan Wujud dan diri kita. Ini mensyaratkan peletakan Wujud di posisi sebelum utilitas, nilai-guna, mekanisasi, keuntungan dan instrumentalisasi. Jika tidak demikian, kita menurunkan derajat eksistensi, dan menjadikan diri kita sebagai subjek tunawiswa yang beradu dengan dunia tunaakar.

Dalam wawancaranya di Der Spiegel yang diterbitkan setelah dia meninggal, Heidegger berkata, “Setiap sesuatu yang esensial dan agung hanya muncul ketika manusia sudah punya rumah dan berakar dalam suatu tradisi.”

Ini adalah seruan penting. Sebuah seruan di sebuah dunia yang kita telah kehilangan rumah dan tradisi. Untuk mengapresiasinya secara lebih baik, kita bisa melintas ke beberapa abad silam dan melihat pada sesuatu yang juga dikatakan oleh seorang filsuf Muslim agung, Mulla Sadra (w. 1640), yang sezaman dengan Descartes.

Seperti Heidegger, Sadra menganggap Wujud sebagai realitas prinsipal yang mendahului dan mensubstitusi segala sesuatu. Tapi tidak seperti filsuf Jerman itu, Sadra tidak mendefinisikan Wujud sebagai swa-acu. Wujud, yang meliputi segala sesuatu, adalah refleksi dari realitas yang lebih tinggi, dan ia bisa disibak dengan perangkat epistemis yang berbeda. “Kearifan Transenden” Sadra dengan demikian berusaha menyerasikan tiga jenis pengetahuan: pengetahuan wahyu (Alquran), Pengetahuan demonstratif (burhan) dan pengetahuan mistis atau penyingkapan (‘irfan). Tiap jenis pengetahuan ini berkorespondensi dengan tingkat realitas tertentu dalam hierarki ontologis benda-benda. Oleh karenanya tidak ada kontradiksi di antara ketiganya.

Menyibak makna Wujud adalah kunci bagi tugas filsafat. Namun hal ini memerlukan lebih dari sekadar pengetahuan konseptual. Ia mensyaratkan transformasi eksistensial dari diri kita. Ia mengajak kita untuk terhubung dengan realitas lebih tinggi yang memberi makna dan hakikat terhadap segala sesuatu. Ia mengangkat filsafat ke level kearifan sebagai jalan untuk memperoleh hakikat. Ia mengkombinasikan pengetahuan dan cinta. Ia menyerasikan presisi logis dengan pengetahuan intuitif dan personal.

Heidegger bicara tentang ‘jalan’ tanpa bicara banyak tentang tujuan. Dia bicara tentang Wujud sebagai rumah manusia, tapi terperosok dikuasai oleh homo-sentrisme tautologis yang diikutsertakannya. Mulla Sadra juga bicara tentang petualangan, tapi menggarisbawahi bahwa semua jalan mengarah pada sebuah tujuan. Dia menganggap bahwa jalan itu punya permulaan (mabda’) dan akhir (ma’ad). Menyusuri jalan semata bukanlah tujuan, katanya. Seseorang musti berjalan menuju suatu tujuan. Tujuan itu bukanlah buatan kita sendiri. Jika tidak demikian, maka segalanya akan jadi konstruksi yang serba-ego. Seseorang harus terhubung dengan realitas lebih tinggi yang tidak bisa dimonopoli oleh ego yang mengecoh diri sendiri.

Bagi Sadra, rumah adalah tempat di mana kita menyiapkan diri sendiri untuk transformasi eksistensial dan spiritual. Ia adalah tempat di mana kita meraih keutuhan, integritas dan ketentraman.[]

Diterjemahkan dari Ibrahim Kalin, Heidegger, Mulla Sadra and the Path to Home (Daily Sabah, 15 Agustus 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s