Ulasan Buku

Jews, God and History

jews_god_and_history_max_isaac_dimont

Gambar diambil dari akun twitter @Airulkamali

Tujuh tahun lalu, saya membaca buku Children of Abraham. Itu adalah bacaan pertama saya mengenai umat Yahudi dari sudut pandang insider. Adapun sumber dari sudut pandang outsider, sudah sejak kecil saya membaca atau mendengar tentangnya, baik yang penuh dengan prasangka maupun tidak.

Memahami masyarakat lain, termasuk dan terutama masyarakat dari agama lain, perlu didukung dengan sudut pandang insider. Dengan cara demikian, kita bisa tahu bagaimana mereka berkata tentang diri sendiri, bagaimana mereka melakukan pembelaan dari serangan luar, juga bagaimana mereka mengkritik diri sendiri.

Sudut pandang outsider sebenarnya juga tidak kalah penting, sebab kita memang hidup dan besar di lingkungan dan latar sejarah yang berbeda dari mereka. Pada tingkatan tertentu, setiap kita pasti membawa suatu prasangka pribadi ketika berusaha memahami komunitas agama lain. Entah prasangka itu lahir dari informasi yang kita terima sejak kecil ataupun yang lahir dari ajaran-ajaran agama kita.

Ambillah contoh Agama Yahudi. Sejak kecil kita diajarkan bahwa agama ini adalah agama yang sudah rusak, terdistorsi oleh  sejarah, dan  mengalami kerusakan-kerusakan dari dalam. Dalam tingkat tertentu, sejak kecil kita disuruh untuk selalu waspada dari penganut agama ini, sebab mereka tidak akan pernah lega sebelum kita ikut menganut millah mereka. Prasangka-prasangka yang semacam ini sedikit banyak punya andil dalam mencegah kita untuk memahami mereka secara “lebih baik”.

Agar punya pemahaman yang lebih baik itulah saya membaca Children of Abraham. Saya perlu mendengar atau membaca bahan yang memuat penjelasan orang Yahudi tentang diri mereka sendiri.

Cara ini sebetulnya bukan cara baru dalam Islam. Seorang ulama besar bernama Abû Bakr Ahmad Asy-Syahrastânî dalam kitabnya yang terkenal, Al-Milal wa an-Nihal sudah memberi kita contoh. Kitab ini membeberkan secara ringkas pandangan berbagai sekte dan aliran keagamaan, baik dalam Islam sendiri mapun di luar Islam. Yang istimewa, Asy-Syahrastânî menuliskannya secara objektif, tanpa kritik, pembelaan maupun penilaian mengenai berbagai sekte dan aliran itu. Yang dia lakukan hanyalah menceritakan semata sebagaimana para penganutnya yakin. Katanya: “Dan komitmenku pada diri-sendiri adalah menyajikan pandangan setiap golongan secara utuh (berdasarkan yang tertulis) dalam kitab-kitab mereka, tanpa sikap fanatis kepada mereka dan tanpa upaya menentang pandangan mereka.

Cara yang dilakukan oleh Asy-Syahrastânî ini menuai banyak pujian dari ulama lain. Selain karena sikap objektifnya itu, kitab Al-Milal wa an-Nihal memang ditulis dengan sangat bagus dan sistematis. Ini menunjukkan bahwa Asy-Syahrastânî sangat menguasai bidang studi perbandingan agama.

***

Baru-baru ini, sebuah buku tentang Agama Yahudi kembali saya baca. Judulnya Jews, God and History oleh Max Isaac Dimont. Ini buku tidak kalah bagus. The Los Angeles Times memujinya sebagai “unquestionably the best popular history of the Jews written in the English language.

4000 tahun perjalanan hidup Yahudi dibahas hanya dalam 611 halaman tentu sangat menantang. Dimont melakukannya dengan sangat bagus.

Dimont menjelaskan bahwa kaum Yahudi sanggup bertahan selama itu adalah suatu keajaiban. Banyak bangsa lain hancur tak berbekas hanya dalam beberapa ratus tahun saja. Kini nama mereka hanya tinggal sejarah. Namun Yahudi sanggup bertahan hidup, bahkan masih sanggup membuat sejarahnya sendiri hingga kini. Kita memang harus mengangkat topi kepada kaum satu ini.

Bagaimana kaum Yahudi sanggup bertahan hidup sebegitu lama? Pertanyaan itulah yang berusaha dijawab oleh buku ini. Barangkali secara serampangan dan simplikatif bisa diringkas bahwa judulnya, yakni God dan History, merupakan jawabannya. Hanya saja, God yang bagaimana dan History yang bagaimana, itulah yang membuat pembahasannya jadi panjang.

Kiranya saya tidak perlu menjelaskan hal itu di sini.

Yang ingin saya ceritakan dari hasil membaca buku ini adalah terjawabnya beberapa pertanyaan yang selama ini bercokol di benak saya. Yakni kaitan antara Kaum Yahudi dengan umat Nasrani dan Umat Muslim.

***

Hubungan antara Kaum Yahudi dan Umat Nasrani pernah menegang, sebab di satu sisi, Yesus tidak dianggap sebagai Messiah (Juru Selamat) oleh kaum Yahudi. Yang paling parah, penyaliban Yesus juga dianggap ada peran kaum Yahudi saat itu. Dari sudut pandang Umat Nasrani ini mudah dipahami. Namun bagaimana sudut pandang Orang Yahudi sendiri mengenai hal itu?

Buku ini memberikan penjelasan yang sangat bagus, dan sangat informatif bagi saya. Bagaimana Dimont menjelaskan sosok Yesus merupakan hal baru bagi saya, sebab selama ini informasi tentang Yesus kerap saya terima dari sudut pandang Islam dan Kristiani. Baru di buku inilah sudut pandang Yahudi terhadap Yesus bisa saya dapatkan.

Menurut Dimont, Yesus adalah orang Yahudi yang cara hidup dan kegiatan sehari-harinya tidak ada bedanya dengan kaum Yahudi lainnya. Ini ada benarnya, sebab selama masa mudanya Yesus adalah pendeta Yahudi yang berceramah dan membacakan Taurat di rumah ibadah setempat.

Adapun setelah Yesus mulai menyebarkan ajarannya, itupun tidak bisa dibayangkan bahwa ajarannya benar-benar berbeda dari ajaran Yahudi masa itu. Jangan dibayangkan bahwa ajaran Yesus persis seperti yang dipraktekkan oleh Umat Nasrani saat ini, sebab sumber-sumber sejarah membuktikan bahwa ajaran Yesus tidak ubahnya seperti sebuah sekte di dalam umat Yahudi. Ajaran Yesus menjadi 180° berbeda dengan Yahudi adalah sejak masa Saul (atau lebih dikenal dengan nama Paulus).

Saya membaca penjelasan di atas langsung bergumam: “wow!”

***

Bagaimana dengan penjelasan Dimont mengenai hubungan Umat Yahudi dengan Umat Muslim di zaman Nabi Muhammad Saw.? Ini pun tidak kalah menarik.

Kita tahu bersama bahwa hubungan Umat Muslim di Madinah tidak begitu baik dengan Umat Yahudi Madinah. Hal ini karena tiga suku Yahudi di Madinah, yakni Bani Nadzir, Bani Quraidhah, dan Bani Qainuqa’, berperang dengan Umat Muslim. Bahkan Bani Quraidhah dibantai habis, anak-anak dan perempuan dijadikan budak pula.

Dimont menjelaskan bahwa relasi yang buruk itu karena politik. Waktu itu, politik bisa berarti perang, dan risiko yang ditanggung bisa jadi demikian: dibantai atau dijadikan budak.

Kenyataannya, Dimont menjelaskan, jika situasi politik membaik maka kondisi kaum Yahudi di dunia Arab juga ikut baik. Hal ini terbukti dalam masa keemasan dunia Arab, kaum Yahudi bisa berkiprah dalam berbagai bidang: sains, sastra, filsafat, bahkan jabatan publik di pemerintahan.

Secara umum, Dimont mengakui bahwa keadaan terbaik yang dialami oleh  kaum Yahudi adalam masa keemasan Islam.

Penjelasan semacam ini pernah saya baca di bukunya Karen Armstrong, A short History of Islam. Namun Amstrong berlatar Nasrani, dan waktu itu saya masih penasaran bagaimana pandangan Umat Yahudi sendiri mengenai hal ini. Rasa penasaran saya terjawab sudah di tangan Max I Dimont.[]


Catatan:
1) Yahudi bisa berarti agama dan juga suatu bangsa. Kata “umat” digunakan di sini untuk menunjuk agama, sedangkan “kaum” digunakan di sini untuk menunjuk bangsa.

2) Berkenalan lebih jauh dengan Max Isaac Dimont bisa dengan membaca di sini.

3) Tulisan saya tentang buku Children of Abraham bisa dibaca di sini.

Iklan

One thought on “Jews, God and History

  1. Ping-balik: Aplikasi Baca Buku Andalan | KURUSETRA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s