Esai / Ulasan Buku

Golongan Kutu Buku Garis Keras

kitab_tentang_membaca

Buku Al-Qiro’ah wa al-Hitsts alaiha, karya Sayyid Muhammad Al-‘Aidrus, ditulis karena suatu kegelisahan. Kegelisahan akan nihilnya minat baca di kalangan anak muda.

Perihal apa dan bagaimana isi buku itu, biar dibicarakan di lain kesempatan saja. Yang menarik disebutkan di sini adalah cerita penulis tentang para panutan di bidang membaca itu.

Penulis mengutip kisah para ulama yang gemar sekali membaca. Bahkan ketika perjalananpun, para ulama tetap menjinjing dan membaca buku. Mereka adalah kutu buku golongan garis keras.

Salah satunya adalah Al-Khathib al-Baghdadi. Konon kalau dia berjalan ke manapun, dia selalu menelaah sebuah buku.

Beberapa saat lalu, saya mengobrol dengan Maulana dan Syifa di kantin Al-Qolam. Mereka menceritakan suatu romantisme tentang betapa gemarnya para mahasiswa zaman dulu pada buku. Mereka suka membaca buku, mereka menjinjing buku ke mana-mana, saat keluar kelas mereka langsung berkerumun untuk diskusi, dan lain-lain, dan lain-lain.

Romantisme semacam itu sering saya dengar, bahkan sejak dulu. Semasa masih mahasiswa, tidak cuma sekali-dua dosen saya menasihati agar saya menyimpan buku di tas saya, biar kalau senggang bisa baca buku. Katanya itulah kebiasannya ketika mahasiswa dulu. Nah, romatisme lagi.

Menjadikan masa lalu sebagai masa gemilang tidaklah buruk, sebab dalam hidup kita perlu panutan dan teladan. Yang jadi masalah adalah ketika romantisme itu menjadikan kita pesimis, atau bahkan sinis, terhadap kegemilangan masa depan.

Yang kadang membuat keringat dingin mengucur, masa depan yang gemilang itu harus diupayakan. Program-programnya harus dirumuskan, strategi dan taktiknya harus direncanakan, infrastrukturnya perlu dikebut. Nah, kadang orang malas berupaya, sehingga dia mengambil jalan gampangan saja: pesimis pada masa depan.

Di zaman sekarang, kita dianugerahi macam-macam gawai yang canggih. Tapi di saat yang sama kita perlu pula sadar bahwa suatu anugerah tidak serta-merta jadi maslahat. Gawai di tangan kita tidak mendorong kita makin suka membaca, selain membaca pesan Whatsapp atau status FB.

Itulah salah satu hal yang dikeluhkan Syifa ketika mengobrol di kantin kemarin. Kemampuannya membaca buku makin surut, tidak seperti dulu lagi. Biang keladinya adalah gawai. Syifa tiba-tiba mengalami romantisme, suatu kerinduan akan masa lalunya, yakni ketika dia suka membaca buku bagai orang kesambet.

Sebelum saya menimpali, Syifa segera menyebutkan semacam pledoi. Dia merasa gawai membantunya mengelola blog dengan lebih sangkil. Saya pun langsung lega, sebab Syifa bukan tipikal orang yang pesimis terhadap gawainya.

Syifa sebetulnya sudah mengakui bahwa gawai tidak seluruhnya mafsadat. Yang dia perlukan adalah strategi untuk menyulap gawainya tidak menghalangi membaca buku. Kalaupun tidak segila dulu dalam membaca buku, setidaknya gawai bisa membantunya dalam melakukan deep reading (membaca secara mendalam) dan critical thinking (berpikir kritis). Bukankah itu yang kita butuhkan dari buku?

Hanya saja, perlu segera diingat pula bahwa biar bagaimanapun gawai tidak akan sanggup menggantikan buku, terutama di bidang deep reading dan critical thinking itu. Para peneliti dan psikolog sudah membuktikan hal itu dalam riset mereka. Itulah kenapa membaca buku tetaplah perlu.

Buku Sayyid Muhammad Al-‘Aidrus di atas pun mengingatkan dengan lugas, peradaban yang kita butuhkan adalah peradaban buku, bukan peradaban radio, peradaban fotografi, apalagi peradaban televisi. Hal ini karena perenungan mendalam hanya sanggup disuguhkan oleh buku, adapun yang lain-lain itu hanya menawarkan kedangkalan. Tentu kita tidak butuh peradaban yang dangkal, bukan?

Barangkali sudah saatnya kita ringkas obrolan tanpa fokus di atas. Apapun dampak yang dimiliki gawai kita, ada perlunya juga menganggapnya sebagai anugerah. Hanya saja suatu anugerah akan jadi maslahat jika diupayakan demikian. Sebaliknya, dia akan jadi mafsadat jika dipasrahkan pada takdir semu.[]

2 thoughts on “Golongan Kutu Buku Garis Keras

  1. Sejujurnya pribadi mulai terkesimak saat membaca kata “Gawai” dalam artikel di atas. Entah bahasa itu adalah bahasa peradaban tahun berapa. Terlebih kata “Syifa”, yang ditulis begitu lembutnya. Entah saya mengira orang lain yang membacanya serta bahkan saya sendiri berfikir itu adalah nama permepuan. Hehe.. Merasa jadi perempuan membacanya. Pemanasan gus… Hehe

    *Bagaimanapun kata ” Iqra’ “di dalam al-qur’an mengajarkan kita akan besarnya rahasia membaca. Oleh karenanya menggantikan kata ” Iqra’ ” dengan kata “Undhzur” seperti saat ini, tak akan saya menilainya benar.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s