filsafat

Ngaji Al-Hallaj

24129540_465445040523195_2621771746586585084_n

Setiap ada kesempatan dengan Pak Dhofir selalu menyenangkan. Bisa dipastikan ada wawasan baru yang dia sampaikan kepada anggota forum.

Sekadar informasi, Pak Dhofir adalah pendiri sekaligus ketua STF Al-Farabi di Kepanjen. Sebutan “pak” sebetulanya kurang tepat, mestinya dia disebut “kiai”, sebab memang dia adalah pengasuh pesantren dan penceramah di mana-mana. Namun karena usia yang sangat muda (33 tahun), sepertinya dia lebih suka dipanggil “pak”.

Hari Minggu kemarin (18/02/2018), diadakan diskusi mengenai Tasawuf di STF Al-Farabi, temanya “Ngaji Al-Hallaj”. Nama terakhir ini tentu tidak asing, terutama bagi peminat pemikiran Tasawuf Falsafi.

Nah, kesempatan ini tidak saya lewatkan. Saya ikut mengaji juga.

Saat datang ke lokasi, situasi di situ selalu seperti biasa: antusiasme peserta amat kuat. Jumlah peserta memang  tidak seberapa, kurang lebih 30-an orang. Namun tentu saja ini mengejutkan jika dilihat dari lokasi acara dan asal para peserta.

Lokasi acaranya adalah di Kepanjen, sebuah kecamatan di Kabupaten Malang. Setahu saya, karakter penduduk setempat tidak terlalu antusias dengan “kegiatan diskursif”. Penduduk setempat lebih suka dagang atau jadi pegawai. Nah, tiba-tiba di situ ada diskusi tentang Tasawuf dan Al-Hallaj tentu anomali di mata awam saya.

Pesertanya pun berasal dari beberapa komunitas keren. Ada yang berasal dari STFT Widya Sasana, UIN Malang, IAI Al-Qolam, PP An-Nur Bululawang, Universitas Raden Rahmat, UIN Surabaya, dan beberapa lagi. Wow! What an anthusiasm! Daya magnet Pak Dhofir luar biasa sekali.

Dari situ saya mulai mengerti, STF Al-Farabi adalah pasar raya diskursus.

Kembali ke topik diskusi saat itu, Pak Dhofir menjelaskan Al-Hallaj, dan juga tasawuf, dengan bagus sekali. Gaya berbicaranya memang mantap. Dia piawai memilih diksi yang menarik, bahkan kadang “tengil”. Kemampuan humornya juga memberi kesan lebih bagi pendengarnya.

Yang amat penting melebihi semua “teknik panggung” itu adalah wawasannya. Kedalaman wawasannya di bidang tasawuf dan filsafat tidak perlu diragukan lagi.

Salah seorang peserta bertanya ketika sesi pertanyaan dimulai: “kenapa hakikat tidak boleh diungkap pada khalayak?”

Pak Dhofir memberi ilustrasi menarik. Begini katanya:

Misal anda sedang bercumbu dengan perempuan (penanya adalah lelaki), dan perempuan itu bukan istri sah Anda, kenapa itu disebut kemesuman? Sebaliknya, jika perempuan yang Anda cumbu adalah istri Anda, kenapa itu adalah kemesraan? Kiranya, ilustrasi ini cukup menjawab kegelisahan Anda.

Saya pikir-pikir, ada benarnya juga.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s