Esai

ANDAI NOVEL PRAM JADI BACAAN WAJIB

Screenshot-2018-2-6 Pramoedya Ananta Toer's 92nd Birthday
Saya masih mendambakan agar karya-karya Pram menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah tingkat SMA.
Jika ini kesampaian, mohon maaf bahwa suatu saat Tetralogi Pulau Buru lebih banyak jumlah pembacanya daripada Alquran, sebab Alquran hanya dibaca semua warga Muslim, sedangkan karya-karya Pram dibaca oleh semua warga Indonesia. Itu sama sekali bukan penistaan, bukan?
Saya masih percaya bahwa membaca karya-karya Pram, terutama Tetralogi Pulau Buru, punya dampak baik terhadap kebiasaan membaca–juga menulis. Perihal nanti anak-anak SMA itu tidak lagi membaca buku setelah lulus SMA, itu tidak mengapa. Sebab pengalaman hidup mereka, apapun profesi mereka, akan memantik memori terhadap beberapa isi novel Pram. Dengan begitu, mereka tidak akan menyesal membaca Pram.
Contoh kecil, ketika mereka dirundung kesedihan karena dimarahi atasan atau karena neraca dagangnya defisit, dia akan ingat kata-kata Pram berikut ini:
Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa memandang pada keceriaan saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada kesedihan saja, dia sakit.
Dan bila setelah lulus SMA mereka terus membaca buku (tentu karena pengaruh membaca karya Pram), mereka akan lanjut biasa menulis. Pram memuji tinggi-tinggi orang yang suka menulis. Saat karya tulisnya dicetak penerbit atau diapresiasi orang lain, dia akan teringat kata-kata Pram yang terkenal itu:
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah  bekerja untuk keabadian.
Yang tak kalah menggugah adalah saat Pram meminjam mulut Nyai Ontosoroh untuk memuji penulis. Begini katanya:
Tahukah kau mengapa Aku sayangi kau melebihi siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh di kemudian hari.
Yang sangat diharapkan dari membaca karya-karya Pram adalah ketika dia berjumpa dengan kutipan yang mengandung karakter hebat. Pembaca Pram tidak akan pernah lupa pada kutipannya tentang keadilan. Setidaknya tertanam dalam sanubari para siswa SMA itu bahwa keadilan adalah sesuatu yang penting, bahkan dalam pikiran sekalipun.
Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.
Ketika lulus SMA lalu dia menjadi guru atau pendidik, dia akan terkenang pada kata-kata Pram yang sangat terkenal itu.
Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.
Para pembaca Pram akan selalu mengingat dirinya sendiri agar tidak hanya mengurus dirinya sendiri. Mereka selalu berpikir bahwa hidupnya adalah untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya, sebab kata Pram dalam “Arok Dedes”:
Dari mana asal kedunguan? Dari terlalu banyak mengurus diri sendiri, sehingga buta terhadap yang lain-lain.

Saya masih mendambakan itu, sudah sejak lama. Hingga kini belum padam.


CATATAN I:

Gambar di atas diambil dari Google Doodle hari ini, 6 Februari 2018, tepat dengan hari kelahiran Pram. Google Doodle mengenang kelahiran Pram karena dianggap sebagai a proponent of human rights and freedom of expression who fought against Japanese and Dutch colonialism in his country. Kita tentu tidak bisa menyangkal alasan itu.
Yang menarik, diceritakan pula bagaimana karya-karya Pram berhasil selamat dari pencekalan rezim Orde Baru.
In fact, the books were smuggled out of Indonesia by Pram’s friend, a German priest, to avoid being taken or destroyed, and have now been translated into more than 20 languages worldwide.
Karena proses itu, saya jadi tersadar betapa sulit karya Pram sampai di tangan saya dan berhasil saya baca hingga memengaruhi saya sedemikian besar. Barangkali kalau dilihat dari saat ini, orang bisa mendapatkannya dengan sangat mudah: beli bajakan dengan harga sangat murah di Jalan Wilis Malang atau di tempat lain. Tapi dilihat saat Orde Baru dulu, butuh jasa penyelundup untuk melakukannya.

Diakui atau tidak, proses itu menambah nilai karya Pram. Tentu saja!


CATATAN II:

Berikut ini adalah beberapa tulisan bagus yang mengenang milad Pram:
1. Pram dan BerakMojok.co
2. Mengenai 93 Tahun Pram: Perjuangan Sang NovelisInspiradata.com
3. Mengenang Kelahiran Pak PramMedium.com
4. Pramoedya Ananta Toer: Tak Bisa DikalahkanMojok.co
5. Hidup Yang Kekal, Pram!Football-tribe.com
Iklan

3 thoughts on “ANDAI NOVEL PRAM JADI BACAAN WAJIB

  1. Saya pengen baca tetralogi pulau buru waktu SMA, kelas 2. antrian pinjamnya cukup panjang karena buku hanya satu di perpustakaan. Sampai akhirnya lupa dan baru berkesempatan membaca selepas kuliah. Dan saya merasa telat membacanya. Harusnya sedari dulu.

    Saya turut mendamba anak2 SMA membaca buku ini Mas.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s