bahasa indonesia / Esai

MARI BERBAHASA INDONESIA, SID

sumpah_pemuda

sumber: di sini

Datoek Kajo memilih tetap menggunakan Bahasa Melayu dalam sidang-sidang Volklsraad. Karena tindakannya ini, dia dibenci oleh Belanda. Bagi orang-orang Belanda, tindakan Datoek Kajo itu adalah pembangkangan dan kekurang-ajaran. Bagi Datoek Kajo, tindakannya adalah perlawanan dan resistensi.

Nah Mursid Caesar, inilah salah satu alasan kenapa saat kita ngopi bareng waktu itu saya bilang bahwa studi bahasa itu menarik, termasuk dan terutama studi Bahasa Indonesia. Dalam beberapa babak perjalanannya, Bahasa Indonesia berkali-kali jadi alat perlawanan, juga alat penindasan.

Kenapa butir ketiga dari Sumpah Pemuda 1928 memuat sumpah berbahasa? Sebab mereka sadar bahwa politik perjuangan mereka tidak bisa dilepaskan dari politik berbahasa (atau berbahasa politik).

Kenapa Ejaan van Ophujsen lantas diganti menjadi Ejaan Suwandi setelah kemerdekaan RI? Sebab ada kesadaran bahwa lepas dari Belanda berarti harus lepas juga dari ejaan yang diwarisinya. Ini efeknya besar.

Kenapa Ejaan Suwandi kemudian diganti lagi menjadi EYD di zaman Soeharto? Sebab Orde Baru ingin agar anak yang lahir di generasi 70-an melupakan era Soekarno. Ini efeknya juga tidak main-main. Generasi kita masih menggunakan ejaan ini. Dan lihatlah betapa butanya kita akan sejarah sebelum Orde Baru.

Perkembangan ejaan terkini sudah menghilangkan “YD” (Yang Disempurnakan) sebagai langkah keluar dari kungkungan Orde Baru. Tapi bagi Joss Wibisono, orang kelahiran Malang yang kini tinggal di Belanda, itu sama saja masih menggunakan EYD warisan Orde Baru. Jadi perkembangan itu sebetulnya tidak beranjak ke mana-mana baginya. Oleh karena itu, dia masih tetap menggunakan Ejaan Suwandi, sebagai bentuk perlawanan terhadap Orbaisme. Ini juga perdebatan yang asyik diikuti.

Pengertian-pengertian semacam itu sungguh harus kita pelajari, Sid. Dan sialnya saya harus mempelajarinya melalui studi Bahasa, meskipun saya bukan “orang jurusan bahasa”. Tapi tidak jadi soal, sebab saya tetap menikmatinya.

Waktu itu kamu menyebutkan suatu alasan kenapa Bahasa Indonesia terasa tidak menarik bagimu. Menurutmu, bahasa Indonesia itu kecil nilainya karena hanya berurusan dengan khayalan semata.

Nah, itulah yang saya khawatirkan, Sid. Saya khawatir kau tidak tertarik pada Bahasa Indonesia karena kesan semata, bukan karena fakta. kenyataannya, bahasa tidak hanya berurusan dengan khayalan, namun juga dengan fakta. Jika kamu sedikit saja memasuki hubungan ilmu dengan bahasa, atau filsafat dengan bahasa, akan kaulihat betapa fakta dan bahasa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Kalaupun bahasa berurusan semata dengan khayalan, itu seharusnya membuatmu tidak mengecilkannya dan tetap menghargainya tinggi-tinggi. Jika kau menganggapnya kecil karena dia hanya berurusan dengan khayalan, itu sama saja artinya kamu mengecilkan nilai khayalan. Saya harap tidak, Sid. Jangan sekali-kali mengecilkan nilai khayalan, sebab kita bukan manusia jika tidak punya khayalan, sama halnya kita bukan manusia kalau tidak punya akal-pikiran.

Ada banyak hal besar di dunia ini dimulai dari khayalan. Semakin kita memaksimalkan kemampuan berbahasa, semakin kuat daya khayal kita, maka semakin sempurnalah kita sebagai manusia.

Saya rasa tulisan ini sudah terlalu panjang. Menurutku, kau sudah tepat memilih jurusan studi bahasa. Salah besar jika kau berkecil hati. Mestinya dirayakan, sama seperti kau merayakan kelulusanmu kemarin.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s