Independen

sacha_stevenson

Di Youtube.com, tidak akan sulit kamu mencari nama Sacha Stevenson, seorang vlogger bule asal Kanada. Sacha selalu membuat video-video pendek berbahasa Indonesia yang lucu dan asyik. Kebanyakan isinya adalah serba-serbi pengalamannya sehari-hari yang didapatnya selama tinggal 12 tahun di Indonesia. Namanya terbilang kondang sebagai vlogger perempuan di Indonesia. Namun, bukan video-videonya yang akan kuceritakan kepadamu di sini, melainkan salah satu wawancaranya di saluran televisi swasta kita.

Di situ, Sacha ditanya tentang apa yang dia harapkan dari Indonesia. Sacha menjawab, “Saya tidak ingin Indonesia berubah.” Penjelasannya begini: Sacha suka takjub melihat orang Indonesia menjual secara asongan di pinggir jalan; sate, nasi goreng, bakso, martabak, roti bakar, atau apapun lah. Hanya dengan membuat gerobak sederhana dan menjual makanan-makanan sederhana itu, orang Indonesia sudah mendapat pekerjaan sendiri. Itu menakjubkan bagi Sacha.

Pemandangan seperti itu tidak akan dia temukan di Kanada. Setiap membuka usaha sendiri, izinnya ribet sekali dan tidak akan didapat dengan mudah. Dan kalau kamu tidak punya pekerjaan, kamu tinggal pergi ke pemerintah dan mengaku sedang tidak punya pekerjaan, seketika itu kamu akan dikasih duit. Sacha Tidak suka hal itu. Kenapa? Sebab itu sama saja mengemis ke pemerintah. Dan mengemis kepada pemerintah tidak akan kau temui di Indonesia.

Artinya apa? Artinya, Sacha ingin mengatakan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya sangat independen dan tidak begitu tergantung kepada pemerintah. Independensi itu ditunjukkan dengan bekerja secara informal (tanpa izin dan surat resmi dari pemerintah). Ada memang yang mengemis di jalanan, itupun hanya perkecualian dan terlihat di kota-kota besar. Mereka melakukannya karena benar-benar tidak punya modal. Di perkampungan, pengemis tidak akan mudah ditemukan. Dengan demikian, perkampungan adalah pemandangan asli independensi masyarakat kita.[]

sumber gambar: di sini.

Pidato Ahok dan Bahasa Indonesia

language

Berkat gonjang-ganjing dan hiruk-pikuk yang kini sedang memenuhi media sosial kita, saya jadi makin bersemangat belajar Bahasa Indonesia yang baik. Situasi ini ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba. Pentingnya Bahasa Indonesia sedang mendapatkan konteksnya yang paling terang-benderan.

Apa pasal? Pasalnya adalah pidato Ahok di Kepulauan Seribu itu, yang ternyata bikin ramai. Kondisi makin ramai lagi setelah pemilik akun Twitter @BuniYani menayangkan kembali video pidato itu, berikut transkrip yang tidak memuat 1 kata. Kondisi jadi makin runyam, khalayak ramai jadi heboh. Banyak orang yang melaporkan Ahok ke polisi dengan dugaan telah menista Islam. Efeknya adalah demonstrasi 4 November 2016 kemarin itu.

Timbul perdebatan di jagat maya, betulkah Ahok menista agama? Masyarakat terbelah menjadi 2 kelompok. Bagi kelompok yang satu, Ahok jelas-jelas menista agama Islam dengan penyataannya. Bagi kelompok lainnya, tidak ada penistaan dalam pernyataan Ahok. Media sosial gaduh sekali sama perdebatan ini.

Saya mah tertarik sama perdebatan soal bahasa Indonesia saja. Apa efek dari hadir dan absennya kata “pake” dalam pernyataan Ahok itu terhadap pengertian kita? Inilah inti perdebatan itu. Bagi kelompok yang satu, Ahok telah menista Islam, entah menggunakan kata “pake” maupun tidak. Argumennya bermacam-macam. Adapun kelompok sebelahnya mengatakan ada perbedaan semantis antara kalimat yang menggunakan kata “pake” dengan yang tidak. Sejauh kata “pake” hadir, tidak ada pengertian penistaan ataupun penghinaan terhadap Alquran.

Tapi yang lebih penting dari itu, ahli bahasa jadi kondang sekali kini. Kedua kelompok itu mendadak jadi pakar bahasa yang memaksakan kehendaknya. Padahal, pakar bahasa yang benar-benar pakar akan menggunakan keahliannya di pengadilan, sementara mereka di media sosial itu hanyalah jangkrik yang terlalu bising untuk didengar.

Kabarnya, pengadilan itu akan diselenggarakan secara terbuka. Semoga nanti proses pengadilannya ditayangkan dengan lengkap, saya ingin menontonnya. Saya ingin menonton videonya di Youtube juga. Dan yang terpenting, kesadaran akan pentingnya bahasa Indonesia semakin meningkat di negeri ini.

Harapan ini mengingatkan saya pada cerita mengenai persoalan kebahasaan yang dulu pernah dihadapi kaum Muslim dan mendorong peristiwa besar. Peristiwa itu adalah membubuhkan harakat dalam Alquran. Dalam sejarah Alquran, peristiwa itu adalah salah satu peristiwa penting yang menjadikan mushaf Alquran berbentuk seperti sekarang ini.

Alkisah, wilayah Muslim sudah mencapai banyak negara. Ia sudah luas sekali, hampir mencapai per tiga daratan bumi. Jadi wilayahnya mencapai ke negeri-negeri yang tidak berbahasa ibu Arab. Hal ini menimbulkan persoalan, yakni banyak sekali orang membaca Alquran secara keliru. Tidak hanya keliru, salah baca itu menyebabkan perubahan makna yang fatal juga.

Salah satu kesalahan fatal dalam membaca itu adalah ketika membaca surat At-Taubah ayat 3. Kata rasûluh (berharakat dlommah) secara keliru dibaca rasûlih (berharakat kasrah). Secara linguistika Arab (Nahwu), dua bacaan itu absah dilakukan, namun secara semantis maknanya jadi aneh dan problematis, sebab berbenturan dengan teologi Islam.

Seorang pembesar Dinasti Abbasiyah mendengar bacaan keliru ini, dan kemudian disepakati untuk menuliskan mushaf Alquran dengan harakat sesuai dengan standar yang dibuat oleh Khalîl ibn Ahmad al-Farahidî (718-786 M). Dengan demikian, hingga kini kita yang pengguna bukan bahasa Arab bisa membacanya dengan lebih mudah sebab inisiatif tersebut.

Inilah contoh kecil betapa problem kebahasaan bisa menghasilkan peristiwa besar dalam sejarah Islam. Nah, semoga peristiwa “pake” ini bisa menghasilkan peristiwa besar dalam Islam di Indonesia yang akan diwarisi dan dinikmati oleh generasi selanjutnya. Semoga.[]

sumber gambar: di sini