Esai / Ulasan Film

Keluarga Cemara

16318163076_1f051082b6_o

Yang kita rindukan dari televisi kita adalah tayangan yang mendidik. Sinetronnya, kalaupun tidak bagus, paling tidak memberi nilai yang baik buat penontonnya.

Dalam sejarah sinetron kita, tentu Keluarga Cemara adalah salah satu unggulan. Masih ingat kan bagaimana lirik lagu pembukanya?

Harta yang paling berharga adalah keluarga,
Istana yang paling indah adalah keluarga,
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga,
Permata tiada tara adalah keluarga.

Novia Kolopaking membawakannya dengan sangat bagus!

Bagi generasi yang tidak menangi sinetron ini, Keluarga Cemara bercerita tentang kehidupan sehari-hari sebuah keluarga kecil di Sukabumi. Dua orang tuanya dipanggil Abah (Adi Kurdi) dan Emak (Lia Waroka, Novia Kolopaking, Anneke Putri); begitu saja, tanpa pernah diceritakan siapa sebenarnya nama mereka. Mereka berdua memiliki tiga anak: Euis (Ceria HD), Ara (Annisa Fujianti) dan Agil (Pudji Lestari).

Keluarga ini digambarkan sebagai keluarga yang miskin. Abah bekerja sebagai tukang becak. Euis bersekolah sambil jualan Opak. Emak entah bekerja apa. Adapun Ara dan Agil belum bisa bekerja, masih terlalu kecil. Namun meskipun kehidupan mereka sederhana, sehari-hari mereka dipenuhi kebahagiaan dan rasa syukur, sekali-kali rasa syukur itu harus dibayar dengan pengorbanan yang mengundang haru.

Yang istimewa dari sinetron ini adalah kesederhanaan yang terasa tidak dibuat-buat. Dalam hal penggambaran tentang kesederhanaan, kira-kira samalah dengan sinetron Si Dul Anak Sekolahan. Kita tidak melihat perawakan yang mewah di sebuah keluarga miskin. Inilah tipikal sinetron yang tidak menjual muka, tapi talenta.

Pernah sebuah Talkshow mengundang para pemeran Keluarga Cemara tahun 2015 kemarin. Mereka bereuni di acara itu, meski tidak semua bisa hadir (pemeran Emak dan Ara tidak hadir). Dan dari menonton Talkshow itu, saya jadi tahu banyak hal dari cerita mereka.

Adi Kurdi bercerita di acara Talkshow itu bahwa para pemeran anak-anak di sinetron itu dicari di wilayah Sukabumi, bukan disiapkan dari Jakarta. Mereka mencari di sekolah TK. Uniknya, pencarian itu tidak langsung berhasil, ada beberapa sekolah TK yang tak bisa menjadi pemeran anak-anak di sinetron itu. Akhirnya, para pencari pemeran ini malah mendapatkan anak-anak di sebuah TK yang terkenal nakal anak-anaknya. Dari sekolah tersebutlah mereka menemukan anak-anak berbakat.

Saat ditanya adegan apa yang paling berkesan bagi para pemeran Keluarga Cemara, Ceria HD, si pemeran Euis, bercerita tentang sebuah adegan di Episode ke-2 (kalau tidak salah judulnya Komedi Putar). Waktu itu, Euis memenuhi permintaan Agil, si bungsu, untuk pergi ke komedi putar. Uang hasil menjual Opak yang tidak seberapa itu rupanya cukup untuk membeli karcis dan jajan seadanya. Namun, belum sempat membeli karcis, uang Euis ternyata hilang, jatuh di jalan. Karena tidak ingin mengecewakan adiknya, Euis menggendong Agil mengelilingi komedi putar sambil berlari. Agil tetap bisa tertawa ceria meski tidak jadi menaiki komedi putar.

Annisa Fujianti juga bercerita tentang pengalaman paling berkesan ketika memerankan sosok Ara di sinetron itu. Pernah suatu kali, Ara menggundul plontos rambutnya (Annisa Fujianti benar-benar menggundul rambutnya). Untuk apa ia melakukannya? Waktu itu, ceritanya, ada semacam potong rambut massal, setiap yang potong rambut akan dibayar. Ara melakukannya karena membutuhkan uangnya, tapi bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk membantu orang tua temannya yang kena suatu penyakit namun tidak punya uang ke dokter. Ara sedang berkorban untuk temannya.

Adi Kurdi di acara Talkshow itu adalah pencerita terbaik. Sekali dia bicara, semua akan senyap mendengarkan, karena memang isi pembicaraannya sarat makna. Dia bercerita bahwa dalam rangka syuting sinetron ini, dia berkali-kali harus bolak-balik Jakarta-Sukabumi per minggu. Jika dibandingkan dengan gajinya, biaya bolak-balik ini jauh lebih besar. Memerankan sosok Abah sebetulnya merugikan secara finansial. Tapi kenapa dia tetap memerankannya? Sebab film ini bagus, mengandung pesan yang bagus, dan karena itu dia harus memerankannya, meskipun sebetulnya rugi. “Saya tidak mencari uang di film ini,” katanya.

Tentang lagu Keluarga Cemara itu, Adi Kurdi juga menyebutkan satu larik liriknya: mutiara tiada tara adalah keluarga. Dari manakah asalnya mutiara? Mutiara terbentuk karena adanya luka di mantel dan cangkang kerang. Dengan kemampuannya, lama-kelamaan benda yang masuk melalui luka itu berproses menjadi mutiara. Demikian pun manusia, Adi Kurdi mulai masuk ke dalam kata-kata bermaknanya, jika manusia bisa mengelola lukanya dengan baik, hasilnya adalah mutiara yang keindahannya tiada tara. Begitulah semestinya sebuah keluarga.[]

Sumber Foto:
Dick Pountain

29 thoughts on “Keluarga Cemara

  1. bring back old memories, hahaha suka sekali sama sinetron yang satu ini, walaupun sedikit lupa dengan alur ceritanya. Cuman keinget mbak Euis (Ceria) jualan opak. kalo ngga salah sinetron ini seangkatan sama Noktah Merah Perkawinan sama tersanjung ya ? hahaha

    Suka

  2. Saya jadi terbayang dulu tiap sore harus mandi dulu baru dibolehin nonton. Hehehe… Kebetulan saya juga punya keluarga di Sukabumi, kalau main ke sana waktu kecil dulu, ditunjukin dimana lokasi syuting-nya. Ah… AlhamduliLLah masa kecil kita terselamatkan.. hehehe

    Suka

  3. Wah, saya ingat ada sinetron Keluarga Cemara, ingat rumah panggung dan Abah-nya, tapi lupa apa aja ceritanya. Wah, keren ya mengetahui tuturan Adi Kurdi yang gajinya ga lebih dari ongkos. Pengen deh nonton lagiiii

    Suka

  4. Gua dulu pernah nonton nih sinetron, kalo gak salah tayang nya siang menjelang sore… Cuma gua gak inget detail ceritanya kayak gimana… Maklumlah gua waktu itu masih anak ingusan…☺

    Suka

  5. Wah baru paham setelah sekian lama, makna dari “mutiara” yg dijabarkan disini :”

    Lupa, kalau sebelumnya hanya memandang itu suatu yg indah, bukan proses ☺

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s