Esai / Kisah

Suku Bulungan

Malam itu kucari Yahya Maksum di kediamannya untuk suatu urusan hobi. Rupanya tidak ada. Berarti dia sedang di kantor SMK Al-Khozini.

Aku tak langsung menyusulnya ke kantor, sebab kulihat di situ terdapat anak-anak bermain karambol. Mereka berhamburan saat kudatangi, tersisa seorang anak di sisi barat tak turut pergi karena terjebak di tempatnya. Seketika saya duduk di hadapannya, menandakan bahwa Aku mau jadi lawannya bermain karambol. Dengan kikuk, anak itu meladeni tantanganku.

Di tengah permainan, Aku mulai berbasa-basi. Aku memulainya sebab Aku tahu anak itu tidak akan memulai percakapan apapun sebelum kumulai. Lagi pula, Aku tak mengenal anak itu. Rasanya, baru malam itu kulihat dia di tempat itu.

“Siapa namamu?” Kataku dalam Bahasa Madura.

Dia menyebutkan namanya.

“Dari mana asalmu?” Aku bertanya lagi dalam Bahasa Madura, sambil memukul biji karambol sekenanya.

“Dari Kalimantan Utara,” dijawab dalam Bahasa Indonesia, masih singkat dan straightforward.

Aha! Kalimantan Utara! Pikiran isengku mulai tergelitik. Seumur-umur, baru tahu kali ini ketemu orang yang berasal dari Kalimantan Utara. Kupikir, ini akan jadi topik obrolan yang panjang, sebab ada banyak sekali yang bisa dieksplorasi tentang Kalimantan Utara. Hitung-hitung, ini iseng-iseng berhadiah: bermain karambol sambil menyerap pengetahuan tentang tempat asalnya.

Borneo adalah pulau terbesar di Indonesia. Juga terbesar ketiga di seluruh jagad. Saking besarnya pulau ini, ia mampu menampung tiga negara sekaligus: Indonesia, Malaysia dan Brunei.

Nama Borneo adalah sebutan yang diberikan oleh Kompeni Inggris yang kemudian menjadi terkenal ke seluruh Dunia. Nama ini mengacu kepada “Brunei”, sebuah kerajaan yang menjadi kontak mereka dalam perdagangan. Hanya orang Indonesia yang menyebut pulau ini dengan sebutan “Kalimantan”, berasal dari bahasa Sansekerta Kalamanthana, berarti “pulau yang udaranya membara” karena sangat panasnya udara di pulau itu.

Orang Tionghoa kuno menyebutnya sebagai po-ni (dialek Tionghoa untuk Brunei). Adapun Kitab Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365, menyebut pulau itu sebagai Nusa Tanjungnagara yang mengacu kepada Kerajaan Tanjungpura.

Di bawah administrasi negara Indonesia, Pulau Kalimantan pada awalnya hanya terdiri dari 3 provinsi: Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Pada tahun 1957, Kalimantan Tengah resmi menjadi provinsi sendiri. Kalimantan Utara, tempat asal anak itu, baru berdiri setelah reformasi, tepat pada tahun tahun 2012 berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2012.

***

Permainan Karambol sudah berlangsung 2 ronde. Kami seri, Aku menang sekali, dia pun sekali. Bisa dibilang, permainan anak ini tidak begitu merepotkan saya. Soal bermain karambol, tingkat permainannya paling hanya selevel dengan Ni’matul Khoir atau Aswad Malih yang sebetulnya tidak begitu mahir. Mereka berdua sering menang main karambol hanya karena disertai dengan serangan mental kepada lawan-lawannya. Sebetulnya, kemampuan mereka hanya biasa-biasa saja. Sebentar, saya mau ngakak dulu….

Kali ini mulai ronde ketiga, dan obrolan tentang asal-usul anak itu juga berlanjut.

“Kalimantan Utara itu ibu kotanya apa?” Aku bertanya lagi dalam Bahasa Madura.

Dia seperti ragu mau menjawab apa. Dari gerak-geriknya, terbaca bahwa anak ini tidak begitu mengenal tanah kelahirannya.

Tanpa menunggu jawabannya, Aku bertanya lagi sambil memukul biji karambol di arah kanan, “Sudah berapa lama di Jawa?”

“Sudah 5 tahun,” jawabnya.

Nah, itu dia jawabannya kenapa dia tidak bisa menjawab soal tanah kelahirannya. Dia di Jawa sudah sejak 2011, sementara munculnya provinsi Kalimantan Utara baru 2012, 4 tahun lalu. Bisa dimaklumi kalau dia tidak tahu terlalu detil soal provinsi tempat kelahirannya itu.

Kali ini pertanyaan-pertanyaanku harus mengenai hal-hal yang bisa dia jawab secara pasti.

“Kamu dari suku apa?” Aku tentu akan bertanya tentang ini sebab di Kalimantan sukunya sangat beragam, tidak seperti di Jawa yang cenderung homogen. Anak ini tidak mungkin dari suku Madura, sebab sejak awal dia selalu berbicara dalam Bahasa Indonesia.

“Suku Bulungan,” jawabnya, selalu ke inti jawaban.

“Suku apa? Gulungan?” Aku mengoreksi pendengaranku. Sebab, sungguh mati, nama itu terdengar asing di telingaku. Baru pertama kali itu aku mendengar ada nama suku begitu di bumi Indonesia ini.

“Bu-lu-ngan,” dia mengucapkannya lebih jelas per sukukata.

Bulungan! Suku Bulungan! Suku macam apa itu? Terdengar asing, namun menggelitik rasa penasaranku. Bulungan. Nama itu terdengar seperti berkaitan dengan pepohonan. Rupawan sekali! Saya sadar, di Indonesia ada beribu-ribu nama suku yang tidak aku kenal, namun bisa mendengar salah satunya dari penduduk aslinya begitu dramatis, seperti mendapat hidangan kopi yang namanya baru pertama kali kamu dengar. Sekali kamu mendapat hidangan begitu, rasa penasaranmu akan menggurita ke mana-mana.

***

Sebagai sebuah bagian dari administrasi Indonesia, Bulungan sudah banyak dieksplorasi dan bisa dicari di mana-mana. Misal, ada sebuah kabupaten bernama Bulungan, salah satu kabupaten yang terdapat di Kalimantan Timur. Nama ini pada awalnya adalah nama kesultanan yang pernah berdiri di wilayah Kalimantan bagian utara.

Kisah kesultanan Bulungan bermula pada abad ke-16, yakni bermula dari Datuk Mencang yang berasal dari Brunei. Kekuasaan para sultan Bulungan selalu tarik menarik antara berbagai kekuasaan yang lebih besar saat itu. Dan kesultanan ini berakhir dengan tragedi, yakni ketika kesultanan ini dibantai habis tanpa sisa. Kerajaannya pun dibakar hingga rata dengan tanah. Tahun 1964 merupakan akhir dari kisah kesultanan ini. Sejak itu, Bulungan hanya menjadi kabupaten yang sederhana.

Namun sebagai sebuah entitas budaya dan etnis, Bulungan tentu masih bertahan hingga kini. Suku bangsa yang bernama Bulungan itu masih berujud dan memiliki tradisi yang tetap bertahan. Tepat di titik itulah sebetulnya rasa penasaranku mengarah.

“Suku Bulungan itu memiliki bahasa sendiri ya?” Kali ini kutanyakan dalam Bahasa Indonesia.

“Punya. Cuma saya enggak tahu mengucapkannya,” jawabnya sambil tersenyum, tampak seperti terkejut karena baru pertama kali mendapat pertanyaan begitu dari orang asing.

Malam itu, sambil bermain karambol, kepalaku berputar-putar tentang banyak hal, terutama soal lawan mainku dan bahasa leluhurnya yang tidak bisa dia ucapkan. Tampaknya, dia menjadi bagian dari kebudayaan baru yang secara tidak sadar, perlahan namun pasti, sedang memutus sejarah dengan masa lalu sendiri. Apa yang sedang dialami oleh generasi saat ini adalah keterputusan itu, sehingga tidak heran banyak sekali terlihat orang-orang yang kepribadiannya terbelah: di satu sisi mereka ada di masa kini, di sisi lain masih tertinggal di masa lalu.

Saya mulai berpikir, sebaiknya anak ini berkenalan dengan novel Pram.[]

3 thoughts on “Suku Bulungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s