Esai

Tidur Dan Terjaga

Sama seperti individu, demikian Mustafa al-Ghalayini, masyarakat pun bisa mengalami keadaan tidur dan terjaga. Masyarakat yang tidur adalah masyarakat yang lemah dan tak berdaya, sedangkan masyarakat yang terjaga adalah masyarakat yang terus bergerak dan berswadaya.

Apa sebabnya suatu masyarakat bisa tertidur dan apa pula sebabnya mereka terjaga?

Masyarakat tertidur dikarenakan beberapa sebab, menurut Mustafa al-Ghalayini. Di antara faktor penyebab terpenting adalah dua:

Pertama, bekunya para pemuka agama mereka. Kebekuan ini ditandai dengan sikap mereka yang menghalang-halangi masyarakat untuk bergerak maju. Yang parah, para pemuka agama ini terkadang menjadikan agama sebagai sekadar kendaraan untuk memperoleh kepentingan pribadi mereka. Para pemuka agama menjadikan agama sebagai jerat untuk memasung pikiran umat, agar mereka berpaling dari para ilmuwan alam dan sosial. Karena jerat ini, umat awam jadi suka mengafirkan dan memfasikkan orang lain, suka menghalalkan dan mengharamkan (sebetulnya bukan otoritas mereka), bahkan terkadang menghalalkan darah sesamanya.

Kedua, para pemimpin dan pemegang kebijakan yang sewenang-wenang. Dengan jabatannya, mereka memasung keinginan masyarakat untuk bangkit dari jurang kehinaan, kebodohan dan ketidak-berdayaan.

Kedua sebab ini hanyalah sebagian kecil dari sebab-sebab lain yang membuat umat menjadi tidak berdaya.

Adapun masyarakat yang sedang terjaga adalah kebalikan dari keadaan di atas. Masyarakat ini adalah masyarakat yang mulia. Hal ini disebabkan karena beberapa hal:

Di antaranya adalah munculnya orang-orang yang resah atas kebodohan, ketak-berdayaan, dan kehinaan umat. Orang-orang ini gelisah dengan keadaan umatnya. Dia menyebarkan spirit perjuangan dan himmah di kalangan masyarakat. Dan bila spirit dan himmah ini bercokol di kalangan masyarakat, dia ajak pemerintah dan para pemegang kebijakan untuk bahu-membahu bersama masyarakat mengubah keadaan rusak ini.

Bila hal ini benar-benar dilakukan, akan tampak bahwa menghilangkan kezaliman dan kesewenang-wenangan serta mengubah struktur masyarakat tidaklah cukup untuk memuliakan dan memajukan masyarakat jika mereka tetap bodoh dan tak-berdaya. Kebodohan umat jauh lebih sulit dihilangkan ketimbang kezaliman pemerintah. Kebodohan dan ketak-berdayaan ini adalah rintangan yang jauh lebih sulit ketimbang kesewenang-wenangan pemerintah dan kebekuan pemimpin agama.

Menurut Mustafa Al-Ghalayini, jalan untuk menghilangkan ketak-berdayaan dan kebodohan umat ini tidak bisa lain kecuali menyulut api revolusi moral. Revolusi moral berarti menghapus akhlak yang rusak dan kebiasaan yang berbahaya.

Di jalan revolusi ini, cara yang paling efektif adalah dengan menyebarkan koran-koran yang bebas dan jujur, yakni koran-koran yang tak sudi menjual kemuliaan dan nurani dengan secuil uang. Cara lain yang sangat efektif juga adalah menyebarkan buku-buku yang berguna, yang bisa dikonsumsi oleh semua kalangan.

Oleh karena itu, tugas para cendekiawan adalah menyebarkan buku-buku dan koran-koran yang akan membangkitkan umat ini. Buku-buku dan koran-koran inilah yang akan membuat umat menempuh jalan kemuliaan.

Adapun tugas kaum muda adalah menjadi berdaya. Kaum muda harus membaca buku yang baik-baik, agar bersama-sama umat dia bisa bangkit dan berdaya.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s