Kisah

Komunikasi

Di sini, komunikasi itu seperti benang kusut yang sulit dicari ujungnya. Sangking ruwetnya sehingga seperti mustahil mengurainya menjadi utas yang rapi. Silang sengkarutnya sudah sedemikian rumit, hingga pesan yang ingin disampaikan kerapkali mampet tak tersalurkan. Kalau mau disederhanakan, penghalang komunikasi itu adalah rasa sungkan. Entah apa makhluk bernama sungkan itu, tapi ia seakan sedemikian berkuasanya … Baca lebih lanjut

Ulasan Buku

Tasawuf [8]

TASAWUF DI INDONESIA Tasawuf di Indonesia sejalan, sedarah-sedaging dengan mazhab Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya mazhab Syâfi‘î. Dalam sejarah perkembangan tasawuf di Indonesia, pengaruh Al-Ghazâlî asy-Syâfi‘î lebih besar daripada pengaruh Al-Hallâj asy-Syî’î. Pada jaman kejayaan kerajaan Islam Pasai sudah ada orang Indonesia menjadi guru tasawuf yang tinggi dan diakui, bukan saja di negerinya, bahkan mengajar di … Baca lebih lanjut

Ulasan Buku

Tasawuf [7]

TASAWUF MULAI MENURUN Tasawuf sesudah abad ke-8 dan seterusnya (abad ke-14 masehi). I. Di abad ini tidak berkembang pikiran baru dalam tasawuf. Meskipun banyak pengarang kaum sufi, seumpama Al-Kasyânî (w. 793 H./1321 M.) dan ‘Abd al-Karîm al-Jîlî, namun mereka tidak mengeluarkan pendapat baru yang dapat dikembangkan. II. Kemajuan perasaan dengan tuntunan filsafat atau kemerdekaan pikiran … Baca lebih lanjut

Ulasan Buku

Tasawuf [6]

TASAWUF DI PERSIA I. Ahli-ahli fikir, penyair, filsuf Islam, sufi telah banyak timbul di Persia. Dalam buku ini kita tidak membicarakan filsafat, sebab itu tidaklah kita membicarakan Ibn Sînâ, ‘Umar Khayyâm, dan lain-lain. Tidak pula kita membicarakan kesusastraan, sebab itu kita tidak membicarakan Al-Firdausî, Sa‘dî, Rudkî, dan lain-lain. Meskipun begitu, seluruh ahli tasawuf Persia itu … Baca lebih lanjut

Ulasan Buku

Tasawuf [5]

TASAWUF DAN FILSAFAT KETUHANAN Tasawuf abad ke-6 dan ke-7 M. (12-13 H.) I. Keistimewaan tasawuf abad ke-6 dan 7 ialah lanjutan penyelidikan dengan cara filosofis di dalam membuka hijab. Riyadah dan mujahadah lebih diperkuat daripada abad-abad yang lalu, melemahkan kekuatan indera lahir dan memperkuat kekuatan indera batin, memberi makanan roh dan akal dengan ibadah dan … Baca lebih lanjut

Ulasan Buku

Tasawuf [4]

ZAMAN AL-GHAZÂLÎ Tasawuf Abad kelima (11 M.) I. Abad keempat sangatlah berkembang tiga ilmu: tasawuf, Ilmu Kalam dan Fikih. Filsafat telah Yunani dan lain-lain telah masuk ke dalam masyarakat Islam. Ketika itu berkembang pula mazhab Isma‘iliyah, yakni salah satu cabang yang sangat ekstrem dalam kaum Syi’ah. Di abad ini muncul Abû Hâmid Al-Ghazâlî (450-550 H./1057-1111 … Baca lebih lanjut

Ulasan Buku

Tasawuf [3]

TASAWUF ABAD KE-3 DAN KE-4 I Setelah memasuki abad ketiga dan keempat, ilmu tasawuf telah berkembang dan telah menunjukkan isinya yang dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu soal ketuhanan (metafisika), soal diri sendiri (jiwa), dan soal akhlak (mengenai masyarakat). Rabî‘ah Al-‘Adawiyah telah melengkapkan jiwa tasawuf dengan ajarannya, yaitu hubb, cinta. Ma‘rûf al-Karakhî, seorang sufi besar … Baca lebih lanjut