Seven Years in Tibet

Seven_Years_in_Tibet_coverIni adalah bocoran dari salah seorang kawan yang saya akui piawai merangkai cerita. Hal-hal yang sering tidak jadi perhatian kebanyakan orang sanggup dia cermati lalu dia olah menjadi cerita versinya sendiri. Kelakuannya merangkai cerita ini seringkali berhasil menyedot ketertarikan kami, kawan-kawannya sehari-hari.

Menurutnya, agar sebuah cerita menjadi meyakinkan, terdapat banyak strategi yang bisa dipakai. Dia mencontohkan beberapa film yang menurutnya berhasil membangun cerita dengan bagus. Ada banyak film yang dia sebutkan dengan tipe bercerita masing-masing.

Salah satunya dia menyebut film Seven Years in Tibet. Menurutnya, film ini berhasil membangun cerita yang menarik sebab ceritanya bertingkat. Film ini mengangkat problematika individu, lalu melibatkannya dalam konteks peristiwa besar yang kemungkinan besar akan dikenal oleh para penontonnya. Saat cerita individu itu bergeser ke konteks peristiwa besar, harus terdapat plot yang menjadikan pergeseran itu menjadi masuk akal dan tampak lumrah. Kunci keberhasilannya sebetulnya terdapat di dalam plot itu. Lalu ketika film ini hendak menyelesaikan konflik, bukan peristiwa besar itu yang diselesaikan, melainkan kembali ke cerita individu yang sejak awal menanggung problem. Akhirnya adalah bagaimana individu itu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.

Saya langsung memburu film tersebut. Dan syukur puji Tuhan, alhamdulillahi rabbil alamin, saya berhasil menontonnya.

***

Seperti kawan saya itu bilang, film ini sebetulnya cerita tentang Heinrich Harrer (Brad Pitt) dengan problem pribadinya. Harrer adalah seorang pendaki yang namanya sudah tersiar di media-media sebab kemampuannya menginjakkan kaki di beberapa puncak gunung terekstrem di Eropa. Talentanya ini membuatnya menjadi selebriti di Eropa selama masa kekuasaan Nazi di Jerman.

Namun, meski dia dipuji-puji di media-media, namun kehidupan rumah tangganya sedang di ujung tanduk. Istrinya, Inggrid (Ingeborga Dapkūnaitė), sedang hamil. Kehamilannya tidak diinginkan oleh Harrer. Alasannya mungkin karena Harrer dan Inggrid belum ingin punya anak. Namun apa daya, anak itu tetap muncul di rahim Inggrid. Dan kenyataan itu memantik pertengkaran-pertengkaran yang sebetulnya tak perlu terjadi antara keduanya.

Untuk menghindar neraka rumah tangganya itu, Harrer memutuskan untuk mendaki di tempat yang sangat jauh: Himalaya. Keputusannya ini terdengar oleh media, sehingga keberangkatannya menarik wartawan dari mana-mana. Berita bahwa Harrer akan mendaki Himalaya tersiar ke mana-mana.

Demikianlah, Harrer menghindar dari kemelut rumah tangganya dengan mendaki Himalaya.

Namun gagal. Karena cuaca yang sangat buruk, rombongan pendaki itu terpaksa turun ke pos yang aman. Setelah badai salju yang mengerikan itu berhenti mereka bisa melanjutkan lagi. Dan penantian berhentinya badai salju itu berlangsung cukup lama, rupanya.

Tepat menjelang Harrer dan rombongan hendak mendaki lagi, mereka dicegat oleh tentara Polandia. Polandia saat itu adalah salah satu lawan Jerman. Karena saat itu ternyata Jerman kalah dari sekutu, Harrer ditangkap dan rombongan pendaki dipenjara di sebuah kamp di perbatasan Himalaya dan Bangladesh.

Di situlah Harrer tinggal selama bertahun-tahun. Dari balik kawat kamp, Harrer berusaha menghubungi istrinya melalui surat. Namun, selalu mendapat balasan dingin dari Istrinya. Akhirnya, dia mendapat surat dari istrinya bahwa dia telah menikah dengan lelaki lain yang sangat Harrer kenal. Dia juga dapat surat dari anaknya, menyatakan bahwa Harrer tak pantas jadi ayahnya. Dua surat terakhir ini membuat Harrer sangat terpukul. Dia frustasi.

Beberapa saat kemudian, Harrer dan rombongan pendaki Himalaya berhasil lolos dari kamp itu berkat sebuah penyamaran yang konyol. Dari rombongan itu, Harrer memutuskan menyeberangi Himalaya menuju Cina sebab pulang ke rumahnya di Austria sudah bukan lagi obsesinya. Di Cina mungkin dia bisa memulai hidup serba baru.

Pegunungan Himalaya adalah wilayah maha luas. Bahkan perkiraan seorang ahli pun, jika bukan penduduk asli, bisa saja menyesatkan. Di tengah perjalanan, Harrer berjumpa salah seorang rombongan pendaki yang tersesat. Dialah Peter Aufschnaiter (David Thewlis) yang kemudian memutuskan berangkat ke Cina bersama Harrer menembus pegunungan Himalaya.

Perjalanan tak menentu itu malah membawa Harrer dan Aufschnaiter ke Lhasa, tempat suci di mana Dalai Lama ke-12 (Jamyang jamtsho Wangchuk) tinggal. Biasanya, orang asing akan diusir dari tempat suci itu. Namun mereka berdua beruntung, sebab Dalai Lama malah memperkenankan mereka untuk tinggal di Lhasa. Harrer bahkan kemudian menjadi guru pribadi sang Lama.

Di sinilah hubungan cerita pribadi Harrer dengan peristiwa besar itu dimulai: Lhasa dan Dalai Lama ke-12.

Beberapa saat sebelum Harrer dan Aufschnaiter memasuki Lhasa, Tibet baru saja mengangkat seorang Dalai Lama baru. Sosok Lama adalah jabatan spiritual tertinggi yang akan menitis ke seseorang di setiap generasi.  Dalai Lama baru ini adalah seorang bocah yang harus belajar banyak hal. Bocah ini memang serba ingin tahu. Perkenalannya terhadap Harrer dan Aufschnaiter di Lhasa adalah agar mereka bisa mengajarkan banyak hal kepadanya.

Uniknya, Harrerlah yang dia undang ke istana Dalai Lama dan dia minta secara pribadi untuk mengajarinya semua hal. Dalai Lama belajar bahasa Eropa, geografi, kebudayaan Eropa, teknologi dan lain-lain. Karena serba ingin tahu, Dalai Lama juga sering sekali bertanya tentang apapun kepada Harrer. Bagi Dalai Lama, Harrer adalah guru yang memberinya banyak wawasan.

Sementara bagi Harrer, bisa melayani bocah luar biasa itu sebagai guru adalah sebuah karunia. Hubungan antara dirinya dangan sang Lama bukan sekedar hubungan guru-murid atau pelayan-tuan. Lebih dari itu, mereka berdua sudah seperti teman paling akrab. Dengan Harrer, Dalai Lama bisa berdiri sederajat. Sebaliknya dengan Dalai Lama, Harrer serasa menemukan sosok anak yang bisa dia didik setelah dia tersisih dari hati anaknya di Austria.

Secara tak sengaja, Harrer merasa mendapati bahwa lobang-lobang di hatinya tertutupi dengan persahabatannya dengan Dalai Lama. Kenyataan ini Harrer sadari justru karena Dalai Lama cilik itu mengingatkannya.

Lama-kelamaan, setelah bertahun-tahun tinggal di Lhasa, Harrer mendapati bahwa tempat suci itu sedang terancam oleh ekspansi Cina yang komunis dan sedang bangkit. Kebangkitan negara tetangga itu justru menjadi agresif, dan kemudian menganeksasi Tibet sebagai bagian dari negaranya. Inilah peristiwa besar itu, yang sangat terkenal dalam sejarah.

Sebelum agresivitas Cina mulai brutal, Harrer berpamitan akan pulang ke negara asalnya, Austria. Persahabatannya dengan Dalai Lama cilik yang bijaksana membangkitkan keberaniannya untuk kembali ke kampung halaman.

Di Austria, dia mengunjungi bekas istrinya agar bisa bertemu dengan anaknya yang rupanya diberi nama Rolf. Anaknya bersembunyi di balik tembok kamar, agar tak terlihat oleh Harrer. Namun itu tidak masalah bagi Harrer. Dia membawa hadiah untuk anak lelakinya yang baru saat itu dia berusaha temui. Hadiah itu adalah sebuah kotak yang jika dibuka akan mengeluar suara musik. Kota semacam itu juga sangan disukai oleh Dalai Lama kecil. Sembari mengintip dari balik pintu, Harrer melihat Rolf membuka kotak itu dan mendengarkan suaranya dengan antusias, persis seperti Dalai Lama juga mendengarkan dengan antusiasme yang sama.

Pemandangan itu menjembarkan hati Harrer. Perasaan lega itu sungguh sebuah keajaiban, sebuah pelepasan dari beban perasaan bersalah yang dia tanggung bertahun-tahun.

***

Saya mendapat kesan, film hasil arahan Jean-Jacques Annaud ini juga bercerita tentang perjumpaan dua budaya. Barat diwakili oleh sosok Harrer dan Timur diwakili oleh Lhasa berikut semua penduduknya.

Saat Dalai Lama belajar banyak dari Harrer, sebetulnya dia sedang berdialog dengan sebuah kebudayaan Barat.

Saat Dalai Lama meminta Harrer untuk membangunkan untuknya sebuah gedung bioskop, para biksu yang sedang menggali tanah untuk fondasi komat-kamit karena melihat beberapa ekor cacing bergeliat-geliat di tanah. Harrer heran, apa-apaan orang-orang ini kok ketakutan seperti akan datang sebuah bencana? Harrer lantas mengadu kepada Dalai Lama. Dalai Lama menjelaskan konsep karma kepadanya. “Tapi itu cuma seekor cacing,” kata Harrer keheranan. “Semua kehidupan adalah hasil reinkarnasi,” Dalai Lama menjelaskan. “Para biksu itu menganggap, bisa jadi cacing-cacing itu adalah inkarnasi dari orang tua mereka.” Mau tidak mau, Harrer harus mengerti juga mengenai kebudayaan Timur ini.

Di adegan lain, terdapat dialog menarik mengenai perjumpaan kebudayaan ini.

Karena Harrer dan Aufschnaiter disambut baik di tanah suci Lhasa, mereka didatangi seorang penjahit terbaik di Lhasa untuk membuatkan mereka setelan. Penjahit itu adalah seorang perempuan cantik bernama Kungo Tsarong (Mako) yang pintar berbahasa Eropa. Menemukan perempuan cantik, dua orang asing itu beraksi tebar pesona untuk menarik perhatian si penjahit.

Beda antara Harrer dan Aufschnaiter, Harrer adalah tipikal lelaki yang agresif dan berusaha menunjukkan prestasi-prestasinya di hadapan perempuan itu. Aufschnaiter sebaliknya, kalem dan lebih rendah hati.

Suatu hari, Harrer menunjukkan pada Kungo Tsarong foto-foto kliping Koran yang menunjukkan dirinya dipuji-puji. Tentu saja Harrer hendak unjuk diri. Tapi  Kungo Tsarong malah berkomentar begini: “Jadi inilah perbedaan mendasar antara peradaban kami dengan punyamu. Kau [orang Barat] menghargai seseorang yang berusaha keras meraih puncak di setiap jalan kehidupan, sedangkan kami [orang Timur] menghargai orang yang melepas egonya. Kebanyakan orang Tibet tidak akan memercayai dirinya melalui jalan seperti ini.”

Di akhir kompetisi merebut hati Kungo Tsarong itu, bisa ditebak, Aufschnaiter yang kalem dan rendah hatilah pemenangnya. Lelaki itu mewakili gaya ‘melepas ego’ tipikal orang-orang Tibet. Aufschnaiter dan Kungo Tsarong akhirnya menikah.

Lebih dari itu, Aufschnaiter betul-betul menjadi manusia Tibet dengan segenap tradisi kunonya. Saat Harrer berpamitan ke rumah temannya itu, Aufschnaiter dan Kungo Tsarong menjamunya dengan minuman teh keju. Menurut tatakrama setempat, mereka harus meneguknya sekali langsung habis. Tapi setelah itu Aufschnaiter menuang lagi minuman itu ke gelas Harrer. Harrer langsung menolak keramahan sahabatnya itu, sebab teh keju masih terasa asing di tenggorokannya. Tapi Harrer salah sangka, tuangan teh keju kedua itu bukan untuk dia minum. Aufschnaiter sedang mempraktekkan tradisi kuno di Tibet. “Secangkir teh segar dituangkan untuk yang dicintai yang akan pergi. [Tapi] ini [harus] tetap ditempatnya tak tersentuh, menunggu dia kembali,” kata Aufschnaiter, menjelaskan. Sebuah kehangatan persahabatan khas Tibet yang masih belum Harrer mengerti.

Perjumpaan antara dua kebudayaan itu digambarkan dengan sangat bagus: penuh kejutan tapi hangat, sarat makna tapi sekaligus mengundang tawa. Bumbu semacam ini sangat penting dalam menyusun sebuah cerita. Bumbu ini tampaknya belum diceritakan oleh kawan saya yang mahir bercerita itu.

***

Di ujung cerita, Harrer dan Rolf mendaki bersama-sama di sebuah gunung yang tertutup salju. Mereka berdua berhasil mencapai puncak. Namun kali ini tanpa publikasi, tanpa hiruk-pikuk media. Harrer telah berhasil mengendalikan egonya berkat perjumpaannya dengan kebudayaan Timur. Namun bukan berarti Harrer tercerabut dari kebudayaannya sendiri. Mendaki ke puncak gunung seakan menegaskan bahwa Harrer masih tetap menghargai puncak pencapaian kehidupan. Harrer masih tetap manusia Barat, namun dengan kendali ego yang lebih mantap.

Di puncak itu dia duduk dengan tatapan kosong, seakan berusahan menembus pemandangan di depannya hingga ke Tibet. Bersamaan dengan itu, muncul tulisan yang menjelaskan keadaan Tibet setelah aneksasi Cina.

Sejuta orang Tibet meninggal akibat pendudukan Cina. Enam ratus kuil dihancurkan. Tahun 1959, Dalai Lama dipaksa mengungsi ke India. Dia tetap hidup hingga sekarang, berusaha mempromosikan resolusi damai dengan Cina. Tahun 1989, dia dianugerahi nobel perdamaian. Heinrich Harrer dan Dalai Lama tetap bersahabat hingga sekarang.[]

10 tanggapan untuk “Seven Years in Tibet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s