Ulasan Buku

Novel: 5 cm

Berhubung tidak ada data pasti, saya menerka-nerka kenapa kiranya orang-orang suka novel populer. Banyak sekali kemungkinannya. Ini berangkat dari rasa penasaran yang betul-betul.

Setelah membaca novel 5 cm ini, rasa penasaran saya makin bertambah. Novel kayak begini diganderungi oleh banyak sekali orang. Tidak tanggung-tanggung, sejak terbit tahun 2005 lalu novel ini cetak ulang hingga ke-25 kalinya. Ini sambutan yang luar biasa.

Kok bisa sebanyak itu pembacanya? Lagi-lagi benak saya tergelitik.

Mungkin karena segmen pembaca novel populer semacam 5 cm ini adalah kaum muda, mayoritas penduduk Indonesia saat ini jika diukur dari segi usia. Berhasil merebut minat kaum muda, novel ini laris manis seperti kerupuk di warung-warung. Inilah terkaan pertama saya.

Dengan sangat lihai, penulis novel ini menampilkan cerita yang sangat khas kaum muda. Mengikuti jalan ceritanya, saya jadi maklum bagaimana kejiwaannya kaum muda kita. Masa-masa pencarian identitas, kaum muda adalah para petualang yang sedang berusaha menemukan pencerahan spiritual. Dari lirik lagu-lagu, dari penyair-penyair kondang, dari kutipan-kutipan para tokohlah kaum muda belajar menyerap sendiri nilai-nilai. Di novel ini, ada banyak sekali kutipan-kutipan lirik lagu, puisi ataupun omongan para bijak bestari.

Dialognya pun khas kaum muda. Novel ini anti garing. Garing adalah sesuatu yang tampaknya mengacu pada sumber keengganan kaum muda: kecanggungan, rutinitas, kekakuan sikap, serba itu-itu saja. Bagi kaum muda, kemerdekaan dan kebaruan itu memesona. Mereka suka sekali tantangan. Suka sekali kejutan. Semua itu terlaksana dengan pola pergaulan yang cair dan setara.

Di sisi lain, bergerombol layaknya semut adalah kegemaran kaum muda yang lain. Perjalanan ke semua arah mata angin lebih menyenangkan dilakukan bareng-bareng. Melakukan apa-apa juga sebaiknya bareng-bareng. Kata nongkrong menggambarkan komunalisme hasil olahan kaum muda. Persahabatan adalah problem sehari-hari mereka.

Terkaan kedua saya, karena segmen pembaca novel ini adalah kaum melankolis. Pas sekali, novel ini memang mambangkitkann rasa haru pembacanya. Di dunia maya, banyak sekali pengakuan mencengangkan dari pembaca yang menangis setelah membaca novel ini. Ya, ini mencengangkan, sebab melankolia mereka mudah sekali dirangsang.

Keberhasilan membuat pembacanya menangis tampaknya menjadi tolok ukur keberhasilan novel ini. Di sampul bagian belakang, bukannya komentar para ahli yang dipampang, melainkan pengakuan salah seorang pembaca yang menangis setelah membaca novel ini.

Terkaan ketiga, karena segmen pembaca novel ini adalah orang-orang yang butuh akan motivasi. Jangan tanya ada berapa motivasi di dalam novel ini. Semuanya dinyatakan secara eksplisit. Semua itu seakan sengaja ditujukan untuk para pembaca yang sedang labil, gamang, lesu, terpuruk. Orang-orang yang berhasil berkat kerja kerasnya jadi andalan untuk dikutip ucapan-ucapannya.

Saya agak ragu membuat kesimpulan dari terkaan ketiga ini. Apa benar kejiwaan bangsa kita sedemikian lesu? Ah, tidak mungkin! Tapi kenyataannya, novel dengan berjuta kuotasi motivasi ini terjual sedemikian banyak. Saya lebih suka menghibur diri: inilah tanda-tanda kebangkitan kita.

Bahasa
Novel ini tidak akan digemari oleh para guru Bahasa Indonesia. Bahasanya berantakan, tak terurus. Benar-benar kacau!

Nama penyuntingnya terpampang di belakang lembar sampul, tapi fungsinya tak kelihatan. Sungguh keterlaluan, dicetak ulang begitu banyaknya, tapi tak sedikit pun ada keinginan untuk memperbaiki bahasanya.

Saya yakin, penulisnya bukan orang awam perihal bahasa yang baik dan benar. Ketika menggambarkan pemandangan yang indah, penulisnya menjadi pengguna Bahasa Indonesia yang patuh dan taat aturan. Tapi ketika beralih ke dialog antar para tokoh, bahasanya menjadi pelanggar bahasa paling kejam.

Mungkin penulis novel ini menghadapi dilema. Di satu sisi, dia ingin menghadirkan suasana yang serba akrab dan tidak kaku, sehingga beberapa bahasa tutur lebih baik dia pakai agar tampak realistik. Di sisi lain, kebanyakan bahasa tutur itu melanggar tata aturan bahasa tulis yang saat ini sedang disepakati bersama.

Dilema di atas, berhasil diatasi dengan menuliskan bahasa tutur dengan huruf miring. Kata-kata semacam nggak, pembokat, dipilu-piluin, nyekek, diceritain, gue, lo, kok, ngelempar, ngomongin, nurunin, nunjukin dan banyak lagi ditulis dengan huruf miring. Ini membuktikan bahwa penulisnya paham bagaimana memperlakukan kata-kata informal dalam suatu tulisan. Jelas sekali penulisnya tahu aturan ini.

Hanya saja, penulisnya tidak konsisten. Kalau semua kata informal di atas ditulis dengan huruf miring, kenapa kata-kata lain masih berdiri tegak? Saya menemukannya banyak sekali. Tau, aja, kalo, gitu, ngagetin, nanya, nyambung, nyebur-nyebur, ngakak, nyasar, emang, ngomong, mulu, nyeletuk, abis, ngasal, uler, telpon, sebel, ngobrol, nyari, ngirit, adalah contoh-contohnya.

Belum lagi soal keliru ketik. Setiap kali mendapatkan contoh keliru ketik, saya langsung kehilangan pleasure, tak peduli sebagus apapun kalimatnya disusun. Sepilas (halaman 17, 217 dan 298) seharusnya “sekilas”, sepulu (halaman 230) seharusnya “sepuluh”, remah remah (30) seharusnya “remah-remah”. Kata berulang tanpa tanda hubung seperti remah remah ini pun kerap saya temui.

Inkonsistensi dan keliru ketik ini mengganggu sekali. Apa begini tabiat novel populer? Saya rasa tidak semua separah ini.a

Film
Karena sukses penjualan itu, novel ini difilmkan akhir tahun 2012. Saya menontonnya justru sebelum membaca novel ini. Film ini digarap dengan lumayan bagus.

Film-film yang diadaptasi dari novel kerapkali mengecewakan bagi mereka yang pernah membaca novelnya. Film Harry Potter atau The God Father adalah contoh paling gamblang. Saya berpikir setelah menonton film 5 cm, tentu novelnya akan lebih bagus.

Rupanya saya terkecoh. Sukses film itu menarik ketertarikan saya adalah berkat penulis naskah dan sutradaranya.[]

38 thoughts on “Novel: 5 cm

  1. saya sdh nonto filmnya.. filmnya bagus.. klo yg lain mengkritik banyak yg hilang di gunung krna habis nonton film 5 cm. itu krna mereka tidak mengerti detail’ tentang naik gunung.hanya ikut’ aja…

    Suka

  2. Pengen baca 5 cm, eh, ketemu resensi ini. Hihi.. Thank’s buat resensinya, Pak. An kebetulan baca novel serupa dengan 5 cm, sama-sama pendakian semeru, judulnya Altitude 3676 ^_^
    Kapan-kapan An kasih resensinya, ya, Pak! Insya Allah.. šŸ˜€

    Suka

  3. Hi Hilal!

    Lama rasanya tidak berkomentar. ^_^

    Saya beli novel ini semasa liburan tahun 2006 di jogja. Habis membaca juga sekitar awal tahun 2007. Saat itu, tidak tahu bahawa ini sebuah naskhah popular. Membeli kerana judging the book by its cover. It’s simplicity. Baru sahaja selesai menonton filem ini lewat YouTube. Memang saya tidak pernah berpuas hati dengan mana2 filem hasil adaptasi naskhah. Tapi ya, masih okay sahaja.

    Cumanya, tidak sangka ya. Pendapat Hilal tentang ketidaksetujuan naskhah ini sehingga begitu sekali. Mungkin kerana saya masih belum kenal penulisan warga Indonesia dengan baik.

    Oh, bukunya Ayu Utami yang dibeli tahun 2006 juga masih belum dibaca. -__-“

    Suka

    • Furaiah! Senang akhirnya kamu berkunjung ke sini. šŸ™‚

      Sejak kamu ke Jepun, belum ada tulisan di blogmu. Cuma twitter saja! Saya berharap membaca pengalamanmu di Jepun bukan melalui twitter, tapi blog.

      Soal novel ini, sebaiknya Furaiah baca sendiri. Biarkan kesan-kesan itu Furaiah sendiri yang tangkap, sehingga bisa berikan penilaian sendiri.

      Ayu Utami punya style. Menurut saya, novel-novelnya layak dibaca šŸ™‚

      Suka

  4. Secara subyektif, saya tidak begitu suka dengan novel motivasi ala 5 cm ini… bintang 3 cukuplah…
    apalagi ekspetasi yang muncul setelah membaca novel2 seperti ini lantas menjadi peniru dari setiap adegan dan dialog dalam novel, mengandaikan seperti dalam novel 5 cm itu..
    pun novel ini terlalu ribut dengan pesan (seperti kata mas hilal) terlalu vulgar… padahal kedewasaan dan kematangan itu adalah dengan kita menjadi pemikir, perenung, berkontemplasi akan sebuah karya yang kita baca dan kita lihat… menerjemahkan dalam sisi kehidupan kita sendiri.. bukan menjadi pengekor dan epigon tokoh2 5 cm…

    btw, postingan mas hilal makin mantap saja..
    dan sekalian numpang lapak promosi buku anak mas…
    http://atmokanjeng.wordpress.com/2013/08/31/promo-novel-anak-laskar-anak-pintar/

    Suka

    • Aha! Mas Andri lama sekali tidak berkunjung kemari. Terima kasih sekali atas komentarnya šŸ˜‰

      Oh, buku baru lagi? Mas Andri ini emang josgandos, produktif abis! Saya akan membagikan infonya via postingan nanti.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s