bahasa indonesia / Esai

Penyakit Menular Sok-Inggris dalam Bahasa Indonesia

Baru-baru ini ketemu tulisan lama oleh Remy Sylado. Oleh karena isinya masih tetap relevan, saya terbitkan ulang di sini.

Remy Sylado*
Penyakit Menular Sok-Inggris dalam Bahasa Indonesia

AWAL pekan pada bulan Oktober lalu, sebelum meninggalkan Hotel Santika di Jalan Jenderal Sudirman, Yogya –yang interiornya sangat Jawa, antara lain terpasangnya sebuah perangkat waditra di bawah gunungan kuningan– resepsionisnya yang mengenakan kebaya Jawa meminta saya menulis kesan-kesan di buku khusus. Sehari sebelum saya, telah menginap encik menteri Syamsul Mu’arif dan telah pula menulis kesannya di buku itu.

Yang hebat, encik menteri yang mengurusi media pers ini tidak menulis kesannya dalam bahasa Indonesia yang wajar, melainkan dengan bahasa yang centang-perenang, yaitu Inggris bercampur Indonesia. Tulisnya, “Like other guest, I feel good stay in Santika. Manajement tahu bagaimana memperlakukan tamu secara profesional.”

Untuk kalimat bahasa Inggris, jika encik menteri melakukan salah eja menyangkut apa yang lazim disebut orang sebagai perubahan bentuk kata kerja dalam mengacu waktu, maka itu urusannya. Tetapi, mengeja “manajement” yang tidak jelas, apakah ini bahasa Inggris atau bahasa Indonesia –sebab dalam bahasa Inggris ejaannya “management” sedang serapannya dalam bahasa Indonesia ejaannya “manajemen” dengan “j” dan tanpa “t”– kiranya bisa menjadi urusan yang menarik untuk obrolan, gunjingan, dan bualan.

Barangkali kita patut menimba hal konfidensi bangsa-bangsa Eropa di sekitar perbatasan dengan Inggris menyangkut “pertahanan” yang kuat terhadap bahasanya.

Tanda Di Belanda — bangsa yang pernah menjajah Indonesia– tiga bahasa, yaitu Inggris, Prancis, dan Jerman, telah diajarkan di sekolah sejak SMP, dan anak-anak itu pun dapat bercakap dengan lancar ketiga bahasa tersebut. Tetapi, bahasa Belandanya tetap terpelihara dan digunakan dengan bangga. Di jalan raya tidak perlu ada tulisan –tulisan kareseh-peseh busway, ring road, underpass, atau three in one. Yang mentereng adalah semboyan Belanda bob jij of bob ik untuk mengingatkan orang jangan mabuk dalam mengendarai oto di jalan. Pokoknya, orang Belanda bangga pada bahasanya. Padahal sastra Belanda, sebagai pendukung bahasanya, relatif kecil dibandingkan Inggris di baratnya, Jerman di timurnya, dan Prancis di selatannya.

Khususnya Prancis, jangan lupa bahwa sastranya telah menjadi ingatan tentang pikiran-pikiran besar yang menopang akarnya, dengan ratusan nama yang harum, yang terus disebut melalui bangku-bangku sekolah. Maka tidaklah heran jika orang Prancis pun sangat percaya diri terhadap bahasanya. Malahan gambaran umum orang terhadap Prancis adalah: mereka “tidak mau” bercakap bahasa Inggris.

Awal pekan pada April lalu, di Hotel Fiat, Rue de Douai, Paris –hotel yang katakanlah setingkat harga inapnya dengan Santika di Yogya tadi– saya bertanya dalam bahasa Inggris belepotan kepada resepsionisnya. Sang resepsionis, yang mengenakan stelan jas dasi yang sangat Prancis, benar, “tidak mau” menjawab pertanyaan saya dalam bahasa Inggris. Dia berkata dengan amat percaya diri, “Vous etes a Paris, donc essayez de parler en Francais, s’il vous plait.

Edan juga, kata saya.

Saya berpikir dan berharap, siapa nyana di waktu mendatang orang Indonesia pun bisa dengan percaya diri berkata, “Anda berada di Jakarta, maka saya akan merasa sangat dihormati jika Anda dapat bercakap dalam bahasa Indonesia.”

*Budayawan
[Kolom, GATRA, Edisi 50 Beredar Jumat 24 Oktober 2003]

Iklan

12 thoughts on “Penyakit Menular Sok-Inggris dalam Bahasa Indonesia

  1. Ping-balik: Referensi Baru Belajar Bahasa Indonesia | Kurusetra

  2. Ping-balik: Refrensi Baru Belajar Bahasa Indonesia | Kurusetra

  3. itu bapak menteri, bagaimana dengan rakyatnya ya? Jangan2 lupa sama sumpah pemuda, hehe
    Tapi, emang iya sih, faktanya sekarang kebanyakan rakyat Indonesia lebih banyak menggunakan bahasa yang tanpa BINAR kaya jaman dulu…Pendidikan akan ilmu tersebut juga sekarang kurang 😦

    Suka

    • Tergantung apa maksud campuran itu, mbak. Kalau serapan saya kira tidak masalah. Tapi kalau kayak contoh di tulisan di atas, rasanya memang keterlaluan πŸ˜€

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s