Kisah

Ivan Si Dungu

by Leo Tostoy

 

DI SUATU WILAYAH KERAJAAN, hiduplah seorang petani kaya yang memiliki tiga orang putra —Simeon (seorang prajurit), Tarras-Briukhan (berbadan gemuk), dan Ivan (dungu)— dan seorang anak perempuan, Milinia, yang bisu sejak lahir. Simeon pergi berperang, mengabdi pada Tsar; Tarras pergi ke kota dan menjadi pedagang; dan Ivan, dengan adik perempuannya, tetap tinggal di rumah bekerja di ladang.

Karena jasanya yang berani di kemiliteran, Simeon menerima sebidang kebun dan pangkat yang tinggi, dan menikah dengan seorang putri bangsawan. Di samping gajinya yang besar, dia menerima pemasukan yang banyak dari perkebunannya itu; tapi dia tidak bisa memperoleh hasil yang pantas. Apa yang ditabung sang suami, dihambur-hamburkan oleh sang istri.

Suatu hari, Simeon pergi ke perkebunannya untuk mengumpulkan penghasilannya. Pelayannya memberitahukannya bahwa tidak ada penghasilan, dan berkata, “Kita tidak punya kuda, sapi, jaring-ikan dan peralatan lain; pertama-pertama Anda harus membeli semuanya itu, baru setelah itu meminta pemasukan.”

Setelah itu, Simeon pergi ke bapaknya dan berkata, “Kau kaya, batiushka (bapak kecil), tapi kau tidak memberiku apa-apa. Berikan aku sepertiga dari apa yang kau miliki sebagai warisan untukku, dan saya akan mentranfernya ke kebunku.”

Orang tua itu menjawab, “Kau tak membantu memberikan kemakmuran ke penghuni rumah ini. Untuk alasan apa, kemudian, kau menuntut sepertiga dari segalanya? Itu tidak akan adil bagi Ivan dan adiknya.”

“Ya,” kata Simeon, “tapi dia itu dungu, dan saudarinya itu bisu sejak lahir. Butuh apa mereka dengan semua ini?”

“Dengar dulu apa yang akan Ivan katakan.”

Jawaban Ivan: “Baik, biarkan dia mengambil bagiannya.”

Simeon mengambil porsi yang diberikan kepadanya, dan kembali mengabdi di militer.

Tarras juga mendapatkan kesuksesan. Dia menjadi kaya raya dan menikah dengan putri seorang saudagar, tapi hal itu gagal memuaskan hasratnya, dan dia juga pergi ke bapaknya dan berkata, “Berikan bagian warisanku.”

Tapi, orang tua itu menolak menurut permintaannya, sambil berkata, “Kau tak ikut andil mengumpulkan kekayaan kami, dan isi rumah ini adalah hasil kerja keras Ivan. Itu tidak akan adil,” ulangnya, “bagi Ivan dan saudarinya.”

Tarras menjawab, “Tapi dia tidak membutuhkannya. Dia dungu, dan tidak bisa menikah, karena tidak seorang pun akan mau memilikinya; dan perempuan itu tidak membutuhkan apa pun, karena dia bisu sejak lahir.” Sambil menoleh ke Ivan, dia melanjutkan: “Berikan sebagian biji-bijian yang kau punya, dan saya tidak akan menyentuh peralatan atau jaring ikan; dan dari hewan ternak saya hanya akan mengambil kuda betina, karena hewan itu tidak kuat membajak.”

Ivan tertawa dan berkata, “Baik, saya akan pergi dan mengatur barang-barang sehingga Tarras bisa mengambil bagiannya,” kemudian Tarras membawa kuda betina coklat dengan biji-bijian ke kota, meninggalkan Ivan dengan satu kuda tua untuk bekerja seperti dulu dan membiayai bapak, ibu dan saudarinya.

* * *

MENGECEWAKAN BAGI STARY TCHERT (SETAN TUA) bahwa saudara-saudara Ivan tidak bertengkar mengenai pembagian kekayaan, dan bahwa mereka berpisah dengan damai; dan dia menangis, memanggil-manggil tiga setan kecilnya (Tchertionki).

“Lihatlah,” katanya, “di sana hidup tiga bersaudara —Simeon si tentara, Tarras-Briukhan, dan Ivan si dungu. Mereka harus bertengkar. Sekarang mereka hidup dengan damai, dan menikmati keramahan satu sama lain. Si dungu itu merusak semua rencana saya. Sekarang kalian bertiga pergilah dan bekerjalah dengan mereka dengan cara sedemikian rupa agar masing-masing dari mereka siap melinangkan air mata yang lain. Kalian bisa melakukannya?”

“Kami bisa,” jawab mereka.

“Bagaimana kalian akan melakukannya?”

“Begini: pertama-tama kami akan membuat mereka miskin hingga tingkat tertentu, sehingga mereka tidak punya apa-apa untuk dimakan, kemudian akan kami kumpulkan mereka di satu tempat di mana kami yakin mereka bertengkar.”

“Bagus; kulihat kalian mengerti urusan kalian. Pergilah, dan jangan kembali kepadaku sebelum kalian membuat permusuhan antara tiga bersaudara itu —atau aku akan menguliti kalian hidup-hidup.”

Tiga setan kecil itu pergi ke rawa-rawa untuk merundingkan cara terbaik mengerjakan misi mereka. Mereka berdebat dalam waktu lama —masing-masing menginginkan peran termudah dari pekerjaan itu— dan tak bisa dicapai kesapakatan, yang akhirnya ditutup dengan memutuskan beberapa pekerjaan; diputuskan bahwa barang siapa yang pertama kali selesai harus membantu yang lain. Setelah kesepakatan ini tercapai, mereka menentukan waktu kapan mereka harus berkumpul lagi di rawa-rawa —untuk menemukan siapakah yang sudah selesai dan siapa yang perlu bantuan.

Waktunya sudah sampai, tiga setan kecil itu berkumpul lagi di rawa-rawa sebagaimana disepakati, tempat di mana mereka menceritakan pengalaman yang satu pada yang lain. Pertama, yang pergi ke Simeon berkata, “Saya berhasil dalam pekerjaan saya, dan besok Simeon kembali ke bapaknya.”

Teman-temannya, yang ingin mendengar penjelasannya, bertanya bagaimana dia melakukannya. “Baiklah,” katanya, “hal pertama yang saya lakukan adalah meniupkan keberanian di urat nadinya, dan, terdorong karena keberaniannya, Simeon pergi menemui Tsar dan menawarkan diri untuk menaklukkan seluruh dunia untuknya. Sang raja menjadikannya kepala komandan meliter, dan mengirimkannya dengan tentara berperang melawan raja India. Setelah memulai misi penaklukannya, mereka tidak sadar bahwa saya, sebelum mereka bangun tidur, telah membasahi mesiu mereka. Saya juga pergi ke penguasa India dan menunjukkannya bagaimana saya bisa menciptakan sejumlah tentara dari jerami. Tentara Simeon, mengetahui bahwa mereka dikepung oleh sejumlah besar prajurit India ciptaanku, menjadi takut dan Simeon memerintahkan menembakkan meriam dan senjata, yang tentu tidak bisa mereka lakukan. Para tentara yang kehilangan semangat itu mundur dengan sangat kacau. Kemudian, Simeon memikul aib kekalahan yang sangat buruk di pundaknya. Kebunnya disita, dan besok dia akan dieksekusi. Semua yang masih harus kulakukan, oleh karenanya,” setan kecil itu menyimpulkan, “adalah melepaskannya besok pagi. Sekarang, siapa yang mau membantuku?”

Setan kecil kedua (dari Tarras) kemudian menceritakan kisahnya:

“Saya tak perlu bantuan apapun,” katanya. “Urusanku juga berjalan baik. Kerja saya dengan Tarras akan selesai dalam seminggu. Di tempat awal saya membuatnya kurus. Setelah itu, dia menjadi tamak sehingga dia menginginkan apapun yang dilihatnya, dan dia menghabiskan semua uang yang dipunyainya membelanjakan sejumlah besar barang. Setelah modalnya sudah habis, dia masih terus membeli dengan meminjam uang, dan terlibat dalam kesulitan-kesulitan yang dia tidak bisa keluar darinya. Di akhir pekan, tanggal pembayaran hutangnya akan habis, dan barang-barangnya akan dirampas, dia akan menjadi bangkrut; dan dia juga akan kembali ke bapaknya.” Pada kesimpulan dari cerita ini, mereka bertanya kepada setan terakhir apa yang terjadi antara dirinya dan Ivan.

“Baiklah,” katanya, “laporanku tidaklah begitu bersemangat. Hal pertama yang saya lakukan adalah membuatnya dongkol kepada kendi quassnya (minuman asam terbuat dari gandum), yang membuatnya sakit perut. Setelah itu dia pergi untuk membajak ladang yang belum ditanami di musim panas, tapi saya membuat tanahnya jadi liat sehingga paculnya hampir tidak bisa menekannya. Saya pikir si dungu itu tidak akan berhasil, tapi walaupun begitu dia mulai bekerja. Sambil mengerang karena sakit, dia terus bekerja. Saya merusak satu pacul, tapi dia ganti dengan yang lain, memperbaikinya dengan hati-hati, dan kembali bekerja. Di bawah permukaan tanah, saya menarik mata bajaknya, tapi itu tidak berhasil menghentikan Ivan. Dia menekan sangat keras, dan ujungnya sangat tajam, hingga tanganku terpotong; dan walaupun sudah saya usahakan sekuat tenaga, dia tetap menyelesaikan semuanya kecuali bagian kecil ladangnya.”

Dia menyimpulkan, “Ayolah ke sana, saudara-saudara, dan bantulah aku, karena jika kita tidak menaklukkannya semua usaha kita akan gagal. Jika si dungu itu dibiarkan berhasil melakukan tindakan bertaninya, mereka tidak akan perlu apa-apa, karena dia akan membantu saudara-saudaranya.”

* * *

SESUDAH IVAN SELESAI MEMBAJAK LADANGNYA kecuali sebagian kecil darinya, dia kembali hari berikutnya untuk menyelesaikannya. Sakit perutnya masih terasa, tapi dia merasa bahwa dia harus menyelesaikan pekerjaannya. Dia beruasaha memualai membajak, tapi tidak berhasil; seperti membentur sebuah akar yang keras. Terdapat setan kecil di tanah yang menahan mata bajak dengan kakinya.

“Ini aneh,” gumam Ivan. “Tidak pernah ada akar di sini sebelumnya, dan ini pasti akar.”

Ivan menjulurkan tangannya ke tanah, dan setelah merasakan sesuatu yang lembut, dia menggengamnya dan menariknya keluar. Benda itu penampilannya seperti akar, tapi tampak hidup. Sambil memagangnyanya, dia melihat bahwa itu adalah setan kecil. Karena jijik, dia berseru, “Lihat, benda buruk!” Dia mulai menamparnya, berusaha membunuhnya. Ketika itu, si setan kecil berteriak sambil menangis, “Jangan bunuh aku, dan aku akan memenuhi permintaanmu.”

“Apa yang bisa kau lakukan untukku?”

“Katakan apapun yang paling kau inginkan,” jawab si setan kecil.

Ivan, yang berpenampilan petani, menggaruk punggung kepalanya ketika berfikir, dan akhirnya berkata, “Aku sangat sakit perut. Bisakah kau mengobatiku?”

“Bisa,” jawab si setan kecil.

“Maka lakukanlah.”

Si setan kecil menunduk ke tanah dan mencari akar-akaran. Ketika dia menemukannya, dia memberikannya pada Ivan dan berkata, “Jika kau menelan beberapa akar-akaran ini, kau akan segera sembuh dari penyakit apapun yang kau derita.”

Ivan melakukan sebagaimana yang diperintahkan, dan merasa baikan.

“Saya minta kau membebaskan saya sekarang,” pinta si setan kecil. “Saya akan menyusup ke tanah dan tak akan kembali.”

“Bagus sekali; kau boleh pergi, dan semoga Tuhan memberkatimu.” Dan ketika Ivan menyebut nama Tuhan, setan kecil itu menghilang di tanah seperti kilat, dan cuma sedikit tanah terbuka yang tersisa.

Ivan meletakkan sisa akarnya di topinya dan mulai membajak. Setelah selesai dari pekerjaannya, dia memutar paculnya dan pulang.

Ketika sampai di rumah, dia mendapati saudaranya Simeon dan istrinya duduk di kursi makan malam. Kebunnya telah disita, dan dia sendiri baru saja bebas dari eksekusi dengan melarikan diri dari penjara.

Sambil menoleh ke arah Ivan, dia berkata, “Saya datang untuk memintamu peduli pada kami hingga saya menemukan pekerjaan.”

“Bagus sekali,” jawab Ivan, “kau boleh tinggal dengan kami.”

Baru saja Ivan duduk di kursi, istri Simeon menunjukkan muka masam, mengindikasikan bahwa dia tidak suka bau kulit domba dari jaket Ivan; dan sambil menoleh kepada suaminya, dia berkata, “Saya tidak akan duduk sekursi dengan seorang moujik (petani) yang baunya seperti itu.”

Simeon si tentara menoleh ke saudaranya dan berkata, “Istriku menunjuk kepada bau pakaianmu. Kau harus makan di serambi.”

Ivan berkata, “Baik, itu sama saja bagiku. Saya akan segera pergi dan memberi makan kudaku.”

Ivan mengambil beberapa roti dengan satu tangan dan kaftannya (jas) di tangan yang lain, dan meninggalkan ruangan itu.

* * *

SI SETAN KECIL SELESAI DENGAN SIMEON malam itu, dan menurut kesepakatan harus pergi membantu temannya yang bertanggungjawab pada Ivan, dia harus membantu menaklukkan si dungu itu. Dia pergi ke ladang dan mencari ke mana-mana, tapi tak menemukan apapun kecuali lobang tempat si setan kecil tadi menghilang.

“Ini aneh,” katanya, “sesuatu pasti telah terjadi kepada temanku, dan saya akan mengambil alih tempatnya dan melanjutkan pekerjaannya. Si dungu itu lewat dengan paculnya, jadi saya harus mencari cara lain menghancurkannya. Saya harus membuat padang rumpunya banjir dan mencegahnya memotong rumput.”

Si setan kecil itu membanjiri padang rumput dengan air lumpur, dan ketika Ivan pergi besok paginya dengan sabit besarnya yang sudah diasah dan hendak mengumpulkan rumput, dia mendapati rumput-rumput itu menahan usahanya dan tidak memberi hasil seperti biasanya. Berkali-kali Ivan berusaha memotong rumput itu, tapi selalu gagal. Akhirnya, setelah kelahan karena usahanya, dia memutuskan akan kembali ke rumah dan mengasah sabit besarnya lagi, dan mengambil sejumlah roti, sambil berkata, “Saya akan kembali ke sini dan tidak akan pergi hingga saya memotong semua padang rumput, walaupun harus menghabiskan waktu seminggu.”

Mendengar hal ini, si setan kecil berfikir dan berkata, “Si Ivan itu koolak (keras kepala). Aku harus memikirkan cara lain untuk menaklukkannya.”

Ivan segera kembali dengan sabit besar yang sudah diasah dan mulai memotong.

Si setan kecil menyamar jadi rumput, dan ketika sabit itu datang dia memendamnya dengan tanah dan membuat hampir tidak mungkin bagi Ivan untuk menggerakkan alat itu. Tapi dia berhasil memotong semuanya kecuali satu tumbuhan kecil di rawa-rawa, tempat di mana si setan kecil bersembunyi. Dia berkata, “Walaupun dia harus memotong tangan saya, saya akan mencegahnya menyelesaikan pekerjaannya.”

Ketika Ivan datang ke rawa itu, dia mendapati rumput itu tidaklah begitu tipis. Masih saja sabit besarnya tidak bisa berfungsi. Hal ini membuatnya sangat marah, sehingga dia menebasnya dengan sekuat tenaga, dan satu potongan yang lebih kuat daripada yang lain memotong ekor si setan kecil yang sedang menyamar di sana.

Meskipun ada usaha si setan kecil menggagalkan, Ivan berhasil menyelesaikan kerjanya. Dia pulang dan meminta adik perempuannya mengumpulkan rumput itu, sementara itu dia pergi ke ladang lain untuk memotong gandum. Tapi setan kecil itu mendahuluinya di sana, dan mengatur gandum sedemikian rupa sehingga hampir tidak mungkin bagi Ivan memotongnya; tapi, setelah kerja keras yang terus-menerus dia berhasil melakukannya, dan ketika dia pergi dengan gandumnya dia bergumam, “Sekarang saya akan mulai menyimpan gandum.”

Ketika mendengar hal ini, setan kecil itu berfikir, “Saya tidak bisa mencegahnya mengumpulkan gandum hitam, tapi saya pasti akan menghentikannya mengumpulkan gandum besok pagi.”

Esok paginya, ketika setan itu datang ke ladang, dia menemukan bahwa gandum-gandum itu telah dipotong. Ivan melakukannya malam tadi, untuk menghindari kerugian yang mungkin diakibatkan oleh biji-bijian yang terlalu matang dan kering. Mengetahui bahwa Ivan telah lepas darinya lagi, si setan kecil jadi sangat marah. Dia berkata, “Dia melukaiku dan membuatku capek, si bodoh itu. Saya tidak pernah mendapat kesialan seperti ini, meskipun di medan perang. Dia bahkan tidak tidur.” Dan setan itu mulai merasa takut. “Aku tidak bisa mengikutinya,” lanjutnya.”Aku akan pergi ke tumpukan biji-bijian itu dan membuat semua membusuk.”

Dengan demikian, dia pergi ke tumpukan biji-bijian yang baru dipetik dan memulai pekerjaan jahatnya. Setelah membasahinya, dia membuat api unggun dan memanaskan dirinya, dan dia segera tertidur.

Ivan memasang pelana kudanya, dan dengan adik perempuannya pergi untuk membawa pulang gandum hitam dari ladang.

Setelah menggeser beberapa ikat dari tumpukan pertama, garpu rumputnya mengenai punggung si setan kecil, yang membuatnya meraung kesakitan dan meloncat-loncat ke segala arah. Ivan berseru, “Lihat! Betapa menjijikkan! Kau di sini lagi?”

“Saya berbeda!” kata si setan kecil. “Itu adalah saudaraku. Saya adalah yang dikirim ke saudaramu, Simeon.”

“Baik,” kata Ivan. “Tidak penting siapa kamu. Saya akan memperlakukan kalian secara sama.”

Ketika Ivan hendak melakukan pukulan pertama, setan itu memohon, “Biarkan saya pergi dan kau tidak akan saya ganggu. Saya akan melakukan apapun yang kau minta.”

“Apa yang bisa kau lakukan untukku?” tanya Ivan.

“Saya bisa membuat prajurit dari hampir apa saja.”

“Dan untuk apa mereka akan berguna?”

“Oh, mereka akan melakukan apapun untukmu!”

“Mereka bisa menyanyi?”

“Bisa.”

“Maka, buatlah.”

“Ambillah seikat jerami dan hamburlah ke tanah, lihatlah apakah tiap jerami tidak akan berganti menjadi prajurit.”

Ivan melempar beberapa jerami ke tanah, dan, sebagaimana dia harapkan, tiap jerami itu berubah jadi prajurit, dan mereka mulai berbaris dengan sebuah genderang di kepala mereka.

Ishty (lihat), itu bagus sekali! Betapa mereka akan menyenangkan gadis-gadis desa!” dia berseru.

Si setan kecil berkata, “Biarkan aku pergi; kau tidak memerlukanku lagi.”

Tapi Ivan berkata, “Tidak, aku tidak akan membiarkan kau pergi. Kau telah merubah jerami menjadi prajurit, dan sekarang aku ingin kau mengembalikan lagi mereka menjadi jerami lagi, karena aku tak bisa dapat apa-apa jika kehilang jerami-jerami itu, tapi aku ingin jerami-jerami itu sekaligus buahnya.

Si setan menjawab, “katakan: ‘begitu banyak prajurit, begitu banyak jerami.’”

Ivan melakukan sebagaimana diperintahkan, dan membawa pulang gandum hitamnya dengan jeraminya.

Si setan kecil lagi-lagi minta dibebaskan.

Ivan, setelah melepaskannya dari garpu jerami, berkata, “Dengan rahmat Tuhan, kau boleh berangkat.” Dan sebelum nama Tuhan disebutkan, si setan kecil melesat ke tanah seperti kilat, dan tak ada yang tersisa kecuali lobang yang menunjukkan tempat dia pergi.

Segera setelah itu Ivan pulang, untuk bertemu dengan saudaranya Tarras dan istrinya di rumah. Tarras-Briukhan tak bisa membayar hutangnya, dan terpaksa lari dari krediturnya dan mencari perlindungan di bawah atap bapaknya.

Setelah melihat Ivan, dia berkata, “Ivan, bolehkah aku tinggal di sini hingga aku memulai bisnis yang baru?”

Ivan menjawab seperti yang dia lakukan kepada Simeon, “Ya, kau sangat diterima tinggal di sini selama itu menyenangkanmu.”

Dengan pemberitahuan itu, Ivan melepas jasnya dan duduk di kuris makan dengan yang lain. Tapi, istri Tarras-Briukhan mencium bau pakaian Ivan dan berkata, “Saya tidak bisa makan dengan seorang dungu; dan saya tak tahan baunya.”

Kemudian Tarras-Briukhan berkata, “Ivan, dari pakaianmu tercium bau busuk; pergilah dan makanlah sendirian di serambi.”

“Baiklah,” kata Ivan; dan dia mengambil beberapa roti dan keluar sebagaimana diperintahkan, dan berkata, “Sekarang waktunya aku memberi makan kuda betinaku.”

* * *

PARA SAUDARA IVAN, SETELAH SELESAI MEMBANGUN rumah, pindah ke sana dan hidup terpisah dari bapak mereka dan Ivan. Ivan, setelah selesai membajak, membuat pesta besar, di mana dia juga mengundang saudara-saudaranya, mengatakan bahwa dia punya banyak bir untuk mereka minum. Tapi, saudara-saudaranya menolak keramahan Ivan, dan berkata, “Kami sudah tahu bir yang diminum para moujik, dan tidak menginginkannya sama sekali.”

Ivan kemudian mengumpulkan semua petani di desa itu dan minum bir dengan mereka hingga dia jadi mabuk. Dia mengikuti Khorovody (sekumpulan anak-anak desa jalanan, yang bernyanyi-nyanyi), dan berkata pada mereka bahwa mereka harus menyanyikan puji-pujian untuknya, sembari berjanji bahwa sekembalinya nanti dia akan menunjukkan suatu pemandangan yang tidak pernah mereka lihat seumur hidup mereka. Anak-anak kecil itu tertawa dan mulai menyanyikan lagu-lagu pujian untuk Ivan, dan setelah mereka selesai, mereka berkata, “Bagus sekali; sekarang berikan yang kau janjikan.”

Ivan menjawab, “Akan segara saya tunjukkan,” dan, setelah mengambil tas kosong dengan tangannya, dia pergi ke hutan. Anak-anak kecil itu tertawa dan berkata, “Betapa dungunya dia!” dan setelah meneruskan permainannya, mereka sudah melupakan Ivan.

Sesaat setelah Ivan tiba-tiba muncul di antara mereka dengan membawa tas tadi, yang ternyata sekarang sudah terisi.

“Haruskah kubagikan ini ke kalian?” dia menjawab.

“Ya; bagikan!” mereka bernyanyi seperti panduan suara.

Kemudian, Ivan memasukkan tangannya ke tasnya dan menariknya kembali dengan genggaman penuh koin emas, yang dia hambur di antara mereka.

Batiushka,” mereka menjerit dan berlarian untuk mengumpulkan kepingan berharga itu.

Para moujik itu kemudian muncul di arena itu dan mulai saling berkelahi untuk memiliki benda kuning itu. Di perkelahian itu seorang nenek terkapar hampir mati.

Ivan tertawa dan senang pada pemandangan beberapa orang bertengkar karena beberapa keping emas.

“Oh! kau duratchki (si bodoh kecil)!” katanya. “Kenapa kau hampir merenggut nyawa nenek tua itu? Jadilah lebih jantan. Aku masih punya banyak, dan akan kuberikan kepadamu;” lalu dia mulai melempar lebih banyak lagi koin emas.

Orang-orang itu berkumpul di sekeliling Ivan, dan Ivan terus melempar hingga dia mengosongkan tasnya. Mereka meminta lebih banyak lagi, tapi Ivan menjawab, “Emas itu sudah habis. Lain kali aku akan memberikan kalian lebih banyak lagi. Sekarang kita lanjutkan, menyanyi dan menari.”

Anak-anak itu berkata, “Maka, tunjukkan bagaimana bernyanyi yang baik.”

Ivan menjawab, “Akan kutunjukkan pada kalian siapa yang bisa nyanyi lebih baik dari pada kalian.” Dengan ucapan itu Ivan pergi ke gudang dan, setelah menata seikat jerami, dia melakukan hal yang diperintahkan setan kecil tadi; dan tiba-tiba seresimen prajurit muncul di jalanan desa, dan dia perintahkan mereka bernyanyi dan menari. Orang-orang heran dan tidak bisa mengerti bagaimana Ivan mendatangkan orang-orang aneh itu.

Para prajurit itu bernyanyi beberapa saat, demi kesenangan penduduk desa; dan ketika Ivan perintahkan mereka berhenti, mereka langsung berhenti. Ivan kemudian perintahkan mereka memasuki gudang, dan mengatakan pada para moujik yang terheran-heran dan takjub agar tidak mengikutinya. Setelah mencapai gudang, dia mengembalikan prajurit-prajurit itu menjadi jerami lagi dan pulang untuk tidur akibat pesta makan-minumnya yang berlebih-lebihan.

* * *

ESOK PAGINYA, PERBUATAN IVAN ITU MENJADI perbicaraan sedesa dan berita tentang hal aneh yang dilakukannya sampai di telinga saudaranya Simeon, yang segera mendatangi Ivan untuk membuktikan semuanya.

“Jelaskan padaku,” katanya, “dari mana kau membawa prajurit itu, dan di mana kau mengambilnya?”

“Dan untuk apa pula kau mengetahuinya?” Tanya Ivan.

“Kenapa? Dengan prajurit kita bisa melakukan hampir segalanya yang kita inginkan— semua kerajaan bisa ditaklukkan.” Jawab Simeon.

Informasi ini sangat mengejutkan Ivan, dan berkata, “Baiklah, tapi kenapa tidak katakah hal ini dari dulu? Aku bisa membuat sesuatu seperti yang kau inginkan.”

Ivan kemudian membawa saudaranya ke gudang, tapi dia berkata, “Sementara aku hendak menciptakan prajurit-prajurit itu, kau harus membawanya pergi dari sini; karena jika harus memberi makan mereka, semua makanan di desa akan habis dalam hanya sehari.”

Simeon berjanji akan melakukan seperti yang diinginkan Ivan, setelah itu Ivan mulai mengubah jarami menjadi prajurit. Dari satu ikat jerami dia membuat satu resimen penuh; kenyataannya, beberapa prajurit muncul seakan-akan oleh sihir yang tidak ada setitik ruang hampa di ladang itu.

Sambil menoleh ke arah Simeon, Ivan berkata, “Segini cukup?”

Dengan berseri-seri, Simeon menjawab, “Cukup! Cukup! Terima kasih, Ivan!”

“Senang kau bisa puas,” kata Ivan, “dan jika kau mau lebih banyak lagi, aku akan membuatkannya untukmu. Aku punya banyak sekali jerami sekarang.”

Simeon membagi prajurit-prajuritnya ke dalam beberapa batalion dan rasimen, dan setelah melatih mereka dia pergi berperang dan menaklukkan.

Simeon baru saja keluar dari desa dengan prajurit-prajuritnya ketika Tarras, saudara Ivan yang lain, muncul di belakang Ivan —dia juga telah mendengar pertunjukan kemarin dan ingin mendengar langsung rahasia kekuatan Ivan. Dia mencari Ivan dan berkata, “Katakan rahasianya bagaimana kau memberikan emas, karena jika saya punya banyak uang saya bisa mengumpulkan kekayaan di dunia.”

Ivan sangat terkejut mendengar perkataan ini dan berkata, “Kau seharusnya mengatakanku hal ini dari dulu, karena aku bisa memberikan uang sebanyak yang kau inginkan.”

Tarras takjub, dan dia berkata, “Kau perlu memberiku sekitar tiga gantang.”

“Baiklah,” kata Ivan, “kita akan pergi ke hutan, atau, sebaiknya tenang dulu, kita gunakan kuda, karena kita tidak mungkin membawa sendiri uang sebanyak itu.”

Kedua bersaudara itu pergi ke hutan dan Ivan mulai mengumpulkan daun oak, yang dia gosok-gosokkan di sela-sela kedua tangannya, serpihannya jatuh ke tanah dan berubah menjadi serpihan emas serentak ketika mereka jatuh.

Setelah satu tumpukan telah terkumpul Ivan menoleh ke arah Tarras dan bertanya apakah dia telah menggosok cukup daun yang berubah jadi emas, lalu Tarras menjawab, “Terima kasih, Ivan; itu cukup untuk kali ini.”

Ivan kemudian berkata, “Jika kau ingin lebih banyak lagi, datanglah dan saya akan menggosokkan sebanyak yang kau inginkan, karena ada banyak sekali dedauan.”

Tarras, dengan tarantas (kereta kuda) yang terisi emas, pergi ke kota untuk berdagang dan meningkatkan kekayaannya; dan kemudian dua bersaudara itu menempuh jalan mereka, Simeon berperang dan Tarras berdagang.

Tentara Simeon menaklukkan sebuah kerajaan dan Tarras-Briukhan memperoleh banyak uang.

Suatu saat setelah itu, keduanya bertemu dan masing-masing mengakui dari mana kemakmuran mereka, tapi mereka belumlah puas.

Simeon berkata, “Saya telah menaklukkan sebuah kerajaan dan menikmati hidup yang sangat menyenangkan, tapi saya belum punya cukup uang untuk memperoleh makanan untuk prjurit-prajuritku.” Sedangkan Tarras mengakui bahwa dia adalah pemilik kekayaan yang melimpah, tapi itu membuatnya khawatir.

“Mari kita pergi ke saudara kita,” kata Simeon. “Saya akan memintanya membuat lebih banyak lagi prajurit dan akan kuberikan padamu, dan kau katakan padanya bahwa dia harus membuat lebih banyak uang sehingga kita bisa beli makanan untuk mereka.”

Mereka mendatangi Ivan lagi, dan Simeon berkata, “Aku tak punya cukup prajurit; aku ingin kau membuatkanku setidaknya dua divisi lagi.” Tapi Ivan menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak akan membuat prajurit secara gratis; kau harus membayarku untuk melakukannya.”

“Tapi kau sudah berjanji.” Kata Simeon.

“Aku tahu,” jawab Ivan, “tapi aku sudah berubah pikiran sejak saat itu.”

“Tapi, dungu, kenapa kau tidak melakukan seperti yang kau janjikan?”

“Karena prajuritmu membunuh manusia, dan aku tidak akan lagi membuat apapun untuk tujuan jahat seperti itu.” Dengan jawaban ini Ivan tetap berkeras kepala dan tidak akan menciptakan prajurit lagi.

Tarras-Briukhan kemudian mendekati Ivan dan memintanya membuat uang lagi; tapi, seperti pada kasus Simeon, Ivan hanya menggelengkan kepalanya, dan berkata, “Aku tidak akan membuatkanmu uang lagi kecuali kau membayarku untuk melakukannya. Aku tidak bisa kerja tanpa bayaran.”

Tarras kemudian mengingatkan Ivan akan janjinya.

“Aku tahu aku sudah berjanji,” jawab Ivan, “tapi aku harus menolak untuk melakukan hal yang kau inginkan.”

“Tapi kenapa, dungu, kau tidak mau memenuhi janjimu?” tanya Tarras.

“Karena emasmu membuat sapi Mikhailovna hilang.”

“Bagaimana bisa?” tanya Tarras.

“Begini kejadiannya,” kata Ivan. “Mikhailovna selalu menjaga sapinya hingga anak-anaknya punya banyak susu untuk diminum; tapi beberapa saat yang lalu salah satu anaknya mendatangiku meminta susu, dan saya tanya, ‘Dimana sapimu?’ Dijawabnya, ‘Pagawai Tarras-Briukhan mendatangi rumah kami dan menawarkan tiga keping emas kepada ibu kami. Ibu tidak bisa menehan godaan, dan sekarang kami tidak punya susu untuk diminum.’ Aku berikan kau kepingan emas untuk kesenanganmu, dan kau memberikannya agar orang miskin itu menggunakannya, sehingga aku tidak akan memberikannya lagi.”

Kedua saudara Ivan, setelah mendengar hal ini, mendiskusikan rencara terbaik yang akan ditempuh sehubungan dengan penyelesaian masalah mereka.

Simeon berkata, “Mari kita atur seperti ini: aku akan memberikanmu sebagian kerajaanku dan prajurit untuk menjaga kekayaanmu; dan kau berikan uang untuk memberi makan prajurit-prajurit di separuh kerajaanku.”

Tarras sepakat dengan pengaturan seperti ini, dan kedua bersaudara itu menjadi penguasa dan sangat bahagia.

* * *

IVAN MASIH DI LADANG DAN BEKERJA UNTUK menghidupi bapak, ibu dan adik bisunya. Suatu saat ada anjing tua, yang telah hidup di ladang itu sampai tua, sedang sakit. Saat itu, Ivan pikir angjing itu mati, dan, karena merasa kasihan kepada hewan itu, Ivan meletakkan beberapa roti di topinya dan membawakannya untuk hewan itu. Itu terjadi ketika dia mengeluarkan roti itu, akar yang dulu dikasih setan kecil juga terjatuh. Anjing tua itu menelannya dengan roti dan seketika menjadi sembuh, dia melompat-lompat dan mulai mengibas-ngibaskan ekornya sebagai ekspresi kesenangan. Bapak dan ibu Ivan, karena melihat anjing itu sembuh begitu cepat, bertanya dengan alat apa dia melakukan keajaiban seperti itu.

Ivan menjawab, “Aku punya beberapa akar yang akan menyembuhkan penyakit apapun, dan anjing itu menelan salah satu dari akar itu.”

Tidak lama dari kejadian itu, putri raja Tsar sedang sakit, dan bapaknya mengumumkan di setiap kota dan desa bahwa barangsiapa bisa menyembuhkannya akan diberikan hadiah yang melimpah; dan jika orang beruntung tersebut terbukti belum beristri, sang raja akan memberikan anaknya sebagai istrinya.

Pengumuman ini tentu sampai ke desa Ivan. Bapak dan ibu Ivan memanggilnya dan mengatakan, “Jika kau masih punya akar ajaib itu, pergilah dan sembuhkan putri raja Tsar. Kau akan lebih senang menunjukkan pekerjaan demikian —tentunya, kau akan dibuat bahagia seumur hidupmu”

“Baiklah,” kata Ivan; dan dia segera bersiap-siap berpetualang. Ketika dia mencapai serambi rumahnya, dia melihat seorang perempuan miskin berdiri tepat dihadapannya dengan lengan yang pecah. Perempuan itu menyapa Ivan, dan berkata, “Ada yang mengatakan bahwa kau bisa menyembukanku, dan kau masih juga tidak mau melakukannya, disaat aku tidak kuat melakukan apapun sendiri?”

Ivan menjawab, “Baiklah, perempuan miskin; aku akan menyembuhkanmu jika aku bisa.”

Dia memperlihat satu akar yang dipegangnya kepada perempuan miskin itu dan memintanya untuk menelannya.

Dia lakukan seperti yang diminta Ivan dan langsung sembuh, dan pergi dengan senang karena menemukan kembali kegunaan lengannya.

Bapak dan ibu Ivan keluar dan mengucapkan semoga beruntung diperjalanan. Ivan menceritakan perempuan miskin tadi, dan mengatakan bahwa dia telah memberikan akar terakhirnya.

Mendengar hal ini orang-tuanya merasa sangat susah, karena mereka tahu Ivan sekarang tidak punya alat untuk menyembuhkan putri raja Tsar, dan mulai memarahinya.

“Kau kasihan pada pengemis tapi tidak memikirkan putri raja Tsar,” kata mereka.

“Aku kasihan juga sama putri raja Tsar,” jawab Ivan, setelah itu dia memasang kudanya ke keretanya dan duduk di atasnya bersiap untuk keberangkatannya; kemudian orang tuanya berkata, “Mau pergi ke mana kau, bodoh —menyembuhkan putri raja Tsar, dan tanpa menggunakan alat apapun?”

“Benar,” jawab Ivan ketika dia pergi dengan kendaraannya.

Sungguh tepat pada waktunya dia sampai di istana. Ketika dia muncul di balkon, putri raja Tsar sudah sembuh.

Raja Tsar sangat senang dan memerintahkan membawakan Ivan ke hadapannya. Dia memberikan Ivan jubah yang indah sekali dan menyapanya seperti menantunya. Ivan menikahi Czarevna, dan, karena tidak lama setelah itu raja Tsar meninggal dunia, Ivan menjadi penguasa. Maka, ketiga bersaudara itu menjadi penguasa di kerajaan yang berbeda.

* * *

KETIGA BERSAUDARA ITU BERKUASA. SIMEON, saudara tertua, dengan prajurit-prajurit jeraminya membuat para tahanan menjadi prajurit asli dan melatih mereka. Dia takut oleh setiap orang.

Tarras-Briukhan, saudara yang lain, tidak menghambur-hamburkan emas yang dia peroleh dari Ivan, bahkan meningkatkan kekayaannya, dan sekaligus hidup dengan baik. Dia menyimpan uangnya di peti-peti yang besar, dan, sementara lebih dari tahu apa yang harus dilakukan, masih terus mengumpulkan uang dari rakyatnya. Rakyatnya harus bekerja untuk membayar pajak yang Tarras pungut dari mereka, dan hidup dibikin berat bagi mereka.

Ivan si dungu tidak bisa menikmati kekayaan dan kekuasaannya seperti saudara-saudaranya. Tidak lama setelah mertuanya, raja Tsar terahkir, dikubur, dia membuang jubah-jubah kerajaan yang diwarisinya dan meminta istrinya menyingkirkannya, sehingga dia tidak lagi memakainya. Setelah melepaskan lencana kekuasaannya, dia mengenakan pakaian petaninya lagi dan mulai bekerja seperti dulu.

“Aku merasa kesepian,” katanya, “dan jadi sangat gemuk, tapi aku tidak bernafsu makan dan tidak bisa tidur.”

Ivan menjemput bapak, ibu dan adik bisunya dan membawa mereka untuk tinggal bersamanya, dan mereka bekerja dengan Ivan apapun yang ingin dia kerjakan. Istrinya suatu hari berkata, “Rakyat mengatakan bahwa kau dungu, Ivan.”

“Biarkan saja mereka berfikir demikian jika mereka mau,” jawabnya.

Istrinya merenungkan jawaban ini berkali-kali, dan akhirnya memutuskan bahwa jika Ivan dungu maka dia juga dungu, dan tidak ada gunanya menentang suaminya, sambil memikirkan pepatah lama bahwa “dimana ada jarum, di situ juga ada benang.” Oleh karenanya dia juga membuang jubah-jubah indahnya, dan, meletakkan ke dalam peti bersama dengan punya Ivan, mengenakan pakaian murahan dan ikut adik ipar bisunya, untuk belajar bekerja. Dia bekerja sangat baik sehingga dia bisa cepat membantu Ivan.

Karena mengetahui bahwa Ivan dungu, semua orang waras meninggalkan kerajaan dan hanya tinggal orang-orang dungu itu yang tersisa. Mereka tidak punya uang, kekayaan mereka yang masih ada hanyalah hasil kerja mereka. Tapi mereka hidup bersama dalam damai, swadaya secara nyaman, dan punya banyak waktu senggang untuk kaum miskin dan menderita.

* * *

SETAN TUA ITU MENJADI JENUH MENUNGGU BERITA baik yang dia harap akan diberikan oleh tiga setan kecil tadi. Dia menunggu dengan percuma untuk mendengar kehancuran ketiga bersaudara itu, sehingga dia pergi mencari utusan yang dia kirim untuk melakukan pekerjaan itu untuknya. Setelah mencari beberapa saat dan tidak menemukan apa-apa kecuali tiga lubang di tanah, dia berkesimpulan bahwa mereka tidak berhasil mengerjakannya dan bahwa dia harus melakukannya sendiri.

Si setan tua itu kemudian mencari ketiga bersaudara itu, tapi dia tidak tahu apapun tentang mereka. Setelah beberapa saat dia menemukan mereka di kerajaan-kerajaan mereka, sedang gembira dan bahagia. Ini benar-benar membuat setan tua marah, dan dia berkata, “Sekarang aku akan menyelesaikan sendiri misi mereka.”

Dia pertama-tama mengunjungi Simeon si prajurit, dan muncul di hadapannya sebagai seorang voyevoda (jendral), dan berkata, “Kau, Simeon, adalah seorang pejuang besar. Saya juga punya pengalaman tak terlupakan dalam peperangan, dan ingin melayanimu.”

Simeon bertanya pada setan yang sedang menyamar itu, dan berpandangan bahwa dia adalah seseorang yang cerdas yang hendak melayaninya.

Jendral baru itu mengajari Simeon bagaimana memperkuat tentaranya hingga menjadi sangat hebat. Beberapa peralatan perang baru diperkenalkan.

Meriam-meriam yang bisa melemparkan seratus bola dalam semenit juga dibuat, dan benda-benda ini diharapkan bisa berakibat mematikan di peperangan.

Simeon, atas nasihat jendral barunya, memerintahkan semua lelaki muda di atas umur tertentu untuk berlatih. Atas nasihat yang sama, Simeon membangun bengkel senjata, di mana sejumlah besar meriam dan senapan di buat.

Langkah jendral baru itu selanjutnya adalah agar Simeon menyatakan perang terhadap kerajaan tetangga. Hal ini Simeon lakukan, dan dengan sejumlah besar tentaranya berbaris ke arah teritori seberang, yang dia jarah dan dia bakar, menghancurkan lebih dari setengah tentara musuh. Hal ini sangat menghawatirkan penguasa negara itu sehingga dia hendak menyerahkan separuh kerajaannya untuk menyelamatkan separuh yang lain.

Simeon, merasa senang dengan keberhasilannya, menyatakan keinginannya berbaris ke teritori India dan menaklukkan Raja Muda negeri itu.

Tapi, keinginan Simeon sampai di telinga penguasa India itu, yang bersiap-siap berperang dengannya. Untuk lebih mengamankan sisa semua alat-alat perangnya, dia menambahkan penemuannya yang lain. Dia perintahkan semua anak laki-laki di atas empat belas tahun dan perempuan belum bersuami untuk didaftarkan jadi tentara, hingga ukurannya jadi lebih banyak daripada tentara Simeon. Meriam dan senapannya sama dengan milik Simeon, dan dia menciptakan sebuah mesin terbang yang darinya bom-bom bisa dilempar ke perkemahan musuh.

Simeon menyerbu Raja Muda dengan penuh rasa percaya diri akan kekuatannya untuk menang. Kali ini keberuntungan meninggalkannya, dan alih-alih jadi pemenang, dia kalah.

Penguasa India itu mengatur tentaranya sehingga Simeon bahkan tidak bisa menjangkau jarak tembak, sementara bom-bom dari mesin terbang, yang membawa kehancuran dan ketakutan di pihaknya, mengepung tentaranya, sehingga Simeon tinggal sendirian.

Raja Muda itu merebut kerajaannya dan Simeon harus menyelamatkan hidupnya.

Setelah selesai dengan Simeon, si setan tua kemudian mendekati Tarras. Dia muncul dihadapan Tarras menyamar sebagai pedagang di kerajannya, dan membangun pabrik dan mulai mencari uang. “Pedagang” itu membayar mahal semua hal yang dia beli, dan orang-orang mendatanginya untuk menjual barang-barang mereka. Melalui “pedagang” ini mereka bisa mendapat banyak uang, membayar semua tunggakan pajak mereka dan hal-hal lain yang mereka perlukan.

Tarras sangat senang dengan keadaan ini dan berkata, “Terima kasih buat pedagang ini, sekarang saya akan punya lebih banyak uang ketimbang sebelumnya, dan hidup akan lebih nikmat bagiku.”

Dia ingin mendirikan bangunan-bangunan baru, dan mengiklankan pekerjaan baru, menawarkan harga termahal untuk semua jenis pekerjaan.

Tarras berfikir orang-orang akan setakut sebelumnya untuk bekerja, tapi dia sangat terkejut mengetahui bahwa mereka bekerja untuk “pedagang” itu. Setelah berfikir bagaimana membujuk mereka meninggalkan sang “pedagang”, dia meningkatkan tawarannya, tapi pedagang itu, hingga sama dengan keadaan darurat, juga meningkatkan gaji pekerjanya. Tarras, yang punya banyak uang, meningkatkan lagi tawarannya; tapi “pedagang” itu meningkatkan lagi lebih tinggi dan melampaui kemampuan tertinggi Tarras. Kemudian, karena kalah terus, Tarras terpaksa membuang gagasan mendirikan bangunan.

Tarras kemudian mengumumkan bahwa dia hendak membuat taman dan mendirikan gunung, dan kerjanya harus dimulai di musim gugur, tapi tak seorangpun datang menawarkan jasanya, dan lagi-lagi dia harus mengurungkan niatnya. Musim dingin datang, dan Tarras ingin kulit berbulu dari musang kecil untuk menutupi jubah kebesarannya, dan dia mengirim anak buahnya untuk membawakan untuknya; tapi pelayannya kembali tanpa benda itu, dan berkata, “Tidak ada kulit berbulu dari musang kecil yang bisa didapat. “Pedagang” itu telah membelinya semua, membayar harga yang sangat tinggi untuk benda-benda itu.”

Tarras memerlukan kuda dan mengirim kurir untuk mendapatkannya, tapi dia kembali dengan cerita yang sema dengan kejadian tadi —bahwa tak ada yang bisa ditemukan, “pedagang” itu telah membeli mereka semua untuk membawa air buat kolam hias yang dia buat. Tarras akhirnya terpaksa menutup bisnisnya, karena dia tidak menemukan apa-apa untuk dikerjakan. Semua telah beralih ke pihak “pedagang”. Satu-satunya urusan yang dimiliki Tarras dengan penduduknya adalah ketika mereka membayar pajak. Uangnya terakumulasi begitu cepat sehingga dia tidak menemukan tempat penyimpanan, dan hidupnya jadi menyedihkan. Dia membuang semua gagasan memasuki usaha baru, dan hanya berfikir bagaimana berada secara damai. Ini dirasanya sulit dilakukan, karena, dengan kembali ke jalan itu, rintangan baru akan menghadangnya. Bahkan tukang masak, supir kereta kuda dan semua pelayan lainnya meninggalkannya dan mengikuti si “pedagang”. Dengan semua kekayaannya dia tidak punya apa-apa untuk dimakan, dan ketika dia pergi ke pasar dia menemukan si “pedagang” sudah di sana mendahuluinya dan telah membeli semua persediaan. Masih saja rakyatnya memberinya uang.

Tarras akhirnya naik darah sehingga dia memerintahkan si “pedagang” keluar dari kerajaannya. Pedagang itu pergi, tapi tinggal di luar garis perbatasan dan melanjutkan bisnisnya dengan penghasilan yang sama dengan sebelumnya. Tarras acap kali terpaksa hidup tanpa makanan selama beberapa hari. Digosipkan bahwa si “pedagang” bahkan ingin membeli Tarras. Mendengar hal ini Tarras menjadi sangat terancam dan tak bisa memutuskan jalan terbaik yang harus ditempuh.

Tak lama setelah itu, saudaranya Simeon sampai di kerajaan Tarras dan berkata, “Tolong aku. Aku kalah dan dihancurkan oleh Raja Muda India.”

Tarras menjawab, “Bagaimana bisa aku menolongmu, padahal aku tak punya makanan untuk diriku sendiri selama dua hari?”

* * *

SI SETAN TUA, SETELAH SELESAI DENGAN SAUDARA kedua, mendatangi Ivan si dungu. Kali ini dia menyamar sebagai seorang Jendral, sama seperti pada kasus Simeon, dan, setelah muncul di hadapan Ivan, dia berkata, “Kumpulkanlah tentara. Sungguh memalukan bagi seorang penguasa kerajaan tanpa tentara. Titahkan rakyatmu untuk berkumpul, dan saya akan menjadikan mereka prajurit besar yang hebat.”

Ivan mengikuti nasihat sang jendral yang diduganya benar, dan berkata, “Baiklah, kau boleh menjadikan rakyatku prajurit, tapi kau harus juga mengajari mereka menyanyikan lagu yang aku sukai.”

Si setan tua berkeliling di kerajaan Ivan untuk merekrut tentara, dan berkata, “Cukur rambut kalian [rambut anggota tentara baru selalu dicukur di Rusia] dan tiap-tiap kalian akan kuberikan topi merah dan vodki (wiski) yang banyak.”

Melihat hal ini si dungu hanya tertawa, dan berkata, “Kami bisa mendapatkan vodki sebanyak yang kami inginkan, karena mereka menyaringnya sendiri; dan topi, gadis-gadis kecil kami membuat sebanyak yang kami mau, dengan warna apapun yang kami minta, dan dengan rumbai-rumbai yang indah.”

Kemudian, sang setan menggagalkan merekrut tentara; jadi, kembali ke Ivan dan berkata, “Rakyat bodohmu tidak akan bersukarela jadi prajurit. Mereka harus dipaksa.”

“Baik,” jawab Ivan, “kau boleh memaksa jika kau mau.”

Si setan tua mengumumkan bahwa semua rakyat harus jadi prajurit, dan mereka yang menolak akan dihukum mati oleh Ivan.

Rakyat Ivan mendatangi sang jendral; dan berkata, “Anda berkata bahwa Ivan akan menghukum mati semua yang menolak jadi prajurit, tapi Anda mengabaikan untuk mengatakan apa yang akan dilakukan pada kami jika kami jadi tentara. Kami mendengar bahwa kami cuma akan dibunuh.”

“Ya, itu benar,” jawabnya.

Orang-orang dungu itu, setelah mendengar hal ini, menjadi keras kepala dan tidak mau pergi.

“Lebih baik bunuh kami sekarang jika kami tidak bisa menghindari kematian, tapi kami tidak akan menjadi prajurit,” mereka berkata.

“Oh! Dasar bodoh kalian,” kata si setan tua, “jadi tentara mungkin terbunuh dan mungkin juga tidak; tapi jika kau mendurhakai perintah Ivan, kau akan memperoleh kematian di tangannya.”

Orang-orang bodoh itu tetap bertahan selama beberapa saat dan akhirnya mendatangi Ivan untuk menanyakan persoalan itu.

Setelah sampai di rumah Ivan mereka berkata, “Seorang jendral mendatangi kami dengan perintah dari Anda bahwa kami harus menjadi prajurit, dan jika kami menolak Anda akan menghukum mati kami. Apakah itu benar?”

Ivan tertawa mendengar hal ini, dan berkata, “Bagaimana aku bisa menghukum mati kalian adalah sesuatu yang tidak bisa aku mengerti. Jika aku sendiri bukanlah seorang dungu aku akan bisa menjelaskannya kepada kalian, tapi aku tidak bisa.”

“Maka, kami tidak akan pergi,” kata mereka.

“Bagus sekali,” jawab Ivan, “kalian tidak perlu jadi prajurit kecuali kalian memang mau.”

Si setan tua, setelah melihat rencananya terbukti gagal, mendatangi penguasa Tarakania dan menjadi temannya, dan berkata, “Mari kita pergi dan menaklukkan kerajaan Ivan. Dia tidak punya uang, tapi dia punya banyak ternak, persediaan dan hal-hal lain yang akan berguna untuk kita.”

Penguasa Tarakania mengumpulkan prajurit-prajuritnya, dan memperlengkapinya dengan meriam dan senapan, melintasi garis perbatasan menuju kerajaan Ivan. Rakyatnya mendatangi Ivan dan berkata, “Penguasa Tarakania ada di sini dengan banyak prajurit untuk memerangi kita.”

“Biarkan mereka datang,” jawab Ivan.

Penguasa Tarakania, setelah melewati garis perbatasan ke arah kerajaan Ivan, tidak melihat tentara yang akan diperangi; dan menunggu beberapa saat dan karena tetap tidak muncul dia mengirim pejuang-pejuangnya untuk menyerang desa.

Mereka segera sampai ke desa pertama dan mulai menjarah dan merampas.

Dua rakyat dungu lelaki dan perempuan itu melihat dengan tenang, tidak melakukan perlawanan apapun ketika hewan ternak dan perlengkapan mereka dirampas dari mereka. Sebaliknya, mereka mengundang prajurit-prajurit itu datang dan tinggal bersama mereka, dan berkata, “Jika kau, teman baikku, merasa kesulitan mendapat penghasilan di negerimu sendiri, datanglah kemari dan tinggallah bersama kami. di sini semua hal berlimpah-limpah.”

Prajurit-prajurit memutuskan tinggal, karena mendapati penduduk desa itu bahagia dan makmur, dengan makanan mencukupi untuk menyokong tetangga mereka. Mereka terkejut dengan kiriman anggur manis yang mereka terima dari setiap orang, dan, sekembalinya ke penguasa Tarakania, mereka berkata, “Kami tidak bisa berperang dengan orang-orang ini —bawalah kami ke tempat lain. Kami akan lebih suka kepada bahaya-bahaya peperangan sesungguhnya daripada cara menaklukkan desa yang seperti ini.”

Penguasa Tarakania, karena sangat marah, menitahkan menghacurkan semua kerajaan, menjarah desa-desa, membakar rumah-rumah dan persedian, dan membunuhi hewan ternak.

“Siapapun dari kalian yang membangkang dari perintahku,” katanya, “aku akan mengeksekusi kalian semua.”

Prajurit-prajurit itu, karena ketakutan, mulai melakukan sebagaimana yang diperintahkan, tapi orang-orang dungu itu menangis pilu, tidak memberikan perlawanan apapun, semua laki-laki, perempuan dan anak-anak mengikuti ratapan serupa.

“Kenapa kalian menyakiti kami?” mereka menangis kepada tentara yang sedang menyerang. “Kenapa ingin menghancurkan semua yang kami punya? Jika butuh lebih banyak barang-barang ini dari pada yang kami punya, kenapa tidak membawanya saja dan meninggalkan kami dengan damai?”

prajurit-prajurit itu, karena merasa sedih dan menyesal, menolak menempuh jalan penghacuran —semua prajurit berhamburan ke beberapa arah.

* * *

SI SETAN TUA, KARENA GAGAL MENGHANCURKAN kerajaan Ivan dengan prajurit, mengubah dirinya menjadi seorang bangsawan, berpakaian indah, dan menjadi salah satu warga kerajaan Ivan, dengan maksud menghancurkan kerajaannya —seperti halnya yang dia lakukan kepada kerajaan Tarras.

Sang “bangsawan” berkata kepada Ivan, “Saya ingin mengajari Anda kebijaksanaan dan memberikan pelayanan yang lainnya. Saya akan mendirikan sebuah istana dan pabrik-pabrik untuk Anda.”

“Bagus sekali,” kata Ivan, “kau boleh tinggal bersama kami.”

Hari berikutnya, si “bangsawan” muncul di alun-alun dengan sekarung emas di tangannya dan sebuah gambar untuk membangun sebuah rumah. Dia berkata di khalayak ramai, “Kalian hidup seperti babi, dan aku akan mengajari kalian bagaimana hidup dengan baik. Kalian harus membuatkan sebuah rumah untukku sesuai dengan gambar ini. Aku akan mengawasi sendiri kerja kalian, dan akan membayar emas atas pelayanan kalian,” sambil menunjukkan isi karungnya.

Orang-orang itu merasa geli. Mereka belum pernah melihat uang. Bisnis mereka dilakukan sepenuhnya dengan menukar hasil pertanian atau dengan bekerja seharian dengan bayaran apapun yang mereka butuhkan. Oleh karenanya, mereka melihat serpihan-serpihan emas itu dengan heran, dan berkata, “Sungguh bagus mainan-mainan itu!” sebagai ganti dari emas itu, mereka memberikan pelayanan dan memberikan si “bangsawan” hasil panen mereka.

Si setan tua sangat senang dan berfikir, “Sekarang urusanku berada di jalan yang benar dan saya akan menghancurkan si Dungu —seperti halnya saudara-saudaranya.”

Rakyat Ivan memperoleh cukup banyak emas untuk dibagikan ke seluruh masyarakat, perempuan dan gadis-gadis desa itu memakainya sebagai hiasan, sementara untuk anak laki-laki mereka memberikan beberapa potong emas untuk bermain di jalan-jalan.

Ketika mereka sudah melakukan yang mereka inginkan, mereka berhenti bekerja dan si “bangsawan” tidak mendapatkan rumahnya selesai lebih dari setengah. Dia tak punya persediaan ataupun hewan ternak untuk setahun, dan menyuruh rakyat untuk memberikan barang-barang itu. Dia juga perintahkan mereka meneruskan membangun istana dan pabrik-pabrik. Dia berjanji akan membayar mereka emas dengan royal atas semua yang mereka kerjakan. Tak ada respons atas seruannya —hanya sekali seorang anak laki-laki dan perempuan kecil minta menukar telur dengan emasnya.

Kemudian si “bangsawan” merasa kesepian, dan, karena tak punya apa-apa untuk dimakan, pergi ke satu rumah untuk memperoleh beberapa persediaan makan malamnya. Dia pergi ke satu rumah dan menawarkan emas untuk seekor ayam, tapi ditolak, pemiliknya berkata, “Kami sudah punya cukup emas dan tidak ingin lagi”

Kemudian dia pergi ke istri seorang nelayan untuk membeli beberapa ikan Haring, dia juga menolak menerima emas itu untuk ditukar dengan ikan dan berkata, “Aku tidak ingin emas lagi, tuan; saya tidak punya anak untuk saya berikan emas dan bermain-main dengannya. Saya punya tiga potong emas yang saya simpan sekedar untuk pajangan.”

Dia kemudian pergi ke seorang pedagang untuk membeli roti, tapi dia juga menolak emas. “Saya tak bisa menggunakannya,” katanya, “kecuali kau memberinya untuk Kristus; maka ia akan jadi hal berbeda, dan saya akan mengatakan baba (perempuan tua) saya untuk memotongkan sepotong roti untukmu.”

Si setan tua sangat marah hingga dia lari meninggalkan pedagang itu, sambil meludah dan mengutuk.

Tidak hanya menerima atas nama Kristus itu yang membuatnya marah, tapi menyebut nama Kristus saja seperti tikaman sebuah pisau di tenggorokannya.

Si setan tua tidak berhasil mendapatkan roti, dan usahanya untuk mengumpulkan makanan tidak berhasil juga. Semua orang telah memiliki emas yang mereka inginkan dan potongan yang mereka miliki dianggap sebagai pajangan.

Mereka berkata kepada si setan tua, “Jika kau kasih kami sesuatu yang lain untuk ditukarkan dengan makanan, atau mintalah demi Kristus, kami akan memberimu semua yang kau inginkan.”

Tapi si setan tua tak punya apa-apa selain emas, dan terlalu malas untuk bekerja; dan karena tak bisa menerima apapun atas nama Kristus, dia marah sekali.

“Apa lagi yang kau inginkan?” katanya. “Aku akan memberimu emas yang dengannya kau bisa membeli apapun yang kau mau, dan kau tak perlu kerja lagi.”

Tapi orang itu tak akan menerima emasnya, dan tak akan mendengarkannya. Hingga si setan tua terpaksa tidur dengan perut lapar.

Naik-turunnya keadaan si setan tua segera sampai di telinga Ivan. Orang-orang datang kepadanya dan berkata, “Apa yang akan kita lakukan? Bangsawan itu muncul di antara kita; dia berpakaian bagus; dia minta makan dan minum yang enak-enak, tapi tidak ingin kerja, dan tidak minta makanan demi Kristus. Dia hanya menawarkan emas ke semua orang. Awalnya kami memberi semua yang dia inginkan, mengambil potongan-potongan emas untuk ditukar hanya sebagai pajangan; tapi sekarang kami punya cukup emas dan menolak menerima emas lagi darinya. Apa yang kita lakukan padanya? Dia mungkin mati kelaparan!”

Ivan mendengarkan semua yang mereka katakan, dan berkata pada mereka akan mempekerjakannya sebagai penggembala, bergiliran dalam melakukannya.

Si setan tua tak melihat jalan lain untuk keluar dari kesulitan-kesulitannya dan terpaksa menyerah.

Segera sampailah giliran si setan tua untuk pergi ke rumah Ivan.

Dia pergi ke sana untuk makan malam dan mendapati adik bisu Ivan menyiapkan daging. Perempuan itu dulu sering ditipu oleh orang-orang malas, yang tidak bekerja tapi memakan habis buburnya. Tapi dia belajar cara mengetahui orang-orang malas itu dari tangan mereka. Kepada mereka yang punya bilur besar di tangan mereka dia undang awal-awal ke meja, dan mereka yang punya tangan putih bersih harus meletakkan apa yang tersisa. Si setan tua duduk di meja, tapi si gadis bisu itu melihat ke tangannya setelah dia melatakkannya di atas meja, dan karena melihatnya putih dan bersih dengan kuku yang panjang, dia menyumpahinya dan mengusirnya dari meja.

Istri Ivan berkata ke setan tua, “Kau harus memaafkan adik iparku; dia tidak akan mengizinkan siapapun yang tangannya tidak mengeras karena kerja keras duduk di meja. Jadi kau harus menunggu hingga makan malam selesai dan kemudian kau bisa punyai apa yang tersisa. Dengannya kau harus puas.”

Si setan tua sangat tersinggung bahwa dia harus makan dengan “babi-babi”. Dia mengatakannya dan mengadu ke Ivan, dan berkata, “Sungguhbodoh hukum yang kau miliki di kerajaanmu, bahwa semua orang harus kerja. Ini adalah penemuan orang-orang bodoh. Rakyat yang bekeja untuk hidup tidak selalu dipaksa bekerja dengan tangan mereka. Apa kau pikir orang-orang bijak bekerja demikian?”

Ivan menjawab, “Baiklah, tapi apa yang orang-orang bodoh itu tahu tentangnya? Kami semua kerja dengan tangan kami.”

“Dan dengan alasan apa kalian jadi bodoh,” jawab si setan, “saya bisa mengajari kalian bagaimana menggunakan otak kalian, dan kau akan menemukan pekerjaan demikian lebih bermanfaat.”

Ivan terkejut mendengarnya, dan berkata. “Baiklah, mungkin tanpa alasan yang baik kami disebut orang-orang bodoh.”

“Tidak begitu mudah bekerja dengan otak,” kata si setan tua. “Kau tidak akan memberiku apapun untuk dimakan karena tanganku tidak tampak mengeras karena kerja keras, dan terkadang kepala serasa seperti meledak karena usaha membuatnya seperti itu.”

“Maka kenapa kau tidak memilih pekerjaan yang mudah hingga kau bisa lakukan dengan tanganmu?” Tanya Ivan.

Setan itu menjawab, “Saya menyiksa saya sendiri dengan kerja otak karena saya kasihan kepada kalian, karena, jika saya tidak menyiksa diri saya, orang seperti kamu akan tetap bodoh selamanya. Saya sudah menguji otak saya dengan persoalan besar sepanjang hidup saya, dan sekarang saya bisa mengajarimu.”

Ivan sangat terkejut dan berkata, “Baik; ajari kami, dengan demikian ketika tangan kami lelah kami bisa menggunakan otak kami menggantikannya.”

Si setan tua berjanji memerintahkan semua orang, dan Ivan mengumumkan kenyataan itu ke seluruh kerajaannya.

Si setan tua ingin mengajari mereka yang datang kepadanya bagaimana menggunakan kepala di samping menggunakan tangan, sedemikian rupa untuk menghasilkan lebih banyak hal dengan kepala daripada dengan tangan.

Di kerajaan Ivan terdapat menara tinggi, yang bisa dicapai dengan tangga yang panjang dan tipis yang mengarah ke balkon, dan Ivan berkata pada si setan tua bahwa dari atas menara itu setiap orang bisa melihatnya.

Jadi setan tua itu menaiki balkon dan berpidato ke arah rakyat Ivan.

Orang-orang bodoh itu datang berbondong-bondong untuk mendengarkan perkataan si setan tua, berfikir bahwa dia benar-benar hendak mengatakan pada mereka bagaimana bekerja dengan kepala. Tapi si setan tua cuma mengatakan apa-apa yang harus dilakukan, dan tidak memberikan mereka suatu instruksi praktis. Dia berkata bahwa orang-orang yang cuma bekerja dengan tangan mereka tidak bisa menghidupi diri. Orang-orang bodoh itu tidak paham apa yang dia katakan dan melihatnya dengan heran, dan kemudian kembali lagi ke pekerjaan sehari-hari mereka.

Si setan tua berpidato selama dua hari di balkon, dan akhirnya, karena merasa lapar, dia minta orang-orang memberinya roti. Tapi mereka cuma tertawa kepadanya dan mengatakan jika dia bisa bekerja dengan kepalanya lebih baik daripada dengan tangannya, dia bisa mendapatkan roti untuknya sendiri. Dia berpidato kepada orang-orang untuk hari berikutnya, dan mereka mendengarkannya karena ingin tahu, tapi segera meninggalkannya untuk kembali ke pekerjaan mereka.

Ivan bertanya, “Apakah si bangsawan itu bekerja dengan kepalanya?”

“Belum,” jawab mereka, “paling-paling dia hanya bicara.”

Suatu hari, ketika si setan tua sedang berdiri di balkon, dia jadi lemah dan terjatuh, kepalanya terbentur sebuah galah.

Melihat hal ini, salah satu orang-orang bodoh itu berlari ke istri Ivan dan berkata, “Pria itu akhirnya bekerja dengan kepalanya.”

Dia berlari ke ladang untuk mengatakannya kepada Ivan, yang sangat terkejut, dan berkata, “Mari kita lihat dia.”

Dia arahkan kudanya ke menara, di mana si setan tua tetap lemah kelaparan dan masih bergelantungan di galah, dengan tubuhnya berayun ke depan dan ke belakang dan kepalanya menebrak bagian terendah galah setiap kali galah itu menyentuhnya.

Sementara Ivan melihat, si setan tua mulai jatuh dengan kepala dulu —sebagaimana mereka harapkan, untuk membuktikan kepada mereka.

“Bagus,” kata Ivan, “akhirnya dia mengatakan kebenaran— bahwa terkadang dari kerja semacam ini kepala bisa pecah. Ini jauh lebih buruh daripada bilur di tangan.”

Si setan tua jatuh ke tanah dengan kepala duluan. Ivan mendekatinya, tapi seketika itu juga tanah itu terbelah dan setan itu menghilang, meninggal sebuah lubang yang menunjukkan tempat kepergiannya.

Ivan menggaruk kepalanya dan berkata, “Lihatlah; betapa buruk! Ini adalah setan yang lain. Dia seperti bapak setan-setan kecil.”

Ivan tetap hidup, dan orang-orang berkumpul di kerajaannya. Saudara-saudaranya datang kepadanya dan dia memberi mereka makan.

Bagi siapa pun yang datang kepadanya dan berkata, “berikan kami makanan,” dia menjawab, “Bagus sekali; selamat datang. Kami punya banyak sekali semua hal.”

Hanya ada satu adat-istiadat yang terlihat di kerajaan Ivan: orang dengan tangan mengeras karena kerja keras selalu diberi tempat duduk, sementara pemilik tangan putih halus harus puas dengan makanan sisa.[]

 

Diterjamahkan dari Leo Tolstoy, Ivan the Fool, http://www2.hn.psu.edu./faculty/jmanis/tolstoy.htm.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s