Tradisi

Terjadi diskusi seru dalam Muktamar Al-Azhar Internasional kemarin antara Grand Syaikh Al-Azhar dan Rektor Cairo University. Diskusi itu berkisar dalam topik ‘tradisi’. Bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap tradisi?

Kedua tokoh penting dalam tradisi intelektual di Mesir itu bersepakat bahwa tradisi adalah sesuatu yang sangat penting dalam proses pembaharuan Islam. Namun keduanya memiliki pandangan yang sangat berbeda. Grand Syaikh Al-Azhar, Dr. Ahmed el-Tayyeb, mengambilkan sikap kontinuitas terhadap tradisi. Artinya, tradisi besar Islam harus diteruskan dan direvitalisasi agar sesuai dengan kondisi terkini. Apa yang dimaksudkan sebagai pembaharuan adalah menjadikan tradisi sebagai titik tolak kebaruan itu.

Sebaliknya, Rektor Cairo University, Muhamed Othman Elkhosht, mengambil sikap diskontinuitas. Dengan kata lain, tradisi masa lalu yang kini dianut oleh umat Muslim harus diganti dengan tradisi baru yang sesuai dengan tantangan zaman terkini. Tantangan-tantangan yang dihadapi oleh umat Muslim kini sudah sepenuhnya berubah, tidak mungkin dihadapi dengan cara pandang dan cara bersikap masa lalu yang dulu digunakan untuk menghadapi tantangan-tantangannya sendiri.

Bagaimana ceritanya kok bisa muncul dua sikap yang berbeda itu dalam dua universitas besar di Mesir? Ini tentu tidak lepas dari sejarah pemikiran di lingkungan intelektual Mesir sendiri. Kita tahu bersama bagaimana perjalanan Al-Azhar sejak dipimpin oleh Muhammad Abduh. Muhammad Abduh melakukan pembaharuan besar-besaran kepada universitas itu. Pada saat bersamaan, kemunculan Cairo University juga bertujuan untuk melakukan pembaharuan terhadap masyarakat Muslim. Berdirinya kampus ini berkat peran besar Jamaluddin al-Afghani yang merupakan guru yang sangat dikagumi oleh Muhammad Abduh.

Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani dikenal sebagai tokoh pembaharuan di Mesir. Namun, dalam tataran praksis, keduanya mengambil jalan yang berbeda. Berkat perkenan dari Grand Syaikh Al-Azhar yang waktu itu dijabat oleh Mustafa al-Maraghi, Muhammad Abduh melakukannya dari dalam, yakni melakukan pembaharuan di jantung tradisi itu sendiri: Universitas Al-Azhar. Tentu kita sulit membayangkan bahwa dia akan melakukan perombakan besar-besaran dan memutus tradisi intelektual yang sudah ratusan tahun mengakar di situ. Itu tidak akan berhasil. Yang paling mungkin dia lakukan adalah mencari celah-celah pembaharuan dalam tradisi itu sendiri, bukan merombaknya dan membuat tradisi baru.

Yang dihadapi oleh Jamaluddin Al-Afghani sangat berbeda dengan murid sekaligus rekan perjuangannya itu. Dengan mendirikan universitas baru, Al-Afghani bisa dengan bebas membuat tradisi intelektual yang diinginkannya tanpa harus menghadapi rintangan yang berarti. Tujuannya untuk melakukan pembaharuan disokong oleh praktik-praktik intelektual dalam tradisi yang sepenuhnya baru. 

Dalam latar sejarah seperti itulah kiranya perdebatan antara Grand Syaikh Dr. Al-Tayeb dan Presiden Cairo University Muhamed Othman Elkhosht itu terjadi. Keduanya sebenarnya mewakili ideologi pembaharuan yang dianut oleh masing-masing institusi yang mereka pimpin. Letupan-letupan pemikiran dari dua ideologi pembaharuan itu bisa dilihat dalam karya-karya intelektual yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh penting dalam dua universitas itu. 

Di kalangan Cairo University kita mengenal sosok Hassan Hanafi yang karya-karyanya bertebaran di Indonesia. Pemikiran Hassan Hanafi tentu kental dengan cita-rasa pembaharuan dari universitasnya tersebut. Adapun karya-karya yang menyokong pembaharuan model Al-Azhar University lebih mudah lagi ditemukan di Indonesia, sebab hampir semua orang Indonesia yang kuliah di Mesir masuk Universitas Al-Azhar. Dari merekalah kita bisa membaca dan mengikuti perkembangan pemikiran di Al-Azhar dan di Timur Tengah pada umumnya.

Apa yang cukup menarik diulas di sini adalah kematangan diskusi kedua tokoh dari dua universitas besar di Mesir itu. Perdebatan itu mencerminkan sikap dewasa dalam menghadapi perbedaan pandangan dalam isu-isu yang cukup krusial terhadap perjalan negaranya ke depan, bahkan juga terhadap negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Isu pembaharuan Islam dibicarakan, didiskusikan dan diperdebatkan dengan sehat dan adu argumen yang matang. Perdebatan semacam itu jarang kita lihat di dalam negeri kita.

Di Indonesia pernah ada perdebatan mengenai ‘tradisi’ juga, namun dalam konteks dan ruang lingkup kesejarahan yang berbeda. Dia masa sebelum kemerdekaan pernah muncul perdebatan bertajuk ‘Polemik Kebudayaan’. Di penghujung Orde Lama pernah pula muncul perdebatan kebudayaan antara Lekra dan Manikebu. Perdebatan-perdebatan itu sangat seru, juga bermutu. Sayang perdebatan yang sangat krusial terhadap perjalanan bangsa ke depan itu macet selama Orde Baru. Orde sialan itu menghentikan perdebatan itu, bahkan melarang segala bentuk perdebatan yang dianggapnya mengancam kekuasaan.

Setelah Orde Baru tumbang, kini lamat-lamat mulai muncul diskusi dan perdebatan bagus mengenai bagaimana bangsa ini harus dilanjutkan. Yang kita butuhkan adalah perdebatan yang sanggup bertahan lama, tanpa ada celah bagi serobotan kekuasaan dalam prosesnya. Kita ini melihat, perdebatan seru mengenai tradisi itu berlangsung di media massa antara kaum intelektual, di parlemen antara para wakil rakyat, di pojok-pojok warung kopi antara anak-anak tongkrongan. Saya ingin sekali melihatnya.[]


  • Muktamar Internasional Al-Azhar itu membahas mengenai pembaharuan pemikiran Islam. Hasilnya adalah 29 poin rumusan mengenai pembaharuan pemikiran Islam yang diterjemahkan dengan sangat bagus oleh Gus Nadir dalam websitenya.
  • Perihal perdebatan kedua tokoh itu, videonya sudah tersedia dengan subtitel berbahasa Indonesia berkat kerja telaten Kanal Youtube Sanad Media. Silakan dinikmati:

Betapa Sulitnya Menolak Agen MLM

Kamu tahu kan apa itu Mig33? Media ini adalah media chatting yang di pertengahan 2000-an sangat populer. Saya adalah salah satu penggunanya, namun itu hanya bertahan setahun. Mainan satu ini cepat membosankan.

Di tengah-tengah kecanduan media itu, saya akrab dengan beberapa pengguna lain, namun tidak ada satupun yang saya tahu orangnya. Semua pengguna yang pernah mengobrol dengan saya belum pernah bertatap muka. Kami hanya mengobrol dan bercanda di dunia maya semata.

Beberapa pengguna bercerita bahwa mereka pernah saling jumpa dan kopi darat. Saya tidak tertarik melakukannya. Bahkan sesama pengguna di Kabupaten Malang pun tidak pernah saya datangi. Setiap ada rencana kopdar, saya selalu mengelak dengan berbagai macam cara.

Hanya satu orang perkecualian. Ajakannya untuk kopdar tidak bisa saya tolak, sebab lokasinya adalah di rumah saya. Mana mungkin saya menolak orang yang mau bertamu ke rumah saya? Permintaannya untuk bertamu berbalut tawaran bantuan. Awalnya dia bertanya apakah saya ingin pekerjaan. Saya iyakan saja karena memang saya belum punya pekerjaan. Dia akhirnya bersedia membantu saya dan berjanji akan datang ke rumah saya untuk urusan pekerjaan itu. Orang ini serius sekali mau membantu, batin saya.

Di hari yang sudah disepakati itu, datanglah dia ke rumah. Dia adalah lelaki yang agak cekatan, terlihat dari gayanya. Dia terlihat memakai sepeda motor. Itu cukup mengesankan untuk orang yang mau menawarkan bantuan pekerjaan. Lagipula, rumahnya agak jauh. Jika saya tidak salah ingat, rumahnya adalah di Lamongan. Itu adalah jarak yang cukup jauh dari Malang.

Cukup lama kami mengobrol di rumah, tentang hal-hal pribadi dan kabar-kabar nasional yang sedang ramai di televisi. Dia adalah orang cukup asyik diajak mengobrol.

Ketika sudah sampai pada obrolan tentang pekerjaan yang sudah dijanjikannya. Saya jadi agak terkejut juga. Dia adalah agen MLM. Astaga! Jadi dia menawarkan beberapa produk agar saya jual juga dia mengajak saya menjadi agen juga yang hierarkinya di bawah dia. Ternyata ini adalah pekerjaan omong kosong!

***

Harus saya ingatkan terlebih dahulu bahwa pekerjaan di zaman itu–kurang lebih satu dekade dahulu–tidaklah seenak sekarang. Zaman sekarang jauh lebih mudah, sebab lapak-lapak daring sudah tersedia banyak sekali. Sekarang, kalau saya mau jualan sesuatu saya tinggal mencari produknya dan menjualnya secara dari di mana-mana. 

Zaman itu beda. Pangsa pasar daring masih belum sebesar sekarang. Waktu itu MLM dikerjakan secara luring, kita harus ketuk pintu satu per satu untuk menawarkan produk yang mau kita jual. Itu benar-benar zaman masih serba susah.

Para agen MLM bersifat hierarkis. Mereka yang berhasil menjaring agen lain akan mendapat poin dan mendapat posisi lebih tinggi. Agen yang terjaring akan berusah merekrut agen baru agar posisinya bisa lebih tinggi lagi. Semakin tinggi posisi seorang agen, semakin banyak pula bonus-bonus yang akan didapatnya. Iming-iming bonus yang tinggi itulah yang mendorong para agen untuk bekerja sangat giat.

Pada dasarnya bisnis dengan iming-iming bonus bagi para agennya adalah hal lazim. Sayangnya bonus dalam MLM tidak diperoleh karena keberhasilan menjual produk dalam junlah tertentu, melainkan karena keberhasilnya merekrut agen baru. Bisnis MLM terjebak dalam pola yang elitis. Mereka yang posisinya sangat tinggi tidak perlu bersusah payah merekrut agen baru, sebab upaya itu sudah dilakukan oleh agen-agen hasil rekrutannya.

Oleh karena iming-iming bonus itu, para agen MLM lantas berlomba-lomba merekrut agen baru. Cara yang mereka gunakan kerapkali bikin gemas. Mereka akan bersikap sangat ramah pada calon sasarannya dalam hal yang tidak ada urusannya sama sekali dengan tawar-menawar produk, lalu di saat sudah akrab tujuannya untuk menjual produknya akhirnya diungkapkan. Korbannya akan merasa bahwa keramah-tamahan dulu itu hanyalah kedok belaka.

Yang paling menyusahkan dari menjadi agen MLM zaman itu adalah selalu dicurigai oleh orang lain. Di satu sisi, dia harus terus-menerus menawarkan produknya pada orang lain, di sisi lain, upaya itu bisa berefek bumerang karena orang lain yang tidak tertarik pada produknya akan menjauhinya dan terus-menerus menghindari komunikasi dengannya. Bisnis MLM memang berefek rikuh seperti itu.

Kini mungkin berbeda. Bisnis MLM sekarang tidak sedilema dulu. Sejak menjamurnya lapak-lapak daring, strategi bisnis dan promosi produk tidak semenyeramkan dulu. Beban psikologisnya lebih ringan. 

Di masa kini, bisnis MLM mungkin tidak lagi bisa disebut MLM. Bisa dikata, strategi bisnis semacam itu sudah tidak lagi diperlukan, berkat media bisnis yang sudah sepenuhnya berbeda. Tidak perlu lagi ketuk-ketuk pintu untuk menawarkan barang.

***

Tamu saya itu ternyata adalah seorang agen MLM. Saya pun tidak tertarik pada produk yang ditawarkannya. Saya tidak pernah tertarik menjual barang secara MLM. Bagaimana cara menolaknya?

Dia sudah jauh-jauh dari Lamongan menawarkan kerjasama di bidang per-MLM-an, jelas dia punya harapan besar bahwa tawarannya akan saya terima. Rasa sungkan membuat saya dilema.

Tapi, sial, tidak ada cara lain untuk menolak tawarannya selain jujur. Pilihannya waktu itu hanya dua: menerimanya karena dorongan sungkan atau menolaknya secara jujur. Untuk hal ini, saya memilih keputusan kedua. Saya berkata jujur bahwa pekerjaan yang ditawarkannya tidak cocok buat saya, sembari menyampaikan permintaan maaf sebanyak-banyak.

Saya sadar bahwa tawaran semacam itu yang berakhir penolakan adalah hal biasa dalam berbisnis. Dia pun mungkin menyadarinya. Tapi mengingat perjuangannya berkendara sepeda motor dari Lamongan, itu membuat saya tidak enak hati juga.

Saat saya nyatakan penolakan saya, wajahnya jelas-jelas menunjukkan ekspresi kecewa. Dia tertunduk lesu sembari mengemasi produk-produk dagangannya ke dalam tas. Pemandangan itu membuat hati saya semakin sungkan.

Itu adalah perjumpaan pertama saya dengan seorang agen MLM. Sebelumnya saya hanya mendengar dari pengalaman teman-teman saya saja, belum pernah mengalami langsung. Pengalaman pertama kali itu membuat saya insyaf, para agen MLM adalah takdir yang datang kepada Anda untuk memberikan rasa kikuk. 

Itu.[]

Paradigma Baru Dalam Memahami Al-Ghazālī

Buku Alexander Traiger ini, Inspired Knowledge of Islamic Thought: Al-Ghazālī’s Theory of Mistical Cognition and Its Avicennian Foundation, merupakan cara baru untuk memahami Al-Ghazālī. Selama ini kita selalu menganggap bahwaAl-Ghazālī adalah salah satu musuh utama filsafat dan para filosof. Kalaupun bukan musuh, kita akan kesulitan menyangkal posisinya sebagai pengkritik keras terhadap filsafat.

Kesulitan itu dikarenakan memang Al-Ghazālī menulis banyak buku dan risalah yang mengkritik filsafat dan para filosof. Sebuah buku bahkan dia karang khusus mengkritik filsafat, Tahāfut al-Falāsifah (Kerancuan Para Filosof). Belum lagi berbagai kritik di dalam berbagai buku lainnya, seperti Ihyā ‘Ulūm al-Dīn, Al-Arba‘īn, Al-Maqṣad al-Asnā, Al-Munqidh min al-Ḍalāl, dan lain sebagainya. Semua itu seolah membenarkan anggapan di atas dan membuktikan bahwa Al-Ghazālī benar-benar mencampakkan filsafat keras-keras.

Kisah kritik dan “banting setir” Al-Ghazālī dari ahli filsafat menjadi anti filsafat diceritakan oleh Al-Ghazālī di dalam bukunya, Al-Munqidh min al-Ḍalāl, dan kemudian narasi di dalam buku ini menjadi acuan bagi para penggiat studi Al-Ghazālī untuk menetapkan posisinya sebagai penolak dan penyangkal kebenaran filosofis. Di dalam Al-Munqidh, Al-Ghazālī membangun narasi sebagai berikut:  selagi muda, Al-Ghazālī selalu haus akan pengetahuan, hingga mendorongnya untuk mempelajari empat metode ilmu: Ilmu Kalam, Filsafat, Syi’ah Isma‘iliyah, dan Tasawuf. Ketiga ilmu awal ditolah oleh Al-Ghazālī dan dikritik sebagai ilmu yang tidak memberi kepuasan batinnya yang haus akan kebenaran. Khusus mengenai filsafat, dia menolaknya karena memuat 20 ajaran keliru dan menyimpang: tiga di antaranya menyebabkan kekufuran, 17 sisanya adalah bidah.

Namun betulkah Al-Ghazālī mencampakkan filsafat keras-keras lalu meninggalkannya sama sekali? Buku ini malah membuktikan sebaliknya. Kisah hidup Al-Ghazālī justru tidak pernah meninggalkan filsafat, bahkan setelah dia menulis kitab Tahāfut. Beberapa kitab yang ditulis setelah Tahāfut pada dasarnya adalah penyebaran gagasan filsafat, terutama filsafat Ibn Sīnā., dalam kemasan dan topeng tasawuf.

Alexander Traiger membuktikan hal itu dengan mencocokkan beberapa istilah kunci dalam pemikiran Al-Ghazālī dengan pemikiran Ibn Sīnā. Hasilnya cukup mengejutkan, ternyata semua istilah kunci itu sangat bercorak Ibn Sīnā, bahkan dalam bahasa Alexander Traiger sendiri, semua istilah itu akan sulit dipahami kecuali dalam kerangka pemikiran Ibn Sīnā.

Istilah Hati (Qalb), Intelegensi (‘Aql) dan Pengetahuan (‘ilm) ditelusuri maknanya dan dilacak dalam pemikiran Ibn Sīnā. Hasilnya, makna istilah Hati ternyata berkorespondensi dengan konsep intelek (al-‘Aql) atau jiwa rasional (al-nafs al-nātiqah) dalam tradisi filsafat Islam. Sementara itu, istilah Intelegensi berkorespondensi dengan Akal Potensial (al-‘aql al-Hayūlānī) dalam Ibn Sīnā. Adapun istilah ‘ilm dibedakannya dengan ma‘rifah. Yang kedua memiliki muatan lebih tinggi daripada yang pertama. Namun, perlu diingat bahwa dalam salah kitabnya Al-Ghazālī menyatakan bahwa ‘ilm sama dengan taṣawwur, dan ma‘rifah sama dengan taṣdīq. Jadi pengertian istilah ‘ilm bisa dipahami dalam Ilmu Logika juga.

Al-Ghazālī mengelaborasi ilmu baru yang disebutnya sebagai Ilmu Penyibakan (‘ilm al-Mukāshafah). Ilmu ini adalah intisari ilmu agama. Dia mendaku bahwa ini adalah ilmu yang dilestarikan oleh para pendahulu (al-salaf al-ṣāliḥ), namun belakangan banyak dilupakan orang karena terlalu sibuk dengan ilmu duniawi (Kalam dan Fikih). Oleh karena itu, nama kitabnya yang terkenal adalah Ihyā ‘Ulūm al-Dīn yang hanya dari namanya saja kita bisa mengerti bahwa Al-Ghazālī ingin menghidupkan kembali dan melestarikan Ilmu Penyibakan ini. Namun, lagi-lagi, pada dasarnya ilmu ini memiliki dasar filosofis yang kental sekali dan Alexander Treiger membuktikan bahwa kunci untuk memahami ilmu ini adalah ilmu filsafat. Hal ini berkaitan dengan konsep “keselamatan” (najāh) dan “kebahagiaan” (sa‘ādah) di akhirat kelak. Keselamatan diperoleh oleh seseorang yang miliki iman, meskipun dia tidak memiliki pengetahuan apapun. Kebahagian akan diperoleh hanya oleh mereka yang memiliki pengetahuan akan Tuhannya (ma‘rifatullāh) dan menguasai berbagai ilmu secara mendalam. Hal ini senada dengan pandangan dalam tradisi filsafat Arab mengenai “Kebahagiaan di akhirat” (al-sa‘ādah al-qaswā) dan bahwa mengenal Allah adalah tujuan atau telos dari manusia.

Dua istilah lain yang dianalisis oleh Alexander Treiger adalah “rasa” (ẓawq) dan “penyaksian” (mushāhadah). Keduanya pun memiliki akar filosofis dan bisa dipahami dalam kerangka filsafat. “Rasa” berkorespondensi dengan gagasan kenikmatan intelektual Ibn Sīnā, sedangkan “penyaksian” sama-sama digunakan oleh keduanya namun dalam pengertian berbeda. Ibn Sīnā menggunakan istilah itu untuk menjelaskan visi intelektual mengenai intelegibel dan menurutnya memiliki struktur silogistis. Adapun menurut Al-Ghazālī, istilah itu menunjuk pada pengetahuan spontan yang tidak memiliki struktur silogistis sama sekali. Kedua pandangan ini membedakan Ibn Sīnā sebagai seorang filosof dari Al-Ghazālī sebagai seorang mistikus.

Lebih jauh lagi, dua konsep kunci lain yang menjadi bukti adanya pengaruh Ibn Sīnā terhadap Al-Ghazālī adalah ilhām dan waḥy. Dua istilah ini dulu selalu dianggap bercorak mistis. Al-Ghazālī pun dalam banyak sekali kesempatan mengatakan bahwa dua istilah itu menandai metode mistis, yang berbeda dengan metode demonstratif milik para filosof dan teolog. Namun, di dalam bukunya ini, Alexander Treiger justru menunjukkan bahwa dua istilah itu berkorelasi dengan filsafat Ibn Sīnā. Singkatnya, Al-Ghazālī mengembangkan konsep itu dari tradisi filsafat Islam dan mengemasnya dalam busana mistisisme.

Berbagai temuan itu memunculkan banyak sekali pertanyaan dan menggoncang pandangan umum yang selama ini dianut oleh banyak pemerhati pemikiran Al-Ghazālī. Untuk menyebut salah satu pertanyaan yang muncul dari paparan di atas, bagaimana dengan buku Tahāfut al-Falāsifah yang oleh penulisnya sendiri dikatakan sebagai sebentuk serangan terhadap para filosof? Para pemerhati klasik biasanya memberikan solusi begini: Al-Ghazālī cenderung tidak konsisten dalam pemikirannya. Dia mengkritik filsafat, namun di dalam berbagai karangannya dia tetap menggunakan gagasan-gagasan filsafat Avicennian untuk menyampaikan pemikirannya. Dengan kata lain, pada dasarnya Al-Ghazālī setuju dengan pandangan-pandangan para filosof yang dikritiknya itu, namun karena tuntutan ideologis dan politis dia melancarkan kritik terhadap para filosof. Motif serangannya bukan untuk membela kebenaran, melainkan untuk mencari aman belaka.

Alexander Treiger punya jawaban lain untuk pertanyaan di atas. Menurutnya, Al-Ghazālī adalah pemikir yang konsisten dan kritiknya itu tidak bertentangan dengan kesetujuannya dengan ide-ide filosofis Avicennian. Dengan mengujinya kepada dua diskusi dalam Tahāfut al-Falāsifah, yakni diskusi ke-16 dan ke-20, Treiger menunjukkan bahwa kritik Al-Ghazālī pada dasarnya diarahkan kepada alur argumentasi para filosof, bukan kepada kesimpulan mereka. Di beberapa kitabnya yang lain, dua topik itu dijelaskan oleh Al-Ghazālī dan dia menyetujuinya—atau setidaknya tidak melabelinya sebagai kafir atau bidah sebagaimana dalam Tahāfut al-Falāsifah. Bagaimana itu bisa terjadi? Menurut Alexander Treiger, itu terjadi karena kitab Tahāfut al-Falāsifah pada dasarnya adalah kitab teologis yang berfungsi untuk melindungi akidah kaum awam. Kritik yang diarahkan oleh Al-Ghazālī dalam Tahāfut al-Falāsifah pada dasarnya berfungsi seperti “kabut asap” yang menyamarkan pandangan orang awam dan membuatnya beralih pada gagasan-gagasan yang lebih cocok dengan level pengetahuan mereka. Bukan rahasia lagi bahwa filsafat pada zaman itu tidak disebarkan secara publik dan tidak diajarkan kepada semua orang agar tidak dikonsumsi oleh orang awam. Dengan demikian, Al-Ghazālī menulis Tahāfut al-Falāsifah bukan berarti dia anti terhadap filsafat, melainkan bertujuan untuk menyembunyikan filsafat dari konsumen-konsumen yang tidak sanggup menanggungnya. 

Ditemukannya gagasan-gagasan filosofis dengan karangan-karangan Al-Ghazālī, bahkan beberapa karangan setelah Tahāfut al-Falāsifah, memperkuat pandangan itu. Al-Ghazālī pada dasarnya tidak pernah meninggalkan filsafat. Bahkan dia tidak pernah berniat melakukannya.

Kenyataan itu diperkuat dengan dekomen surat-surat Al-Ghazālī yang belakangan ini ditemukan. Surat-surat berbahasa Persia itu menceritakan kontroversi (dikenal dengan kontroversi Nīshāpūr) yang dialami oleh Al-Ghazālī di kisaran tahun 500 H./1006-7 M, tepat setelah Al-Ghazālī kembali dari berkelana dan akan mengajar lagi di Nīshāpūr. Al-Ghazālī dibawa ke pengadilan karena tuduhan menyebarkan ajaran filsafat, ajaran Zoroastrian, ajaran Kristen dan ajaran bidah di dalam beberapa kitabnya seperti Mishkāh al-Anwār, Kimiyā-yi Sa‘ādat, Al-Munqidh min al-Ḍalāl, dan lain-lain.

Dalam jawabannya, Al-Ghazālī tidak menyangkal bahwa beberapa gagasan itu bisa jadi terdapat dalam pemikiran para filosof atau ajaran Kristen atau apapun. Namun jika gagasan-gagasan itu rasional dalam dirinya sendiri (ma‘qūlan bi nafsih), didukung oleh bukti-bukti demonstratif, dan tidak bertentangan Alquran dan Hadis, kenapa gagasan-gagasan itu harus ditolak? Fakta bahwa gagasan-gagasan itu juga dianut oleh orang Kristen atau para filosof tidak serta-merta membuat gagasan itu keliru. Al-Ghazālī lantas mengutip perkataan ‘Alī ibn Abī Ṭālib: “Jangan nilai kebenaran dari orangnya; melainkan temukanlah kebenaran [terlebih dahulu], maka akan kautemukan siapa saja penganutnya.”[]


Catatan: Tulisan ini sebenarnya pernah terbit di web luhurian.or.id, namun tampaknya web itu sudah tidak aktif lagi. Untuk kebutuhan dokumentasi, terpaksa tulisan ini diterbit lagi di sini.

Milad Charles Darwin

Kredit foto: philosophytalk.org

Teori evolusi adalah salah satu topik paling kontroversial dalam Ilmu Biologi. Topik ini kontroversial bagi kaum agamawan. Kontroversinya mirip seperti ide-ide Mu’tazilah atau khawarij dalam Ilmu Kalam bagi kaum Asy’ariyah modern. Mirip pula seperti topik kontroversial tentang komunisme bagi kaum Orde Baru.

Tapi harap dibedakan, teori evolusi dalam Ilmu Biologi adalah teori pemenang. Karena itu, teori ini tetap diajarkan di sekolah sebab makin hari semakin mendapat bukti-bukti penguat. Beda kasusnya dengan kaum Mu’tazilah dan Khawarij yang merupakan kaum kalah, hingga kini ajaran terus-menerus dicurigai kemunculannya kembali. Nasib mereka mirip dengan kaum Komunis di Indonesia. Adapun kaum Evolusionis, nasib mereka sangat berbeda.

Harap dibedakan pula antara teori evolusi modern dengan Charles Darwin. Keduanya memang berhubungan erat, tapi tidaklah identik. Charles Darwin memang dinobatkan sebagai penggagas teori itu, namun semakin hari teorinya semakin ditinggalkan. Teori evolusi modern bahkan sudah meninggalkan banyak hal dari Charles Darwin, seperti ide utamanya mengenai variasi terus-menerus.

Untuk memahami bagaimana teori evolusi modern meninggalkan pencetusnya itu, kita perlu menyapa pemikiran seorang evolusionis lain yang sezaman dengan Darwin. Namanya Gregor Mendel. Meski sama-sama menggagas teori evolusi, namun dasar pemikiran mereka sangatlah berbeda, bahkan bertentangan. Teori evolusi Darwin didasarkan kepada variasi terus-menerus, sedangkan teori Mendel berdasarkan mutasi terus-menerus.

Selama beberapa saat, pandangan kedua orang itu memiliki pengikutnya sendiri-sendiri. Hal itu menjadikan pandangan dua ilmuwan itu menjadi semacam mazhab. Para pengikut mereka saling berdebat dan saling mencemooh.

Perdebatan itu berakhir sejak Ronald Fisher melakukan sintesis terhadap dua mazhab itu. Dasar sintesis Fisher adalah teori genetika yang belum ada di zaman Darwin dan Mendel. Dengan demikian, sintesis itu mungkin dilakukan sebab Ilmu Biologi sendiri sudah berkembang dan semakin maju.

Implikasinya apa? Implikasinya adalah munculnya babak baru dalam teori evolusi, yakni ketika teori evolusi mengoreksi kesalahan Charles Darwin dan Gregor Mendel sekaligus. Itulah yang disebut dengan teori evolusi modern.

Teori evolusi modern ini makin hari semakin berkembang dan semakin kokoh, sebab bukti-bukti pendukungnya semakin banyak dan semakin kuat. Kini, membantah teori evolusi seolah sama dengan membantah Biologi itu sendiri. Itu sulit sekali dilakukan.

***

Apa sumbangsih teori evolusi bagi ilmu pengetahuan? Sumbangannya, tidak diragukan lagi, adalah sudut pandang ilmiah terhadap makhluk hidup. Darwin mengajukan pandangan bahwa makhluk hidup itu berkembang dari satu bentuk ke bentuk lainnya melalui proses yang sangat lambat. Proses itu memakan waktu ribuan tahun.

Teori evolusi menyatakan pandangan yang bertentangan dengan sesuatu yang selama ini umum diterima oleh kebanyakan orang. Pandangan umum itu berdasarkan pengalaman sehari-hari. Sejak zaman dahulu, ayam yang dimakan oleh orang zaman Mesir kuno berbentuk sama dengan yang kita lihat sekarang. Ayam-ayam itu tidak berubah bentuk, masih begitu-begitu saja. Itulah dasar pandangan kita mengenai makhluk hidup.

Namun teori evolusi menentang pandangan umum berdasarkan pengalaman sehari-hari itu. Baginya, pengalaman sehari-hari tidak bisa dijadikan dasar dalam menyimpulkan bentuk makhluk hidup, sebab dasar itu memiliki rentang yang pendek. Paling-paling kemampuannya menarik waktu hanya belasan ribu tahun yang lalu.

Teori evolusi mengajukan rentang masa yang jauh lebih lama dari itu, yakni puluhan ribu hingga ratusan ribu tahun yang lalu. Itu rentang waktu yang panjang sekali. Rentang waktu yang panjang itulah yang membuat proses evolusi berlangsung.

Dengan demikian, cara kita melihat makhluk hidup jadi berubah karena teori ini. Kita melihat hewan-hewan dan tumbuhan jadi makhluk yang dinamis sepanjang waktu, terus berubah karena banyak faktor.

Lalu, apakah Darwin mengajukan teori ini sebagai sesuatu yang benar-benar orisinal? Faktanya, sudah banyak orang-orang sebelum Darwin yang mengajukan pandangan bahwa makhluk hidup itu berubah-ubah sepanjang waktu. Pandangan semacam itu bahkan sudah pernah diucapkan oleh sebagian filosof Yunani Kuno. Konon Al-Jahidz, salah satu intelektual Muslim pertengahan yang menulis kitab bernama Kitāb al-Hayawān, pernah menyatakan pandangan serupa.

Jadi pandangan seperti itu memang tidak sama sekali baru. Dari segi pandangan, memang tidak baru. Namun dari segi argumen, Darwin benar-benar mengajukannya secara baru. Dialah orang pertama yang mendasarkan teori evolusinya kepada bukti-bukti empiris-saintifik. Sebelumnya, argumen evolusi belum ada yang kuat. Semuanya hanya berdasarkan spekulasi belaka. Hal itu berubah sejak Darwin. Dia menarik teori evolusi ke ranah sains.

Jika teori evolusi pra sains tidak pernah menjadi pandangan dominan di kalangan ilmuwan, sejak Darwin teori itu menjadi suatu pandangan yang dinilai kuat, sebab ditopang oleh argumen saintifik yang kuat. Itulah kenapa Darwin dinobatkan sebagai bapak teori evolusi, bukan karena teori benar-benar baru, melainkan karena argumen dan bukti-bukti yang diajukannya sangat baru.

***

Charles Darwin sudah berusaha menjawab pertanyaan pertama di atas, yaitu bahwa manusia juga mengalami evolusi, melalui bukunya, The Descent of Man. Bagi Darwin, manusia adalah hasil proses evolusi yang mekanismenya bekerja melalui variasi terus-menerus. Artinya, berjuta-juta tahun yang lalu belum ada makhluk hidup bernama manusia itu. Lalu karena proses yang sangat panjang, muncullah sosok manusia melalui makhluk hidup lainnya. Proses itu sama dengan makhluk hidup selain manusia. Itu adalah proses yang lumrah dalam dunia makhluk hidup.

Teori Darwin tentang proses evolusi bagi manusia ini sangat kontroversial, sebab berbeda dengan penjelasan Kitab Suci mengenai asal-usul manusia. Dengan kata lain, teori yang dicetuskan Darwin dalam bukunya itu membantah penjelasan kitab suci tentang Adam, manusia pertama, dan proses penciptaannya dari tanah lempung.

Inilah pangkal kontroversi teori evolusi hingga saat ini. Meskipun teori evolusi mengalami koreksi terus-menerus, namun anggapan dasarnya masih mendukung pandangan bahwa manusia mengalami evolusi seperti makhluk hidup lainnya. Dan seperti teori evolusi secara umum, pandangan itu semakin menemukan bukti empirisnya dari hari ke hari.

Mulai dari bukti paleontologis hingga bukti genetika, semuanya makin mendukung pandangan di atas. Makin hari tambah banyak. Sementara itu, sebaliknya, keterangan kitab suci mengenai manusia pertama tidak menambah bukti empiris, sehingga keterangan itu semakin tersudut dari hari ke hari, ditekan oleh Teori Evolusi.[]

Youtuber Dan Buku

booktube
Regan Perusse, salah satu booktuber AS. Sumber: dailydot.com

Setelah secara tidak sengaja menonton videonya Sacha Stevenson berjudul Buku Bagus, saya jadi menyadari sesuatu: para Youtuber kita tidak menceritakan pengalaman mereka membaca buku. Kemungkinan besar, hal itu karena video tentang buku bukanlah umpan yang bagus untuk mendapat banyak klik.

Sacha Stevenson menceritakan buku-buku bagus yang sudah dibacanya. Menurutnya, buku-buku itu dianggapnya bagus karena buku-buku itu telah mengubahnya, entah dari cara berpikir ataupun dari cara berperilaku. 

Ada Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!, Think and Grow Rich oleh Napoleon Hill, Rich Dad Poor Dad oleh Robert T. Kiyoshi, Art of War oleh Sun Tzu, The 4-Hour Workweek oleh Timothy Ferriss, The $100 Startup oleh Chris Guillebeau, Zero to One oleh Peter Thiel, The Black Swan oleh Nassim Nicholas Taleb, How the World Works oleh Noam Chomsky (menurutnya buku ini punya efek tidak bagus), The Intelligent Investor oleh Benjamin Graham, Getting Things Done: The Art of Stress-Free Productivity oleh David Allen, dan beberapa lagi.

Tontonan tidak sengaja itu membawa saya untuk menelusuri bagaimana buku ditampilkan oleh para youtuber. Cukup mengejutkan, ternyata di jagat Youtube sudah dikenal sebutan Booktuber, yaitu mereka yang membuat video tentang buku. Saya baru itu. Di Indonesia ada beberapa yang melakukannya dan mendapat sambutan yang bagus. Penonton dan subscriber mereka cukup banyak. Ada pula beberapa video yang mengulas buku dengan sambutan menyedihkan.

Hanya saja, di kalangan Youtuber papan atas, kisah buku sama sekali tidak ada. Dua youtuber Indonesia dengan subscriber terbanyak pun–saya enggan menyebut nama mereka–tidak membicarakan buku sama sekali, kecuali buku yang mereka buat sendiri. Itu menunjukkan bahwa keduanya bukan pembaca buku yang baik.

Di samping mereka juga banyak Youtuber yang memiliki fans sangat banyak, namun hampir tidak ada video mereka yang membicara buku bacaan mereka. Apa buku yang sudah mereka baca dalam setahun ini? Tidak ada. Sacha Stevenson pun, setahu saya, membuat ulasan buku bagus hanya satu itu saja. Selebihnya dia membicarakan hal lain.

Yang ada, mungkin, adalah rekomendasi buku dari beberapa artis, bukan youtuber. Setahu saya, Sherina dan Maudy Ayunda adalah di antara beberapa artis yang merekomendasikan beberapa buku. Keduanya kasih rekomendasi, mungkin, karena mereka sedang kuliah. 

Saya ingin sekali menunjukkan statistik di dalam persoalan ini, sayangnya saya tidak punya perangkatnya, juga sumbernya. Saya sudah mencarinya di Google berbahasa Indonesia, hingga kini belum menemukan angka statistiknya. Jika kemudian hari saya temukan, saya akan perbarui tulisan ini.

Hal di atas, yaitu hampir tiadanya perbincangan buku di kalangan youtuber, kecuali pegiat booktube, menunjukkan bahwa youtuber tanah air belum memasarkan buku sama sekali. Selain itu, ada kesan bahwa seorang youtuber harus menjaga spesifikasinya sendiri. Artinya, perbincangan tentang ulasan buku hanya milik booktuber, sedangkan perbincangan lainnya hanya dimiliki oleh youtuber dengan spesifikasi lain. Seakan tidak ada lintas perbincangan di situ.

Apakah kenyataannya memang demikian, saya tidak tahu pasti. Saya bukan youtuber.

Namun, yang jelas-jelas saya tangkap di sini, industri buku bukanlah wilayah garapan yang menarik bagi youtuber. Tidak ada youtuber yang endorse buku seantusias ketika mereka meng-endorse kosmetik atau pakaian atau kuliner. Bisa jadi karena industri buku tidak sedigdaya industri lainnya yang sanggup menggunakan jasa influencer untuk memasarkan produknya. Itu tampaknya jelas sekali. 

Industri buku adalah salah satu sektor industri yang payah sekali prospeknya. Mereka digencet sana-sini: pajak yang melangit, pembajakan, pasar yang lesu, biaya produksi mahal, dan lain-lain. Sulit kita berharap bahwa industri ini akan menjemput bola ke pasar, menggaet para influencer untuk memasarkan produknya, kemudian menjadi perbincangan viral di media sosial.

Semua itu hanya semakin memperkuat kenyataan bahwa iklim literasi kita memang masih sangat lemat. Ekosistemnya belum terbangun secara memadai.

Apakah tulisan ini hendak merekomendasikan pemerintah agar menggandeng para youtuber dalam mempromosikan buku-buku bagus atau meningkatkan minat baca? Kiranya itu berlebihan, meski sepertinya patut dicoba. Selama ini promosi buku dan peningkatan minat baca hanya dilakukan secara konvensional. Para content creator perlu dilibatkan untuk mengupayakan visi itu. Baik pemerintah maupun industri buku sama-sama punya tanggung jawab itu.[]

Bagaimana Sains Menangkis Wabah Penyakit?

Sumber gambar: historic-uk

Kisah Sains menghadapi wabah penyakit adalah serangkaian keberhasilan dan kemenangan. Setidaknya begitu menurut sejarah dan statistik.

Wabah penyakit yang memakan korban hingga ribuan orang sudah terjadi sejak dahulu kala. Di masa lalu, wabah ini sama sekali tidak diketahui penyelesaiannya dan para penderitanya tidak dirawat dengan benar, karena sains belum berkembang. 

Contohnya adalah Maut Hitam (The Black Death) di Eropa yang terjadi kisaran 1330-an. Wabah ini adalah salah satu kisah dramatis mengenai wabah mematikan di Eropa dan Asia Barat.

Waktu itu, orang² tiba² menderita benjolan berisi kelenjar getah bening di tubuh mereka. Benjolan² muncul di leher, ketiak atau pangkal paha. Mereka yang menderita penyakit ini rata-rata hanya sanggup bertahan hidup  seminggu.

Memang ada sebagian penderita yang berhasil sembuh, namun kebanyakan meninggal. Bisa dibayangkan betapa ngerinya keadaan waktu itu. Mayat digotong hilir-mudik adalah pemandangan setiap waktu.

Setengah hingga dua per tiga penduduk Eropa mati. Penduduk Paris tersisa hanya separuh. Kota Florence tersisa 50 ribu orang pada tahun 1351, padahal 13 tahun sebelumnya berjumlah 110 ribu. Kota Hamburg dan Bremen di Jerman kehilangan penduduk sebanyak 60%.

Masa-masa itu adalah masa-masa ketidakberdayaan. Pemerintah kebingungan mau berbuat apa. Para biarawan hanya sanggup merapal doa dan jampi². Para dokter waktu itu malah menyalahkan orang Yahudi. Setan dan demit dikambinghitamkan. Orang yang kena penyakit kulit seperti kusta diasingkan, bahkan dipersekusi. Mereka yang punya jerawat besar dikucilkan. Semua itu akibat ketidaktahuan. 

Waktu itu manusia memang belum tahu banyak. Bahkan adanya makhluk bernama bakteri pun mereka belum tahu.

Kini, sains modern meyakini bahwa wabah itu disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis yang menyebar melalui tikus dan kutu hewan. Hewan² itu menyeberang melalui kapal layar pedagang ke daratan Eropa, lalu mengagetkan benua itu dengan sebuah wabah mematikan. 

***

Di era modern ini, sains modern sudah tahu banyak. Perangkat medis kita sudah makin membaik. Wabah penyakit yang mematikan berhasil ditangkis dengan cepat. Korban memang masih ada, tapi jumlahnya tidak sefantastis wabah Maut Hitam. Itulah capaian sains.

Selama dua dekade ini umat manusia diserang oleh virus mematikan bertubi². Tahun 2002 kita diserang oleh SARS, tahun 2005 oleh flu burung, tahun 2009 oleh flu babi, lalu tahun 2014 oleh virus Ebola. Namun statistik korbannya amatlah sedikit. SARS, misalnya, sempat dikhawatirkan akan mengulangi bencana Maut Hitam, tapi ternyata bisa diatasi dengan korban tidak lebih dari 1000 jiwa.

Semua itu berkat wawasan medis kita sudah sangat baik. Kita sudah memiliki perangkat sangat praktis untuk membuat vaksin, antibiotik, peningkatan kebersihan dan infrastruktur medis yang mengagumkan. 

Dulu pernah ada wabah penyakit Sampar (smallpox) yang korbannya, innalillah, bahkan sanggup meruntuhkan peradaban di Amerika Selatan. Pada tahun 1979, WHO mengumumkan kemenangan umat manusia atas virus ini, berkat program vaksinasi terhadap anak-anak selama bertahun-tahun di berbagai negara. Kini kita hampir tidak pernah mendengar ada orang yang meninggal akibat penyakit ini.

Contoh kemenangan lain adalah polio. Dulu semasa saya kecil, saya dikasih vaksin untuk dimakan dari pihak sekolah saya. Itu adalah masa-masa menjalankan program vaksinasi massal untuk memerangi polio. Saya tidak tahu apakah anak² sekarang dikasih vaksin ini. Hanya saja, statistik menunjukkan bahwa penyakit ini telah direduksi hingga 99%. Itu sungguh kemenangan besar.

Kasus virus Ebola dan AIDS adalah perkecualian menarik. Kedua virus ini belum diketahui obatnya, namun perawatan terbaik terhadap penderitanya sudah bisa dilakukan. Medis saintifik baru hanya sanggup memberikan perawatan terbaik, belum sanggup ke tahap pengobatan. Namun hal itu sangat berguna untuk mencegah penyebaran virusnya ke orang lain.

Virus Ebola sempat mengejutkan karena memakan korban 11 ribu jiwa (dari 30 ribu yang terinfeksi). Namun, berkat penanganan yang intensif dan perawatan yang baik, virus ini tidak pernah menyebar keluar dari Afrika Barat. Hingga kini, para saintis sedang berjuang untuk mendapatkan obat bagi penderita penyakit akibat dua virus itu.

Itulah kisah singkat kemenangan manusia yang bertubi² melawan wabah penyakit mematikan. Kita patut berdecak kagum. Kita patut berbangga karena itu adalah kemenangan kita. 

Virus Corona (2019-NCoV) yang melanda Wuhan kali ini memang cukup mengkhawatirkan. Korban yang berjatuhan sudah cukup banyak. Hanya saja, kita perlu optimis bahwa keterampilan medis umat manusia bisa mengulangi kesuksesan² sebelumnya. Kita perlu mendukung setiap jerih-payah yang sedang dikerahkan di sana.

Namun sejarah sains belum terbukti menang melawan satu penyakit umat manusia: hawa nafsu. Kita belum bisa 100% jumawa. 

***

Yang paling mengerikan dari kemampuan manusia menangani virus² mematikan adalah efek sampingnya. Kita sedang waswas dengan tindakan jahil manusia untuk menjadikan virus² itu sebagai senjata pemusnah massal. 

Kemungkinan mengerikan ini disebutkan dalam kitab “Al-Usus wa al-Muntalaqat,” karya Habib al-‘Adani, sebagai salah satu tanda² kiamat. Manusia melalui sains memang berhasil menangkis wabah² penyakit mematikan, tapi senjata pemusnah massal juga buah tangan manusia melalui sains. Yang pertama didorong oleh rasa kemanusiaan yang murni, yang kedua didorong oleh hawa nafsu.

Menariknya, kekhawatiran yang sama disebutkan oleh Yuval Noah Harari dalam “Homo Deus.” Alat yang membuat para dokter sanggup secara cepat mendiagnosa dan mengobati penyakit baru juga bisa membuat para serdadu dan teroris mengembangkan penyakit yang jauh lebih mematikan, kata Yuval.

Kedua pandangan itu menarik sebab diutarakan oleh dua orang berbeda. Yang satu adalah orang beriman, yang lain adalah ateis. Jelas sekali, untuk urusan hawa nafsu yang berakibat buruk kepada orang banyak, agama dan ateisme sama² khawatirnya.[]

Pak Janazah

Pak T sebenarnya mengajar Ilmu Aqaid dengan buku pegangan kitab Kifāyah al-‘Awāmm, namun pelajarannya sering diselinginya dengan Fikih praktis. Seringkali dia suruh kami menghafal beberapa doa dan bacaan yang tidak ada hubungannya dengan ilmu Aqaid.

Kami, para siswa MTs (Madrasah Tsanawiyah), diajarinya kiat² praktis mengenai najis dan bersuci, hal-hal yang perlu diperhatikan agar salat tidak batal, niat dan praktik salat safar, perawatan janazah, dan beberapa hal lain. Semua materi tadi dijadikan selingan dari pelajar asli yang diampunya itu.

Yang paling sulit bagi kami saat itu adalah bacaan salat janazah. Kami harus menghafal bacaan-bacaan niatnya yang bermacam-macam itu, berikut bacaan setelah takbir ketiga dan keempat yang terasa mirip di lidah itu. Kerumitan itu menyebabkan materi salat janazah harus diselesaikan dalam beberapa pertemuan.

Kenapa niat dan bacaan salat terasa begitu sulit dihafalkan? Saya sekarang sudah menghafalnya dengan baik, jadi terasa aneh kenapa ada orang yang kesulitan menghafalkannya.

Namun setelah memperhatikan beberapa orang yang kesulitan menghafalnya, kini saya paham. Kesulitan itu, di antaranya, karena mereka adalah pembelajar bahasa Arab pemula.

Para pemula biasanya mengandalkan bunyi atau fonem untuk menghafal. Mereka merekam tiap bunyi itu dalam otak mereka tanpa tahu bagaimana rangkaian kata dan maknanya.

Ini berbeda dengan orang² yang sudah mahir berbahasa Arab. Mereka akan menghafal dengan banyak penopang, seperti pengetahuan akan lafaz dan tashrif serta makna. Inilah alasan kenapa orang yang sudah mahir berbahasa Arab cenderung luwes dalam menghafal niat salat, misalnya. Asal maknanya tidak melenceng, kata² yang dihafal bisa bervariasi.

Begitulah, kami membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan materi praktik salat janazah itu. Kami semua tergolong pemula.

Kebiasaan Pak T menambah materi di luar Ilmu Aqaid semaunya sendiri itu menjadi pergunjingan di lingkungan teman-teman sekelas. “Ini apa-apaan sih Pak T itu, pelajaran ilmu Aqaid kok ditambah² praktik Fikih segala?” Begitu salah seorang teman berseloroh. Pergunjingan itu terjadi berulang² dan merembet ke topik yang bermacam, mulai dari gaya berbusana Pak T yang kurang rapi, gaya bicaranya, hingga gaya rambutnya yang kurang terawat.

Sejak saat itu, Pak T dijuluki Pak Janazah oleh kami. Julukan itu tentu diucapkan secara diam² tanpa sepengetahuannya. Itu adalah julukan ledekan berkat ulah iseng anak² usia MTs semata, bukan karena kesal apalagi dendam.

Di belakang hari, setelah anak² MTs itu sudah dewasa, mereka sadar bahwa Pak T telah bertindak bijaksana. Dari semua pelajaran selama setahun itu, yang melekat di ingatan mereka adalah Fikih praktis yang diajarkannya di sela² pelajaran Ilmu Aqaid. Semua pelajaran Aqaid tidak sedikit pun melekat, kecuali hafal sifat 50 belaka. Hafalan 50 sifat itu pun bukan karena pelajaran Pak T, melainkan karena menghafal di tempat lain.

Waktu berlalu, zaman berganti. Sebagian murid² Pak T jadi guru seperti dirinya. Termasuk saya.

Saya baru² ini mendapat tugas menggantikan guru Mabādi’ Fiqhiyah yang sedang hamil besar. Materi yang dibahas bertepatan dengan materi rukun-rukun salat. Agar pelajaran itu tidak sekadar teori, maka saya sisipkan pula praktik salat.

Praktik itu merembet ke materi-materi salat lain. Kini, persis seperti Pak T, saya minta mereka menghafal niat dan bacaan salat Janazah, serta mempraktikkannya bersama-sama.

Apakah mereka menggunjingkan saya dan menjuluki saya Pak Janazah? Entahlah, biar itu jadi urusan mereka. Lagipula saya tidak keberatan digunjing atau dijuluki apapun oleh mereka.[]


Keterangan gambar: Bunga Stepanot Ungu atau Mansoa (Pseufocalymma Alliaceum), sedang mekar sempurna di kebun rumah. Musim hujan tampaknya adalah waktu bunga ini bermekaran.